PENGERTIAN PENGETAHUAN MISTIS, CONTOH OBJEK PENGETAHUAN MISTIS DAN PENGETAHUAN MISTIS DAN TERKAIT TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PENGERTIAN PENGETAHUAN MISTIS, CONTOH OBJEK PENGETAHUAN MISTIS DAN PENGETAHUAN MISTIS DAN TERKAIT TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN

Oleh :

KELOMPOK 11

 1. NENI PUSPITA SARI            NIM : 20196013172

2. SUMARDI                                           NIM : 20196013170

 3. MITHA HARDIANTY            NIM : 20196013171

Tugas Makalah Mata Kuliah Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu : Dr.Achmad Wahidi, M.Pd

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2020

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filsafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan.

Dalam filsafat itu sendiri kita perlu mengenal tentang pengetahuan mistik. Mistik adalah sebuah pengetahuan yang tidak rasional meskipun pada kenyataannya dapat menimbulkan objek yang empiris, dimana mistik ini didalam kehidupan masyarakat sangat melekat sekali terutama pada masyarakat yang masih primitif, yang kini juga banyak di anut oleh sebagian besar masyarakat modern. Hingga kehidupan mistik membudaya baik kalangan keagamaan maupun umum, yang akhirnya membentuklah sebuah keyakinan adanya kekuatan yang ada pada diri luar manusia. Dengan sifat keingintahuan itulah sehingga para kalangan yang ahli membentuk teknik-teknik tertentu sebagai alat terwujudnya pencapaian sesuatu.

Dikalangan masyarakat, mistik dijadikan media untuk menyelesaikan masalah karena didalam mistik itu sendiri ada muatan-muatan kekuatan (magis) yang ampuh untuk dijadikan jalan keluar. Kadang kala ketentraman jiwa tidak bisa hanya dicapai dengan materi saja, karena banyaknya problem yang dihadapi manusia, sehingga menyebabkan manusia mempunyai Qolbu yang tidak sehat, dengan jalan mistiklah manusia dapat menemukan ketentraman didalam hidupnya melalui pendekatan kepada Tuhan. Bagaimanapun mistik tidak lepas dari nilai karena pada kenyataannya mistik itu sendiri dapat digunakan dengan hal-hal yang menyimpang dari agama dan norma-norma sosial, untuk mengetahui mistik itu menyimpang atau tidak kita dapat membedakan mistik dalam magis putih dan hitam.

Berangkat dari hal tersebut diatas maka dibuatlah tugas mengenai “Pengetahuan Mistik, contoh objek pengetahuan mistis dan pengetahuan mistis dan terkait teori manajemen pendidikan” ini untuk membahas lebih dalam mengenai mistik itu sendiri. 

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari pengetahuan mistis ?

2. Apa saja contoh objek dari pengetahuan mistis ?

3. Apa itu pengertian mistis dan kaitannya dengan teori manajemen pendidikan ?

1.3. Tujuan

1. untuk mengetahui apa itu pengertian dari pengetahuan mistis.

2. untuk mendeskripsikan dan memberi contoh objek dari pengetahuan mistis.

3. untuk mengetahui apa itu pengetahuan mistis dan kaitannya dengan teori manajemen pendidikan.

1.4. Manfaat

            Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai sarana untuk menambah wawasan berpikir mengenai pengertian pengetahuan mistis, contoh objek dari pengetahuan mistis, dan pengertian mistis dan kaitan nya dengan teori manajemen pendidikan.

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengetahuan Mistis

2.1.1 Pengetian Pengetahuan Mistis

Pengetahuan mistik  adalah pengetahuan supra-rasional tentang objek yang supra-rasional. Banyak pandangan yang telah membawa perubahan besar pada pola pikir manusia dan masyarakat modern, yang mendasarkan diri pada filsafat rasionalisme dan empirisme, sehingga realitas yang dianggap nyata adalah yang empiris, atau yang bisa dipikirkan secara rasional. Di luar semua itu, dipandang dan diyakini sebagai sesuatu yang tidak nyata. Inilah yang disebut dengan aliran intuisionisme. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diprediksi. Intuisi inilah yang menjadi pengetahuan mistik.

Namun seiring perkembangan zaman, pengetahuan mistik menjadi terkesampingkan, akibat dari positivisme dan kemajuan ilmu pengetahuan maka comte pun menganjurkan pola hidup sekuler dengan cara meninggalkan hal-hal yang berbau mistik ataupun agama karena merupakan anakronisme yang harus ditinggalkan. Dan orang yang masih berpegang pada agama merupakan ciri orang primitif. Oleh karena itu, dalam makalah ini  penulis akan menguraikan tentang hakikat pengetahuan mistik ( metafisika ), struktur pengetahuan mistik ( metafisika ), aliran-aliran dari pengetahuan mistik ( metafisika ) , objek pengetahuan mistik,  dankegunaan pengetahuan mistik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mistik mempunyai arti:

a. Subsistem yang ada dihampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf, suluk.

b. Hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa.

Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinning), tersembunyi (verborgen), gelap (donker), atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

2.1.2 Ajaran dan Sumber Mistik

          1. Subyektif

Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obyektif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya. Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap memiliki keistimewaan pribadi yang disebut kharisma. Anggapan adanya keistimewaan ini dapat disebabkan oleh:

1. Pernah melakukan kegiatan yang istimewa.

2. Pernah mengatasi kesulitan, penderitaan, bencana atau bahaya yang mengancam dirinya apalagi masyarakat umum.

3. Masih keturunan atau ada hubungan darah, bekas murid atau kawan dengan atau dari orang yang memiliki kharisma.

4. Pernah meramalkan dengan tepat suatu kejadian besar atau penting.

Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yang diajarkannya itu biasanya melalui petualangan batin, pengasingan diri, bertapa, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi tokoh itu sendiri dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain.

Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah di antara kita ada yang menyebutnya paham, ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer).

Mengingat pengajarannya tidak mungkin dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham mistik mudah memunculkan cabang baru menjadi aliran-aliran baru sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau juga sebaliknya mudah timbul penggabungan atau percampuran ajaran paham-paham yang telah ada sebelumnya. Karena serba mistik maka paham mistik atau kelompok penganut paham mistik tidak terlalu sulit digunakan oleh orang-orang yang ada tujuan tertentu dan yang perlu dirahasiakan karena menyalahi atau bertentangan dengan opini umum atau hukum yang berlaku sebagai tempat sembunyi.

2.2. Ontologi Pengetahuan Mistik

2.2.1. Hakikat Pengetahuan Mistik ( Metafisika )

Pengetahuan Mistik atau sering disebut dengan pengetahuan metafisika. Metafisika berasal dari akar kata ‘meta’ dan ‘fisika’. Meta berarti ‘sesudah’,’selain’,atau ‘di balik’. Fisika yang berarti ‘nyata’, atau ‘alam fisik’. Metafisika berarti ‘sesudah,’di balik yang nyata’. Dengan kata lain, metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan ‘hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang nyata’.

Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang hal-hal yang sangat  mendasar yang berada di luar pengalaman manusia. Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh Metafisika ( Mistik ) adalah ilmu yang memikirkan hakikat di balik alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindra.

Pengertian secara umum, Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional. Pengertian mistik bila dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan ( ajaran atau keyakinan ) tentang Tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio ( A. S. Hornby, A Leaner’s Dictionary of Current English, 1957 : 828 ).

Metafisika mengkaji segala sesuatu secara komprehensif. Menurut Asmoro Achmadi (2005;14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat “keluarbiasaan” ( beyond nature ), yang berada di luar pengalaman manusia (immediate experience). Menurut Ahmadi , metafisika mengkaji sesuatu yang berada di luar hal-hal yang berlaku pada umumnya( keluarbiasaan ), atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang berada di luar kebiasaan atau diluar pengalaman manusia.Aristoteles menyinggung masalah metafisika dalam karyanya tentang ‘filsafat pertama’, yang berisi hal-hal yang bersifat ghaib. Menurutnya, ilmu metafisika termasuk cabang filsafat teoretis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu, sehingga ilmu metafisika menjadi inti filsafat.

Pengetahuan metafisika ( mistik ) adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.Tafsiran paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat wujud-wujud bersifat ghaib ( supranatural ) dan wujud ini lebih kuasa dibandingkan dengan alam nyata.

              Animisme, mengembangkan metafisika bahwa alam dan manusia dikuasai oleh wujud-wujud yang bersifat ghaib dan magis. misalnya  (roh-roh yang bersifat ghaib terdapat pada benda, seperti batu, pohon) merupakan contoh kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme.

              Naturalisme yaitu paham yang menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supernatural karena naturalism hanya menerima pandangan yang menyatakan bahwa ada itu semata-mata realitas alam. Materialisme yang merupakan turunan naturalisme merupakan paham yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh yang kekuatan ghaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri.

2.2.2 Struktur Pengetahuan Mistik ( Metafisika )

Dilihat dari segi sifatnya mistik dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Mistik Biasa, jika dalam islam, mistik biasa adalah tasawuf, karena tanpa mengandung kekuatan tertentu.

b. Mistik Magis, adalah sesuatu yang mengandung kekuatan tertentu. Magis ini dibagi dua, yakni :

1. Magis Putih, selalu dekat hubungannya dengan tuhan, sehingga dukungan tuhan yang menjadi penentu. Mistik magis putih bila dicontohkan dalam Islam seperti mukjizat, karamah, ilmu hikmah.

2. Magis Hitam, erat hubungannya dengan kekuatan setan dan roh jahat. Menurut Ibnu Khaldun penganut magis hitam memiliki kekuatan di atas rata-rata, kekuatan mereka yang menjadikan mereka mampu melihat hal-hal ghaib dengan dukungan setan dan roh jahat. Contohnya seperti santet dan sejenisnya yang menginduk ke sihir.

Jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga, diantaranya :

Pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Itu disebabkan jiwa mereka telah menyatu dengan jiwa setan atau roh jahat. Para filosof menyebut mereka ini sebagai ahli sihir dan kekuatan mereka luar biasa.

Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada di dalamnya, baik benda angkasa atau benda yang ada di bumi. Inilah yang disebut jimat-jimat yang biasa disimbolkan dalam bentuk benda-benda material atau rajah.

Ketiga,mereka yang melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut kelompok pesulap ( sya’badzah ).

2.2.3. Aliran-aliran dalam Metafisika Ontologi (pengetahuan mistik)

Ontology atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan-persoalan, seperti hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan, dan lainnya.

Di dalam pemahaman atau pemikiran ontology dapat ditemukan pandangan- pandangan pokok pemikiran : monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisisme.

a. Aliran Monoisme

Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan block universe. Paham monoisme kemudian terbagi ke dalam dua aliran :

1.  Aliran materialisme

Menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya, bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu.

2. Aliran idealisme

Menurut idealisme, gambaran yang benar yang tepat sesuai dengan kenyataan sebagaimana diteorikan oleh realisme merupakan sesuatu yang mustahil, sesuatu yang tidak mungkin. Karena itu, idealisme mentakrif hakikat ilmu sebagai hasil dari proses mental yang niscaya bersifat subyektif. Pengetahuan bagi penganut idealisme bukan hanya merupakan gambaran subyektif, bukan gambaran obyektif tentang kenyataan. Dengan demikian, pengetahuan menurut teori idealistik ini tidak memberikan gambaran yang tepat tentang kenyataan di luar alam pikiran manusia.

Dinamakan juga spiritualisme. Idealisme berarti serba cita sedang spiritualisme berarti serba ruh, idealism diambil dari kata ‘idea’ yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam ini semua berasal dari ruh, yaitu sesuatu yang tidak terbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruhani.

Menurut Rapar (2005:45), aliran materialisme menolak hal-hal yang tidak terlihat. Bagi materialisme, ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-mata bersifat material atau sama sekali bergantung pada material. Dengan demikian, bagi materialisme, relaitas yang sesungguhnya adalah alam kebendaan, sesuatu yang riil atau nyata.

Beberapa filosof atau tokoh yang tergolong pada aliran materialisme adalah Thales, Anaximenes, dan Anaximandris. Tokoh atau para filosof yang hidup ratusan tahun sebelum masehi. Thales mengajarkan bahwa ‘asas permulaan ( arche ) dari segala sesuatu itu adalah satu, yaitu air. Air adalah pangkal pokok ( asas ) dari dasar ( prinsip ) segala-galanya. Semua benda terjadi dari air dan semuanya akan kembali kepada air pula. Berdasarkan rasio dan pengalaman yang dilihat nya sehari-hari , Thales mrnyimpulkan tentang asal terbuktinya alam ini. Sebagai orang pesisir, Thales dapat melihat setiap hari brtapa air laut menjadi sumber hidup. Begitu juga dengan bangsa Mesir, betapa nasib rakyat Mesir sangat bergantung pada air sungai Nil. Air sungai nil itulah yang menyuburkan tanah sepanjang yang dilaluinnya dan dimanfaatkan oleh manusia. Jika tidak ada air sungai Nil itu, negeri Mesir kembali menjadi padang pasir. Demikianlah, air laut, air sungai menyebarkan bibit kehidupan seluruh dunia. Semuanya itu air ! semuanya bersumber dari asal yang satu, air. Dengan demikian, semuanya itu satu.

Selain Thales, muncul Anaximandros (640-540 SM), yang berpandangan tentang asas pemula dari segala sesuatu adalah hanya satu, yaitu yang tidak terbatas (to aperion). anaximandros tidak mengakui pandangan Thales yang mengemukakan bahwa asas pertama adalah air. Sebab air tidak mungkin berada dimana-mana, di tempat kering, tempat basah, tinggi, rendah, termasuk juga api. Air adalah hal yang terbatas. Oleh karena itu, anasir utama yang menyusun alam itu adalah yang tidak terbatas.

Filosof lain adalah Anaximenes (538-480) yang termasuk kepada aliran materialisme. Anaximenes memberikan pandangan bahwa asas pemula seluruh alam semesta dengan segala isinya adalah hawa atau udara. Bukanlah udara itu meliputi seluruh jagat raya? Begitu Anaximenes beralasan.

Aliran idealisme atau aliran spiritualisme adalah lawan dari aliran materialisme. Menurut aliran idealisme semuanya serba cita (ideal) atau roh ( spiritual ). Aliran ini menganggap bahwa hakikat segala sesuatu yang ada berasal dari roh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruang. Menurut anggapan aliran ini, materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan roh tersebut. Roh adalah sebagai hakikat yang sebenarnya, sehingga materi hanyalah bayangan atau penjelmaan saja.

Aliran idealisme tumbuh dan berkembang sejak masanya Plato. Plato yang terkenal dengan pandangannya mengenai ide. Ajaran ide merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Ide bagi Plato tidak sama dengan pengertian ide yang dipahami oleh orang pada saat ini. Dasar pokok pemahaman ide itu dikemukakannya sebagai teori logika., kemudian meluas menjadi pandangan hidup, selanjutnya menjadi dasar umum bagi ilmu dan politik social dan bahkan mencakup pandangan agama. Pembahasan lengkap mengenai ketiga aspek ini ( teori logika, dasar umum bagi ilmu dan politik social, dan pandangan agama) telah diulas pada bab sebelumnya.

b. Aliran Dualisme

adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan menyelaraskan kedua aliran tersebut.

Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba dua, yaitu antara materi dan bentuk. Menurut paham dualisme , di dalam dunia ini selalu dihadapkan kepada dua pengertian, yaitu ‘yang ada sebagi potensi’ dan ‘yang ada secara terwujud’. Keduanya adalah sebutan yang melambangkan materi (hule) dan bentuk(eidos).

Pengertian materi dalam pandangan aliran dualisme ini tidak sama dengan pengertian materi yang dipahami sekarang ini. Menurut Aristoteles, materi ( hule ) adalah dasar terakhir segala perubahan dari hal-hal yang berdiri sendiri dan unsure bersama yang terdapat di dalam segala sesuatu yang menjadi dan binasa. Materi dalam arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari materi. Oleh karena itu, materi mutlak diperlukan bagi pembentukan segala sesuatu. Di lain pihak, dapat dijelaskan bahwa materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud atau menjadi ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk menjadi nyata, karena kekuatan yang membentuknya.

Sedangkan bentuk ( eidos ) adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar dunia ini, yang berdiri sendiri, lepas dari benda yang konkret, yang adalah penerapannya. Bagi Aristoteles, eidos adalah asas yang berada di dalam benda yang konkret, yang secara sempurna menentukan jenis benda itu, yang menjadikan benda yang konkret itu disebut demikian ( misalnya disebut meja, kursi, dan lain-lain ). Jadi, segala pengertian yang ada pada manusia, seperti meja, kursi tersebut bukanlah sesuai dengan realitas ide yang berada di dunia ide, melainkan sesuai dengan jenis benda yang tampak pada benda konkret.

Demikianlah materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat terwujud tanpa bentuk, sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa materi. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari bentuk dan materi.

c. Aliran Pluralisme

Berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuannyanyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan ala mini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua entitas.

d. Aliran Nikhilisme

Menyatakan bahwa dunia ini terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternative positif. Dlam pandangan nikhilisme, Tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.

e. Aliran Agnotisme

Menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu di balik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api dan sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya maupun oleh fikirannya. Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani.

2.3. Epistimologi Pengetahuan Mistik

 2.3.1 Objek Pengetahuan Mistik

Didalam pengetahuan mistik, yang menjadi objek ialah objek yang bersifat abstrak-supra-rasional, seperti alam ghaib termasuk Tuhan, Malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain. Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yabg tidak dapat di pahami rasio, yaitu objek-objek supra-natural , seperti kebal, pelet, jin, tuyul, santet dll.

2.3.2 Beberapa Contoh Pengetahuan Mistis

1. Mukasyafah

Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang dan dalam Tuhan, suatu pengetahuan hakikiyah. Mukasyafah adalah upaya penyingkapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial penyingkapan adalah penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani. Tabir dalam rohani terbagi kedalam dua jenis, yaitu tirai penutup ( hijab ar-rayni ) yang tidak mungkin disingkap dan kedua ( hijab i ghayni ) yang dapat dicampakan.

Sistem pengetahuan mukasyafah berpijak pada asumsi bahwa Tuhan memancarkan pengetahuanNya itu tidak dapat dipahami oleh indera ataupun rasio. Pengetahuan yang dipancarkanNya itu hanya dapat dipahami oleh potensi spiritual kita. Indera dan akal rasional itu tidak hanya tidak mampu memahaminya, bahkan juga menjadi penghalang tatkala potensi spiritual kita berusaha menangkap pengetahuan itu.

Pengetahuan mukasyafah terkait dengan situasi batin tertentu maka epistimologinya akan bersifat psikologis, yaitu mengusahakan agar potensi spiritual atau batin itu sanggup membuka diri dan menangkap pengetahuan Tuhan tersebut.

2. Ilmu Laduni

Ilmu laduni adalah ilmu bathiniyah yang bukan merupakan hasil pemikiran, ilmu laduni  adalah ilmu yang diterima langsung melalui ilham, iluminasi, atau inspirasi dari sisi Tuhan ( Ensiklopedi Islam, 3: 90 )

Adanya ilmu laduni dibenarkan oleh Al-quran seperti disebut dalam surat Al-Kahfi ayat 65. Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa ilmu laduni diberikan kepada Nabi, dalam hal ini Nabi Khidir. Namun sekalipun demikian ilmu laduni dapat juga dimiliki oleh seorang nabi dan Rasul dengan syarat orang itu.

Adapun kegunaan ilmu laduni ialah sebagai berikut:

a. Agar dapat memahami ilmu dengan tepat

b. Dapat mengetahui tingkatan ilmu seseorang

c. Mengetahui karakter seseorang.

3. Sa’efi

Dari segi terminologi saefi adalah nama ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan pada Allah. Dari segi substansi saefi adalah doa yang dibaca terus menerus atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu.

Cara memperoleh pengetahuan saefi sangat beragam, umumnya diperoleh melalui puasa atau hanya dengan melakukan wirid saja dengan bilangan tertentu, atau tidak memakan makanan yang bernyawa, tidak bersebadan. Umumnya saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat.

Ada beberapa macam jenis saefi yaitu

• saefi dzulfaqar,

• saefi mughni,

• saefi umum,

• saefi antazaman.

4. Jang-Jawokan

Jang-jawokan adalah semacam ucapan untuk tujuan magis tertentu. Isi kalimatnya mirip mantra dan biasanya disusun dalam bentuk syair. Bacaannya diajarkan oleh gurunya dari mulut ke telinga (secara lisan), syarat-syaratnya seperti puasa wedal, puasa tiga hari berturut-turut, puasa mutih, kadang tapa, dll. Jika telah dibekali dengan bacaan jangjawokan akan ada pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Pengetahuan ini tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali bila ia telah menyatakan ingin berguru. Jangjawokan merupakan tradisi mistis yang berlaku di daerah tertentu. Sandaran yang dipakai bermacam-macam, kadang ke Allah kadang ke dewa atau jin.

2.3.3 Cara Mmeperoleh Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik itu tidak diperoleh melalui indera dan tindakan juga dengan menggunakan akal rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa, ada pula yang mengatakan melalui intuisi, sedangkan Al-Ghozali mengatakan melalui dhamir atau qalbu. Dalam agama samawi, salah satunya agama Islam, cara untuk mendapatkan itu harus dengan cara membersihkan jasmani dan rohani terlebih dahulu. Agar unsur rohani bersih maka harus menghilangkan nafsu jasmani, diantara nafsu jasmani yang paling dominan adalah nafsu kelamin dan nafsu perut.

Karena keduanya inilah yang akan menyebabkan banyak orang memasuki siksa Tuhan di akhirat. Dalam pandangan para sufi, cara memperoleh pengetahuan mistik disebut juga thariqat yang terdiri dari maqam-maqam untuk menggapai Tuhan. Pada umumnya cara untuk memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari sinilah manusia memperoleh pencerahan yang dalam tradisi tasawuf disebut dengan istilah ma’rifah. Begitu pula dengan pengetahuan mistik yang di luar regional agama seperti pelet dan santet, cara untuk mendapatkannya adalah latihan batin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode untuk mendapatkan pengetahuan mistik adalah latihan.

2.3.4.  Ukuran kebenaran pengetahuan mistik

Kebenaran mistik dapat diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal dari Tuhan, maka ukurannya adalah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala Tuhan mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa surga dan eraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, sesuatu dianggap benar karena kita mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh oleh kita untuk melakukan pekerjaan, kepercayaan itulah yang menjadi kekuatannya. Ada kalanya kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiris.

Dalam hal ini bukti empiris itulah ukuran kebenarannya. Kebal adalah sejenis pengetahuan mistik. Kebenarannya dapat diukur dengan kenyataan empiris misalnya seseorang memperlihatkan di hadapan orang banyak bahwa ia tidak mempan di tusuk jarum. Satu-satunya tanda pengetahuan disebut pengetahuan yang bersifat mistik ialah tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat yang ada di dalam sesuatu kejadian mistik. Dalam contoh kebal tersebut, kita tidak dapat menjelaskan secara rasional mengapa jarum tidak mampu menembus kulit orang kebal.

2.4. Aksiologi Pengetahuan Mistik

2.4.1 Kegunaan Pengetahuan Mistik

Mustahil jika kitamempelajari pengetahuan mistik tanpa mengetahui kegunaannya. Kegunaan pengetahuan mistik ini mencakup area yang sangat luas.Pengetahun mistik itu amat subyektif,  sehingga yang paling tahu kegunaannya ialah pemiliknya. Secara kasar kita dapat  mengetahui bahwa mistik biasa digunakan untuk memperkuat keimanan, mistik-magis-putih digunakan untuk kebaikan (Misalnya : pengobatan ), sedangkan mistik-megis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.

Dikalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) dapat menentramkan jiwa mereka. Pengetahuan mereka seiring dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sains dan filsafat. Pemegang mistik putih menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan seperti untuk pengobatan, mendamaikan suami istri yang sedang bertengkar, dsb. Jenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya. Kebal misalnya dapat digunakan dalam pertahanan diri, debus dapat digunakan sebagai pertahanan diri dan juga untuk pertunjukkan hiburan. Jenis ini dapat meningkatkan harga diri dan juga untuk pertunjukkan hiburan. Jenis ini dapat meningkatkan harga diri.

Sementara mistik magis hitam, dikatakan hitam, antara penggunaannya untuk kejahatan. Untuk menilai apakah mistik magis itu hitam atau putih kita melihatnya pada segi ontologinya, epistemologinya dan aksiologinya. Bila pada hal ontologinya terdapat hal-hal yang berlawanan dengan kebaikan, maka dari segi ontologi mistik magis itu kita disebut hitam. Bila cara memperolehnya (epistemologi) ada yang berlawanan dengan nilai kebaikan maka kita akan mengatakan mistik magis itu hitam. Bila dalam penggunaan (aksiologi) untuk kejahatan maka kita menyebutnya hitam.

2.4.2. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah

Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi maupun akal logika dan  tidak juga melalui proses rasio maupun ilmiah melainkan dengan kepercayaan atau riyadhah. Akan  tapi meskipun demikian hampir seluruh kehidupan beragama didunia ini mengakui adanya kehidupan mistik sebagai kebutuhan untuk menyelesaiakan masalah karena pada dasarnya permasalahan yang ada didunia ini secara mutlak dapat diselesaikan dengan sains maupun filsafat melainkan mistiklah salah satunya yang paling berperan,. Itu berlaku untuk mistik putih dan mistik hitam. Mistik mempunyai beberapa macam-macam, dimana masing diantaranya mempunyai cara-cara yang berbeda dan nilai baik dan buruk dalam menyelesaikan masalah, tergantung dari mistik itu sendiri.

  BAB III

KESIMPULAN

Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang hal-hal yang sangat  mendasar yang berada di luar pengalaman manusia. Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh Metafisika ( Mistik ) adalah ilmu yang memikirkan hakikat di balik alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindra.

Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat di pahami rasio, maksudnya, hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat di pahami rasio. Pengetahuan mistik juga disebut pengetahuan yang supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris. Pengetahuan mistik juga sering disebut dengan pengetahuan metafisika yang artinya cabang filsafat yang membicarakan hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang nyata. Dilihat dari segi sifatnya, mistik dibagi menjadi dua bagian, yaitu mistik biasa dan mistik magis.

Struktur pengetahuan mistik, jika dilihat dari sifatnya terbagi menjadi dua, mistik biasa dan mistik magis, mistik magis sendiri terbagi menjadi dua yaitu mistik magis putih dan mistik magis hitam, yang masing-masing mempunyai perbedaan yang mendasar dalam segi kefilsafatannya. Dan pengetahuan mistik itu amat subyektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Secara kasar, kita dapat mengetahui bahwa mistik yang biasa digunakan untuk memperkuat keimanan. Mistik magis putih digunakan untuk kebaikan, dan mistik magis hitam digunakan untuk tujuan jahat.

Dalam pemahaman atau pemikiran ontology dapat ditemukan pandangan- pandangan pokok pemikiran seperti monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisisme. Dan  pada pengetahuan mistikpun mempunyai kegunaan-kegunaan tertentu. meski mistik lebih bersifat batiniyah, ghaib dan terkadang rasional dan empiris, tapi mistik bisa dijelaskan secara ilmiah namun melalui proses yang sangat panjang. juga dijelaskan tentang epistimologi dari pengetahuan mistik itu sendiri yakni tentang objek pengetahuan mistik yang terdiri dari objek yang abstrak supra rasional, seperti alam gaib termasuk tuhan, malaikat, surga, neraka, jin, dll. Serta dijelaskan pula cara memperoleh pengetahuan mistik (aksiologi) yakni melalui indera dan tindakan juga dengan menggunakan akal rasional.

Cara mistik menyelesaikan masalah tentunya dapat dilihat dari macam mistiknya. Jika mistik biasa prosesnya dilakukan melalui pendekatan terhadap Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan sufi untuk mendapatkan ketentraman didalam huidupnya, dan mistik magis didalam menyelesaikan masalah dengan cara menggunakan kekuatan rohaniah yang biasanya muncul dari kalangan orang suci.

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad . 2010 . Filsafat Ilmu . Bandung : ROSDA KARYA

http://id.shvoong.com/books/dictionary/2216876-ontologi-pengetahuan-mistik/

http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/dimensi-mistik-dalam-islam-kebatinan.html

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/23/filsafat-pengetahuan-mistik/

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/epistimologi-ontologi-aksiologi-pengetahuan-mistik/

Dewa. 2012. “Pengertian Mistik”  (online) http://dewasastra.wordpress.com/2012/03/23/pengertian-mistik/, diakses 10 Mei 2013

Fadhilah, Angga. 2012. “Filsafat Pengetahuan Mistik” (online) http://anggafadhilah.wordpress.com/2012/11/21/filsafat-pengetahuan-mistik/, diakses 9 Mei 2013

Rokim. “Cara Mistik Menyelesaikan Masalah” (online). http://rokimgd.wordpress.com/berhasil-menaa/cara-mistik-menyelesaikan-masalah.html, diakses 10 Mei 2013

Saputra, Ridwan . 2008. “ Pengetahuan Mistik” (online). http://ridwanal-bantani.blogspot.com/2008/05/pengetahuan-mistik.html, diakses 10 Mei 2013

Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai