TUGAS MAKALAH KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI PENDIDIKAN

TUGAS MAKALAH

KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI PENDIDIKAN

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 1

  1. Erham Syarif               NIM : 20196013181
  2. Tri Yani Guta              NIM : 20196013182
  3. Weni Andiani             NIM : 20196013515

Mata Kuliah :

Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Pendidikan

Dosen :

Dr. Ir. Helmi Harris, MS

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

2019

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Di dalam sebuah organisasi, peran seorang pemimpin begitu sangat urgensi. Karena pada dasarnya, manajemen atau administrasi organisasi tentunya akan sangat dipengaruhi oleh tindak-tanduknya pemimpin. Terkait kepemimpinan, sesungguhnya baru dapat berjalan jika seorang pemimpin berusaha untuk mempengaruhi orang lain, baik lewat arahan, himbauan, saran, bimbingan, dan sebagainya.

Kepemimpinan yang sangat diharapkan tentunya yang bersifat efektif. Guna mencapainya, maka sudah selayaknya sifat kepemimpinan harus berubah jika terjadi perubahan pada tugas kelompok, komposisi orang dalam kelompok atau pada situasi kelompok.

Selain itu, untuk menjalankan kepemimpinan secara efektif perlu adanya pemahaman terkait Teori-teori Kepemimpinan, Fungsi Kepemimpinan, Pendekatan Kepemimpinan, Kualitas Kepemimpinan dan apa saja yang ada di dalam sebuah teori kepemimpinan. Pendekatan-pendekatan tersebut.

  • Rumusan Masalah
  • Apa Saja Teori-teoring tentang Kepemimpinan ?
  • Apa fungsi Kepemimpinan ?
  • Apa saja Pendekatan Kepemimpinan ?
  • Bagaimana Kualitas Kepemimpinan Pendidikan ?

C. Tujuan

  1. Mahasiswa mampu memahami teori kepemimpinan.                                   
  2. Mahasiswa mampu memahami fungsi kepemimpinan.
  3. Mahasiswa mampu memahami pendekatan kepemimpinan.
  4. Mahasiswa mampu memahami kualitas kepemimpinan pendidikan.
  •  Manfaat

Ada pun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai sarana untuk menambah wawasan berfikir mengenai teori kepemimpinan, fungsi.kepemimpinan, pendekatan kepemimpinan dan kualitas kepemimpinan pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. TEORI- TEORI KEPEMIMPINAN

Menurut Wibowo (2014 : 267),  kepemimpinan memiliki teori-teori seperti di bawah ini :

  1. Teori SifatTrait theory atau teori sifat adalah merupakan teori kepemimpinan yang berpandangan bahwa pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang membedakan dengan yang bukan pemimpin. Dalam kehidupan nyata dapat ditemukan adanya orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang luar biasa. Mereka bisa datang dari pemerintahan, politisi, militer dan pengusaha. Sering dipakai sebagai contoh adalah tokoh Margareth Thatcher, Nelson Mandela, Steve Jobs, Rudolph Giuliani. Mereka menunjukkan percaya diri, berkeinginan kuat, ketegasan, karismatik, antusiastik, dan keberanian.Teori sifat adalah merupakan teori yang berusaha mengidentifikasi karakteristik spesifik (fisik, mental, kepribadian) berkaitan dengan keberhasilan kepemimpinan (Gibson, Ivancevich, Donnelly dan Konopaske, 2012 : 316). Terdapat tiga karakteristik berkaitan dengan efektivitas kepemimpinan adalah :
  2. Personality, kepribadian : tingkat energy, toleransi terhadap stress, percaya diri, kedewasaan emosional, dan integritas.
  3. Motivation, motivasi : orientasi kekuasaan tersosialisasi, kebutuhan kuat untuk berprestasi, memulai diri, membujuk.
  4. Ability, kemampuan : ketrampilan interpersonal, keterampilan kognitif, keterampilan teknis.

Di antara teori sifat antara lain disebutkan sebagai Great person theory  dan Implicit leadership theory.

  1. Great person theory, suatu pandangan bahwa pemimpin mempunyai sifat khusus yang memisahkan mereka dari orang lain dan sifat ini adalah bertanggung jawab atas anggapan mereka tentang posisi kekuasaan dan kewenangan (Greenberg dan Baron, 2003 : 473).

Karakteristik atau sifat pemimpin yang sukses menurut pandangan teori ini adalah ditunjukkan oleh adanya :

  1. Drive, dorongan adalah harapan untuk berprestasi, ambisi, energi tinggi, kegigihan dan inisiatif.
  2. Honesty and integrity, kejujuran dan integritas adalah merupakan bentuk sifat dapat percaya, dapat diandalkan, dan terbuka.
  3. Leadership motivation, motivasi kepemimpinan adalah adanya keinginan keinginan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
  4. Self-confidence, percaya diri adalah kepercayaan terhadap kemampuan sendiri.
  5. Cognitive ability, kemampuan kognitif adalah kecerdasan, kemampuan mengintegrasikan dan menginterpretasikan sejumlah besar informasi.
  6. Knowledge of the business, pengetahuan tentang bisnis adalah pengetahuan tentang industri dan masalah teknis yag relevan.
  7. Creativity, kreativitas adalah kapasitas yang timbul dengan gagasan orisinil.
  8. Fexibility, fleksibilitas adalah kemampuan menyesuaikan dengan kebutuhan pengikut dan situasi.
  • Implicit Leadership Theory, mendasarkan pada gagasan bahwa orang mempunyai keyakinan tentang bagaimana pemimpin harus berperilaku dan apa yang harus mereka lakukan untuk pengikut mereka.

Implicit leadership theory terdiri dari dua konsep yang berkaitan. Bagian penting teori ini menyatakan bahwa setiap orang mempunyai leadership prototype, mempertimbangkan sebelumnya keyakinan tentang penampilan dan perilaku pemimpin yang efektif. Prototipe ini dikembangkan melalui sosialisasi dalam keluarga dan masyarakat, membentuk harapan dan penerimaan orang lain sebagai pemimpin, dan pada gilirannya mempengaruhi keinginan kita sebagai pengikut untuk melayani. Kita lebih berkeinginan mengikuti seseorang untuk memengaruhi kita sebagai pimpinan apabila orang tersebut kelihatan dan bertindak seperti prototype pemimpin kita.

Prototipe kepemimpinan adalah gambaran mental dari sifat dan perilaku yang dipercaya orang dimiliki oleh pemimpin. Orang merasa sebagai pemimpin apabila mereka menunjukkan sifat dan perilaku yang berkaitan dengan (a) kecerdasan, (b) sifat maskulin, (c) dominasi kekuasaan.

Bersamaan dengan prototype effective leader, pengikut cenderung mendistorsi persepsi pengaruh yang dimiliki pemimpin terhadap lingkungan. Keadaan ini dinamakan romance leadership, pengaruhnya terjadi karena dibanyak budaya, orang ingin meyakini bahwa pemimpin membuat perbedaan.

Terdapat dua alasan mengapa orang melambungkan persepsi mereka tentang pengaruh pemimpin terhadap lingkungan : (a) Kepemimpinan adalah cara yang berguna bagi kita untuk menyederhanakan kejadian hidup. Adalah lebih mudah untuk menjelaskan keberhasilan dan kegagalan organisasi dalam bentuk kemampuan pemimpin daripada dengan menganalis aturan yang kompleks dari kekuatan lain. (b) Terdapat kecenderungan kuat dalam budaya Barat untuk percaya bahwa kejadian hidup lebih dibangkitkan oleh orang daripada kekuatan dasar yang tidak dapat dikendalikan.

Stogdill dan Mann (Kreitner dan Kinicki, 2010 : 471) menyatakan adanya karakteristik yang membedakan pimpinan dengan pengikutnya adalah : (a) kecerdasan, (b) dominasi kekuasaan, (c) percaya diri, (d) tingkat energi dan aktivitas, dan (f) pengetahuan yang relevan dengan tugas.

Kouzes dan Posner (Kreitner dan Kinicki, 2010 : 472) mengemukakan empat sifat utama pemimpin : (a) kejujuran, (b) berpandangan ke depan, (c) memberikan insprasi, dan (d) kompeten.

Goleman (Kreitner dan Kinicki, 2010 : 472) berpendapat bahwa kecerdasan emosional berpengaruh pada efektivitas kepemimpinan.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengelola dirinya dan hubungan dengan cara dewasa dan konstruktif. Sifat yang menunjukkan emotional intelligence adalah : (a) self-awareness, kepedulian diri (b) self-management, mengelola diri (c) social awareness, kepedulian social dan (d) relationship management, manajemen hubungan.

Judge (Kreitner dan Kinicki, 2010 : 472) mengemukakan adanya lima sifat kepribadian yang berkaitan dengan efektivitas kepemimpinan : (a) extraversion : ramah tamah, aktif berbicara, suka bergaul, tegas, (b) agreeableness : penuh kepercayaan, sifat baik, kerja sama, lembut hati, (c) conscientiousness : dapat diandalkan , orientasi bertanggung jawab atas prestasi, gigih (d) emotional stability : santai, aman, tidak khawatir, dan (e) openness to experience : cerdik, penuh daya khayal, keinginan tahu, berpikir luas.

Sifat kepemimpinan yang positif menurut Kreitner dan Kinicki (2010  : 474) adalah (a) Task Competence : kecerdasan, pengetahuan, keterampilan menyelesaikan masalah, (b) Interpersonal Competence : kemampuan berkomunikasi, menunjukkan perhatian dan empati, (c) Intuition, (d) Traits of Character : kesadaran, disiplin, alasan moral, integritas, dan kejujuran, (e) Biophysical Traits : kebugaran fisik, ketahanan, dan tingkat energi, dan (f) Personal Traits : percaya diri, keramah tamahan, memonitor diri, extraversion, pengaturan diri, dan efikasi diri.

Killerman (Kreitner dan Kinicki, 2010 : 473) mengingatkan adanya sisi lain yang berupa sifat buruk dari kepemimpinan :

  1. Incompetent, tidak kompeten. Pemimpin dan beberapa pengikut kekurangan keinginan dan/atau keterampilan untuk melanjutkan tindakan yang efektif. Akibatnya mereka tidak dapat menciptakan perubahan.
  2. Rigid, kaku. Pemimpin dan beberapa pengikut adalah kaku dan tidak mengalah. Meskipun mereka mungkin kompeten, mereka tidak dapat atau tidak ingin menerima gagasan baru, informasi baru, atau mengubah waktu.
  3. Intemperate, melewati batas. Pemimpin kekurangan kontrol diri dan bersekongkol dengan pengikut yang tidak ingin dan tidak dapat menghalangi secara efektif.
  4. Callous, tidak mempunyai perasaan. Pemimpin dan beberapa pengikut tidak perhatian dan kasar. Tidak diabaikan adalah kebutuhan, keinginan dan harapan kebanyakan anggota kelompok, terutama bawahan.
  5. Corrupt, korup. Pemimpin dan beberapa pengikut berbohong, menipu atau mencuri. Pada tingkat yang melebihi norma, mereka menempatkan kepentingan pribadi di depan kepentingan umum.
  6. Insular, picik. Pemimpin dan beberapa pengikut tidak memerhatikan kesehatan dan kesejahteraan orang lain, karena menjadi tanggung jawab langsung mereka yang berada di luar kelompok atau organisasi.
  7. Evil, kejahatan. Pemimpin dan beberapa pengikut melakukan kekejaman. Mereka menggunakan kejengkelan sebagai instrumen kekuasaan. Kekerasan dilakukan pada pria, wanita, dan anak-anak, baik bersifat fisik, psikologis atau keduanya.

Namun demikian, pendekatan sifat mempunyai empat kelemahan (Robbins, 2003 : 315) : (a) tidak ada sifat universal yang memprediksi kepemimpinan dalam semua situasi, (b) sifat memprediksi perilaku lebih baik dalam situasi lemah daripada situasi kuat. Situasi kuat adalah dimana terdapat norma perilaku kuat, insentif kuat untuk tipe perilaku spesifik, dan harapan yang jelas seperti perilaku apa yang dihargai dan dihukum, (c) kenyataan adalah tidak jelas dalam memisahkan sebab dari pengaruh, (d) sifat melakukan lebih banyak pekerjaan dalam memprediksi penampilan kepemimpinan daripada apa yang sebenarnya membedakan antara pemimpin yang efektif dan tidak efektif.

  • Teori Perilaku

Behavioral theories atau teori perilaku kepemimpinan tumbuh sebagai hasil dari ketidakpuasan terhadap Trait theories atau teori sifat karena dinilai tidak dapat menjelaskan efektivitas kepemimpinan dan gerakan hubungan antara manusia. Teori ini percaya bahwa perilaku pemimpin secara langsung memengaruhi efektivitas kelompok. Pemimpin dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya untuk memengaruhi orang lain dengan efektif.

  1. Ohio States Studies

Studi ini mengidentifikasi adanya dua dimensi perilaku pemimpin yang dinamakan Initiating Structure dan Consideration. Initiating Structure merupakan tingkatan keadaan di mana seorang pemimpin mungkin mendefinisikan dan menstrukturkan perannya dan bawahannya dalam usaha pencapaian tujuan. Pemimpin dengan Initiating Structure tinggi adalah seseorang yang  yang menugaskan anggota kelompok pada tugas tertentu, mengharapkan pekerja memelihara standar kinerja yang pasti, dan menekankan pencapaian deadline.

Sedangkan consideration dideskripsikan sebagai tingkatan di mana seseorang mungkin mempunyai hubungan kerja yang ditandai oleh saling percaya, menghargai gagasan pekerja, dan menghargai perasaan mereka. Pemimpin dengan consideration tinggi adalah seseorang yang membantu pekerja yang mempunyai masalah personal, bersahabat dan mudah didekati, dan memperlakukan dengan sama semua pekerja.

  • University of Michigan Studies

Menurut pandangan teori ini, perilaku pemimpin juga mempunyai dua dimensi yaitu : employee-oriented dan production-oriented. Pemimpin yang employee-oriented menekankan pada hubungan interpersonal, mereka memerhatikan kepentingan personal dalam kebutuhan pekerja mereka dan menerima perbedaan individual di antara anggota.

Pemimpin dengan production-oriented cenderung menekankan pada aspek teknis atau tugas dari pekerjaan, kepentingan utama mereka adalah dalam penyelesaian tugas kelompok mereka, dan anggota kelompok adalah sarana menuju akhir.

  • The Managerial Grid

Managerial Grid sering juga dinamakan Leadership Grid merupakan jaringan manajerial dengan matriks 9 x 9 menggambarkan 81 gaya kepemimpinan yang berbeda. Managerial Grid berdasarkan gaya “concern for people” dan “concern for production”, yang pada dasarnya mencerminkan dimensi The Ohio State consideration dan initiating structure atau dimensi The Michigan tentang employee-oriented dan production-oriented.

  1. FUNGSI KEPEMIMPINAN

Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu sebagai berikut:

  1. Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
  2. Fungsi sebagai top management, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controlling, dsb.

Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, fungsi kepemimpinan berhubungn langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam, bukan berada di luar situasi yang sedang dihadapi. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian di dalam situasi sosial kelompok atau organisasinya.

Pemimpin yang membuat keputusan dengan memperhatikan situasi sosial kelompok organisasinya, akan dirasakan sebagai keputusan bersama yang menjadi tanggung jawab bersama pula dalam melaksanakannya. Dengan demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsi-fungsi kepemimpinan sejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya.

Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi, yaitu sebagai berikut:

  1. Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinnya.
  2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin.

Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:

  1. Fungsi Instruktif, pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Dalam fungsi ini, orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah. Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaan suatu pekerjaan pada orang-orang yang dipimpin atau diperintahnya. Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan tidak akan ada artinya tanpa kemampuan mewujudkan atau menterjemahkannya menjadi instruksi/perintah yang baik sehingga dapat didengar dan mempunyai landasan operasional yang dimengerti bawahan. Selanjutnya perintah tidak akan ada artinya jika tidak dilaksanakan dengan baik oleh bawahan. Oleh karena itu sejalan dengan pengertian kepemimpinan, intinya adalah kemampuan pimpinan menggerakkan orang lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber dari keputusan yang telah ditetapkan.
  2. Fungsi konsultatif, pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi yang berlangsung dan bersifat dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pelaksanaan fungsi ini sangat tergantung pada pihak pimpinan. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi ini dapat dilakukan secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja. Orang-orang yang menurut penilaian pemimpin mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukannya dalam menetapkan keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feed back) yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan pimpinan akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya kepada bawahan, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif. Fungsi konsultatif ini mengharuskan pimpinan belajar menjadi pendengar yang baik. Fungsi ini pasti dalam pelaksanaannya tidak akan semudah apa yang dikatakan, mengingat pemimpin lebih banyak menjalankan peranan sebagai pihak yang didengarkan, bukan pihak yang mendengarkan. Dalam hal ini, pemimpin harus meyakinkan dirinya bahwa dari siapa pun juga selalu mungkin diperoleh gagasan, inspirasi, aspirasi, saran yang konstruktif bagi pengembangan kepemimpinanya.
  3. Fungsi Partisipasi, pemimpin dalam menjalankan fungsi partisipasi berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing. Fungsi ini tidak sekedar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif, antara pemimpin dengan sesama orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Fungsi partisipasi hanya akan terwujud jika pemimpin mengembangkan komunikasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran pendapat, gagasan dan pandangan dalam memecahkan masalah-masalah. Komunikasi ini, bagi pimpinan akan dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan-keputusan. Sehubungan dengan itu musyawarah menjadi penting, baik yang dilakukan melalui rapat-rapat mapun saling mengunjungi pada setiap kesempatan yang ada. Musyawarah sebagai kesempatan berpartisipasi, harus dilanjutkan berupa partisipasi dalam berbagai kegiatan melaksanakan program sebuah organisasi.
  4. Fungsi Delegasi, pemimpin dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri. Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan limpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilah-milah tugas pokok organisasi dan mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan, pemimpin harus bersedia dapat mempercayai orang-orang lain, sesuai dengan posisi/jabatannya, apabila diberi pelimpahan wewenang. Sedang penerima delegasi harus mampu memelihara kepercayaan itu, dengan melaksanakannya secara bertanggung jawab. Fungsi pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena kemajuan dan perkembangan kelompoknya tidak mungkin diwujudkannya sendiri. Pemimpin seorang diri tidak akan dapat berbuat banyak dan bahkan mungkin tidak ada artinya sama sekali. Oleh karena itu sebagian wewenangnya perlu didelegasikan pada para bawahannya, agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
  5. Fungsi Pengendalian, disini pemimpin berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan. Fungsi pengendalian merupakan fungsi kontrol. Fungsi ini cenderung bersifat satu arah, meskipun tidak mustahil untuk dilakukan dengan cara komunikasi secara dua arah. Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses atau efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam kegiatan tersebut pemimpin harus aktif, namun tidak mustahil untuk dilakukan dengan mengikutsertakan anggota kelompok/organisasinya.
  • Pendekatan Kepemimpinan
  • Pendekatan pada Sifat Kepemimpinan

Pendekatan sifat merupakan salah satu pendekatan lama dalam mempelajari tentang kepemimpinan. Dalam bukunya pak Wukir[1], disebutkan bahwa pendekatan ini berkembang dari teori “Great Man” yang merupakan teori awal mengenai sifat-sifat pemimpin di zaman Yunani kuno dan Roma.

Teori ini menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan diwariskan, terutama oleh orang-orang dari kelas atas. Orang-orang pada zaman itu percaya bahwa pemimpin itu dilahirkan, tidak diciptakan (leaders are born, not made).

Ada pula yang berpendapat bahwa seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.

Pendekatan sifat menekankan kualitas pribadi pemimpin dan fokus terhadap atribut yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. Karena bagaimanapun, keberhasilan suatu organisasi tergantung dari bagaimana sifat pemimpinnya

Masih dalam buku yang sama, ada kutipan dari seorang tokoh bernama Stogdill (1948)[2] :

Stogdill melakukan review terhadap literature sifat-sifat kepemimpinan menunjukkan adanya asosiasi dengan faktor-faktor yang olehnya diklasifikasikan ke dalam kapasitas (kecerdasan, kewaspadaan, fasilitas verbal, originalitas, keputusan), prestasi (beasiswa, pengetahuan, prestasi atletik), tanggung jawab (kebergantungan, inisiatif, ketekunan, sikap agresif, kepercayaan diri, keinginan untuk unggul) dan status (posisi sosio-ekonomi, popularitas). Namun, premis dasar dari pendekatan sifat-sifat yaitu “seseorang harus mempunyai seperangkat sifat-sifat khusus untuk diidentifikasikan sebagai pemimpin” tidak dapat dibuktikan.

Pada review kedua, Stogdill mengambil faktor penting lainnya untuk dipertimbangkan yaitu situasi (level mental, status, keahlian, kebutuhan dan ketertarikan pengikut, tujuan yang akan dicapai, dll). Dari sini, ia menemukan hubungan yang lebih kuat lagi yang meningkatkan kemungkinan menjadi pemimpin yang efektif.[3]

Selama ini, berbagai penelitian telah dilakukan namun para peneliti hingga sekarang belum menemukan sifat yang konsisten membedakan pemimpin dengan bukan pemimpin. Selain itu, pada dasarnya pemimpin yang efektif tidak didasarkan pada sifat manusia tertentu tetapi terletak seberapa jauh sifat seorang pemimpin dapat mengatasi keadaan yang dihadapinya.

  • Pendekatan Tingkah Laku pada Kepemimpinan

Dari akhir tahun 1940-an, fokus penelitian mulai berubah menjadi tingkah laku kepemimpinan. Para peneliti tertarik untuk mengidentifikasi perilaku pemimpin yang meningkatkan keefektifan bawahannya. Dengan adanya perubahan fokus penelitian ini, opini awal mengenai pemimpi dengan kualitas yang baik harus dipilih berubah menjadi opini bahwa dengan mengetahui perilaku kepemimpinan yang efektif, seorang pemimpin dapat dilatih agar sukses (Bryman, 1992).[4]

Perilaku kepemimpinan merupakan usaha mempengaruhi yang teramati secara empiris yang bervariasi tergantung situasi, dimana gaya kepemimpinan menunjukkan jangka panjang, pola perilaku situasional invariant (Staehle, 1999).[5]

Terkadang, pendekatan perilaku juga disamakan artinya dengan pendekatan gaya. Sikap dan gaya kepemimpinan itu menurut Ngalim Purwanto akan tampak dalam kegiatannya sehari-hari, seperti cara member perintah, membagi tugas dan wewenangnya, dan lain sebagainya.[6]

 Adapun beberapa gaya kepemimpinan, diantaranya:[7]

  1. Kepemimpinan Otoriter

Yakni jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pemimpin atau kalau pemimpin itu menganut system sentralisasi wewenang. Orientasinya difokuskan hanya untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan perasaan dan kesejahteraan bawahan.

Selain itu menurut Tannenbaum dan Schmid, kepemimpinan ini orientasinya juga hanya diarahkan kepada tugas dan tercapainya tujuan organisasi atau lembaga.[8]

  • Kepemimpinan Partisipatif

Yakni apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan. Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pimpinan akan selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.

  • Kepemimpinan Delegatif

Yakni apabila seorang pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa. Dalam hal ini, bawahan dituntut memiliki kematangan dalam pekerjaan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan).

Perilaku hubungan didefinisikan sebagai perilaku pemimpin yang melakukan komunikasi dua arah atau banyak arah. Situasi yang dimaksud dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Beberapa faktor dalam situasi yang mempengaruhi efektivitas pemimpin adalah: pemimpin, pengikut, rekan di posisi kunci, organisasi, tujuan jabatan, dan waktu pengambilan keputusan.[9]

Menurut Blake dan Mouton, ada lima perilaku kepemimpinan:[10]

  1. Impoverished Management
  2. Country Club Management
  3. Task or Authoritarian Management
  4. Middle-Road Managemet
  5. Team or Democratic Managemet
  • Pendekatan Kontingensi pada Kepemimpinan

Pendekatan kontingensi merupakan sebuah cara berfikir yang komparatif (berdasarkan perbandingan) baru diantara teori-teori manajemen yang telah dikenal. Manajemen kontingensi berupaya untuk melangkah, keluar dari prinsip-prinsip manajemen yang dapat diterapkan dan menuju kondisi situasional.[11]

Apabila dirumuskan secara formal, pendekatan kontingensi adalah merupakan suatu upaya untuk menentukan melalui kegiatan riset, praktik, dan teknik manajerial mana yang paling cocok dan tepat dalam situasi tertentu. Maka menurut pendekatan kontingensi, situasi-situasi yang berbeda mengharuskan adanya reaksi manajerial yang berbeda pula.

Salah satu faktor yang menunjukkan adanya perbedaan situasi organisasi adalah tingkat kematangan dan perilaku kelompok atau bawahan.

Ada 3 macam pendekatan kontingensi:

  1. Model kepemimpinan kontingensi dari Friedler

Disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektivitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan dan kesesuaian situasi yang dihadapinya.

  • Model tiga dimensi kepemimpinan dari William J. Reddin[12]

Model ini menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan yaitu:

  1. Gaya dasar (pemisah, pengabdi, penghubung, terpadu)
  2. Gaya efektif dalam satu kesatuan (birokrat, bijaksana, pengembang, eksekutif)
  3. Gaya tidak efektif (pelan, otokrat, penganjur, kompromis)
  4. Model kontinum kepemimpinan dari Vroom dan Yetton[13]

Ada dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan, yakni:

  1. Tingkat keefektifan teknis diantara para bawahan
  2. Tingkat motivasi serta dukungan para bawahan
  • Pendekatan Tingkah Laku dari Kouzes

Kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam organisasi, karena menyangkut hubungan antara pemimpin dengan anggota.

Dalam pendekatan tingkah laku kepemimpinan dari Kouzes adalah ia meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa, hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima.

Kouzes mengemukakan bahwa, kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total” ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu kepemimpinan”. Berdasarkan penelitiannya, ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu;

  1. pemimpin yang menantang proses
  2. memberikan inspirasi wawasan bersama
  3. memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi
  4. mampu menjadi penunjuk jalan
  5. memotivasi bawahan.
  • Karakteristik Pribadi dari Karyawan

Bila semua karyawan diperusahaan mampu bekerja dengan etos kerja terbaik, maka budaya perusahaan akan bertransformasi menjadi budaya high trust. Budaya high trust akan menghasilkan kredibilitas yang menciptakan rasa percaya setiap stakeholder kepada reputasi perusahaan. Untuk itu, perusahaan harus memiliki tindakan nyata untuk menanam etos kerja yang berkualitas di dalam DNA organisasi. Penanaman ini harus dimulai dari mind set setiap karyawan dan pimpinan perusahaan.

Pada umumnya, karyawan – karyawan yang beretos kerja terbaik itu akan berperilaku atau pun berciri-ciri seperti.

  1. Mereka akan bekerja untuk membangun reputasi dan kredibilitas dirinya, agar dirinya dihargai perusahaan. Mereka sadar bahwa prestasi dan karir kerja mereka hanya akan berjalan baik, bila mereka mampu berdedikasi total kepada pekerjaan mereka.
  2. Mereka sangat loyal kepada pimpinan dan perusahaan. Mereka juga tidak pernah hitung-hitungan jam kerja. Apa pun kejadiannya, mereka akan mengutamakan tanggung jawab pekerjaannya secara maksimal.
  3. Mereka bergabung ke perusahaan dengan membawa misi dan visi pribadi mereka. Yang pasti, mereka akan menggunakan perusahaan sebagai kendaraan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, baik itu dari sisi finansial, maupun dari sisi status sosial mereka.
  4. Mereka selalu fokus dan memiliki Komitmen tinggi untuk menjalankan semua rencana kerja perusahaan secara total dan berkualitas. Mereka akan mendedikasikan dirinya untuk bekerja keras mengejar target-target yang diberikan perusahaan.
  5. Demi untuk keberhasilan perusahaan, mereka selalu bekerja dengan cara melakukan kolaborasi, koordinasi, komunikasi dengan atasan dan bawahan mereka.
  • Kualitas Kepemimpinan Pendidikan

Setiap jabatan menggambarkan status yang diemban pemegangnya. Status itu, pada gilirannya, menunjukkan peran yang harus dilakukan pejabatnya. Peran utama yang harus diemban oleh kepala sekolah yang membedakannya dari jabatan-jabatan kepala lainnya adalah peran sebagai pemimpin pendidikan. Kepemimpinan pendidikan mengacu pada kualitas tertentu yang harus dimiliki kepala sekolah untuk dapat mengemban tanggung jawabnya secara berhasil. Kualitas-kualitas yang dimilki seperti berikut. Pertama, kepala sekolah harus tahu persis apa yang ingin dicapainya (visi) dan bagaimana mencapainya (misi). Kedua, kepala sekolah harus memiliki sejumlah kompetensi untuk melaksanakan misi guna mewujudkan visi itu. Dan ketiga, kepala sekolah harus memiliki karakter tertentu yang menunjukkan integritasnya.

Ciri-ciri yang menggambarkan integritas kepala sekolah: dapat dipercaya, konsisten, komitmen, bertanggung jawab, dan secara emosional terkendali.

  1. Dapat dipercaya (amanah).

Seorang kepala sekolah haruslah orang yang dapat dipercaya. Kepercayaan itu diperolehnya secara sukarela, tidak dengan meminta apalagi memaksa orang lain untuk mempercayainya. Kepala sekolah tidak perlu berpidato di depan para guru, murid, atau orang tua murid bahwa ia adalah orang yang dapat dipercaya. Perilakunya sehari-hari telah menyampaikan informasi yang akurat tentang keamanahan itu. Kepala sekolah yang dapat dipercaya memiliki kejujuran yang tidak diragukan.

  • Konsisten.

Kepala sekolah yang konsisten dapat diandalkan. Kepala sekolah seperti ini tidak mencla-mencle, perbuatannya taat asas dengan perkataannya. Kepala sekolah seperti ini tidak bermuka banyak. Ia mengoperasionalkan kebijakan pendidikan secara tegas dan bijaksana, dan tidak perlu menjadi anggota bunglon sosial untuk mengamankan kebijakan itu.

  • Komitmen.

Kepala sekolah yang komitmen, terikat secara emosional dan intelektual untuk mengabdikan diri sepenuhnya bagi kepentingan anak didiknya. Kepala sekolah seperti ini tahu persis bahwa tanggung jawabnya tidak mungkin dapat dipikulnya setengah-setengah. Pekerjaan sebagai kepala sekolah baginya bukan pekerjaan paruh waktu. Ia tidak boleh merangkap-rangkap pekerjaannya dengan pekerjaan lain, atau menjadi kepala sekolah di lebih dari satu tempat.

  • Bertanggung jawab.

Kepala sekolah memiliki kewajiban sosial, hukum, dan moral dalam menjalankan perannya. Kepala sekolah yang berintegritas tidak akan menghindar apalagi lari dari tanggung jawabnya. Kepala sekolah yang mengutamakan kepentingan anak didiknya sadar betul bahwa secara sosial, hukum, dan moral ia harus berperilaku yang dapat dipertanggungjawabkan.

  • Secara emosional terkendali.

Kepala sekolah yang berkecerdasan emosi tinggi sangat menyadari pengaruh emosinya dan emosi orang lain terhadap proses pemikirannya dan interaksinya terhadap orang lain. Kepala sekolah seperti ini mampu mengaitkan emosi dengan penalaran, menggunakan emosi untuk memfasilitasi penalaran dan secara cerdas menalarkan emosi. Dengan kata lain, ia menyadari bahwa kemampuan kognitif seseorang diperkaya dengan emosi dan perlunya emosi dikelola secara kognitif

BAB III

PENUTUP

Dari apa yang telah diuraikan tentang teori model-model kepemimpinan, membuat kita semakin jelas bahwa dari berbagai pendekatan-pendekatan muncul berbagai macam gaya yang dihasilkan dari berbagai penelitian atau observasi yang dilakukan di zamannya.

Hal ini membuat kita mudah untuk mengklasifikasikan berbagai tipe kepemimpinan dengan berbagai perilaku pemimpin yang terjadi di lapangan. Dan tentunya, hal yang paling penting adalah bagaimana mensinergikan berbagai pendekatan kepemimpinan tersebut, baik sifat, perilaku maupun kontingensi untuk memajukan sebuah organisasi menjadi lebih baik lagi.

Teori kepemimpinan memang akan selalu mengalami perkembangan dan perubahan agar sesuai dengan zamannya. Untuk menghadapi itu semua tentu sebagai seorang pemimpin harus mampu menempatkan dirinya sesuai dengan porsinya, terus mengembangkan diri.

Dan bagi para karyawan atau pegawai juga harus mengetahui dan memahami bagaimana karakteristik karyawan yang baik sehingga antara pemimpin dan karyawan terjadi sebuah sinergi dalam menajalankan sebuah organisasi, terutama untuk menghadapi era masa depan yang tentunya akan semakin kompleks lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Greenberg, j. A. (2003). Behavior in Organization International Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Hasibuan, M. S. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kreitner, K. (2010). Organizational Behavior. New York: McGraw-Hill.

Purwanto, N. (2008). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Robbin, S. P. (2003). Organization Behavior, Concept Controversies, Application. Jakarta: Prehenlindo.

Wibowo. (2014). Perilaku dalam Organisai. Jakarta: Rajawali Pers.

Wukir. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Organisai Sekolah. Yogyakarta: Multi Presindo.

NOTULEN DISKUSI

Tanggal Diskusi                      : 12 Oktober 2019

Tempat Diskusi                       : Universitas PGRI Palembang

Waktu Diskusi                                    : 17.30 – 18.50 WIB

Tema Diskusi                          : Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Pendidikan

Moderator                               : Erham Syarif

Panelis/Pembicara                   : Tri Yani Guta

Peserta                                     : Mahasiswa Manajemen Pendidikan PGRI Palembang

Uraian Pelaksanaan Diskusi    :

  1. Diskusi dibuka dan dipimpin oleh moderator (Erham Syarif).
  2. Setelah diskusi dibuka, moderator mengenalkan anggota kelompok satu persatu.
  3. Kemudian dilanjutkan oleh narasumber yang menyampaikan materi diskusi.
  4. Ketika narasumber selesai menyampaikan materi, moderator membuka kesempatan kepada para peserta diskusi untuk mengajukan pertanyaan. Setiap kelompok mengajukan pertanyaan kepada kelompok penyaji dan terjadi interaksi yang baik saat sesi tanya jawab. Secara umum, diskusi berjalan dengan lancer selama 45 menit. Para peserta mengikuti diskusi yang berlangsung dengan tenang, serius, dan antusias. Jika melihat jalannya diskusi, tampaknya para peserta tertarik dengan tema diskusi.
  5. Setelah menjawab semua pertanyaan dari peserta diskusi, moderator menutup diskusi.

Pertanyaan 1 dari peserta (Murniati) : Mengapa orang sering menghubungkan persepsi kepemimpinan dengan lingkungan ?

Pertanyaan 2 dari peserta (Lindawati) : Bagamainakah karakteristik ideal untuk seorang pemimpin yang berinkreditas ?

Jawaban Pertanyaan 1  diambil dari tanggapan peserta diskusi (Muslim, Sumardi, dan Ali Maksum) : Karena factor lingkungan dapat mempengaruhi karakter seorang pemimpin. Sebagai contoh apabila seorang pemimpin tinggal dilingkungan yang agamis, maka pemimpin tersebut akan cenderung memiliki sifat agamis begitupula sebaliknya, pendapat kedua mengatakan bahwa lingkungan seorang pemimpin menentukan anggapan orang lain terhadap karakteristiknya, sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa seorang pemimpinlah yang seharusnya menentukan seperti apa lingkungan yang akan dia ciptakan dimasa kepimimpinannya.

Jawaban Pertanyaan 2 diambil dari anggota kelompok (Weni Andiani) : sebenarnya ada banyak teori yang menyebutkan bagaimana karakteristik ideal untuk seorang pemimpin. Namun dalam pertanyaan ini, penjawab menyebutkan Great Person Theory dan Implicit Leadership Theory dari (Greenbergdan Baron, 2003 : 473)

  1. Great Person Theory, suatu pandangan bahwa pemimpin mempunyai sifat khusus yang memisahkan mereka dari orang lain dan sifat ini adalah bertanggung jawab atas anggapan mereka tentang posisi kekuasaan dan kewenangan. Karakteristik atau sifat pemimpin yang sukses menurut pandangan teori ini adalah ditunjukan oleh adanya :
  2. Dorongan (Drive), adalah harapan untuk berprestasi,, ambisi, energi tinggi, kegigihan dan inisiatif.
  3. Kejujuran dan intregritas (Honesty and Intregrity), adalah merupakan bentuk sifat dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan terbuka.
  4. Motivasi kepemimpinan (Leadership motivation), adalah adanya keinginan keinginan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
  5. Percaya diri (Self confidence) adalah kepercayaan terhadap kemampuan sendiri.
  6. Kemampuan kognitif (Cognitive ability) adalah kecerdasan, kemampuan mengintegrasikan dan menginterprestasikan sejumlah besar informasi.
  7. Pengetahuan tentang bisnis (Knowledge of the business), adalah pengetahuan tentang industry dan masalah teknis yang relevan.
  8. Kreativitas (Creativity) adalah kapasitas yang timbul dengan gagasan orisinil.
  9. Fleksibiltas (Flexibility) adalah kemampuan menyesuaikan dengan kebutuhan pengikut dan situasi.
  10. Implicit Leadership Theory, mendasarkan pada gagasan bahwa orang mempunyai keyakinan tentang bagaimanan pemimpin harus berperilaku dan apa yang harus mereka lakukan untuk pengikut mereka.

Kesimpulan : Dari apa yang telah diuraikan tentang teori model-model kepemimpinan, kita dapat lebih muda mengklafikasikan berbagai tipe kepemimpinan dengan berbgaia perilaku pemimpin yang terjadi di lapangan. Dan tentunya, hal yang paling penting adalah bagaimana mensinergikan berbagai pendekatan kepemimpinan tersebut, baik sifat, perilaku maupun kontogesi untuk menjadikan sebuah organisasi lebih baik lagi.

Moderator                                                                                                       Notulis

Erham Syarif                                                                                               Weni Andiani


[1] Wukir, Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Organisasi Sekolah, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), hal. 139

[2] Ibid.

[3] Ibid, hal.140

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 32

[7] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002), hal. 172

[8] Ngalim Purwanto, loc.cit

[9] Ibid, hal. 174

[10] Ibid, hal. 37-38

[11] http://arimahfuddin.blogspot.com/2013/08/makalah-pendekatan-kontingensi.html (Minggu, 06/10/2019, 20.00 WIB

[12] Ngalim Purwanto, op.cit. hal. 41

[13] Ngalim Purwanto, op.cit. hal. 44

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai