TEORI KEPEMIMPINAN

TEORI KEPEMIMPINAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Dosen Pengampu : Dr. HELMI HARRIS, M.S

Mata Kuliah : KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI PENDIDIKAN

Description: D:\LOGO PGRI.jpg

Disusun Oleh :

            RAHMI DAMAYANTI                    20196013167

            MUNIARTI                                        20196013168

            WENDI PRABOWO                         20196013169

            ENTI ASIATI                                    201960131

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

TAHUN AKADEMIK 2019/2020

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai manayang telah direncanakan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI PENDIDIKAN. Makalah ini disusun dari beberapa sumber yang menjelaskan tentang teori perilaku. Kami sangat berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca makalah ini.

Dengan makalah ini, maka kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah rela waktunya tersita dalam membantu penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari pada sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah ini. Atas kritik dan saran dari pembaca kami ucapkan terima kasih.

                                                                                                   Palembang,  November  2019

                                                                                                              ( Kelompok V )

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kepemimpinan memainkan peranan yang penting dalam organisasi. Berhasil tidaknya suatu organisasi salah satunya ditentukan oleh sumber daya yang ada dalam organisasi tersebut. Di samping itu faktor yang sangat berperan penting adalah faktor kepemimpinan. Peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapka. Pengembangan organisasi merupakan suatu kegiatan mengadakan perubahan secara berencana yang mencakup suatu diagnosa secara sistematis terhadap organisasi. Seorang pemim pin harus ikut aktif dalam mengatur pelaksanaan kegiatan usaha pengembangan organisasi. Keberhasilan kegiatan usaha pengembangan organisasi sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinannya atau pengelola dan komitmen pimpinan pucuk organisasi. Kepemimpinan merupakan suatu hal  yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin organisasi. Efektivitas seorang pemimpin ditentukan oleh kepiawaiannya mempengaruhi dan mengarahkan para anggotanya. tentunya pihak pimpinan harus mempunyai kemampuan dalam mengelola, mengarahkan, mempengaruhi, memerintah dan memotivasi bawahannya untuk memperoleh tujuan yang diinginkan oleh perusahaan.Di dalam mengelola karyawan yang ada dalam  perusahaan harus diciptakan suatu komunikasi kerja yang baik antara atasan dan bawahan agar tercipta hubungan kerja yang serasi dan selaras. Dengan meningkatnya semangat dan kegairahan kerja para karyawan tersebut diharapkan akan mencapai  prestasi yang tinggi di bidang pekerjaan mereka masing-masing sehingga tujuan perusahaan akan tercapai dengan hasil yang memuaskan.

  1. Rumusan Masalah

1. Apa saja teori kepemimpinan itu ?

2. Bagaimana teori kepemimpinan itu?

  • Tujuan Makalah
  • Untuk menjelaskan apa saja teori kepemimpinan
  • Untuk mengetahui bagaiamana teori kepemimpinan itu
  • Manfaat Makalah
  • Mahasiswa dapat mengetahui apa saja teori kepemimpinan
  • Mahasiswa dapat mengetahui bagaiamana teori kepemimpinan itu
  • Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

Pada BAB I Pendahuluan pemakalah menyajikan beberapa sub bab yang berjudul latar belakang makalah, rumusan masalah, tujuan makalah, manfaat makalah, dan serta sistematika penulisan didalam makalah.

Pada BAB II Kajian Teori pemakalah menyajikan beberapa sub bab yang berjudul apa saja teori kepemimpinan

Pada BAB III Pembahasan pemakalah menyajikan sebuah makala yang berjudul kepemimpinan dalam organisasi: perspektif  teoritik

Pada BAB IV PENUTUP pemakalah menyajikan beberapa sub bab yang berjudul kesimpulan dan saran.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. Teori Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya[1].

Banyak ahli mengemukakan pendapat dan teorinya tentang kepemimpinan. Teori yang mereka kemukakan berneka ragam. Keragaman itu disebabkan antara lain oleh tiga hal. Pertama, teori dirumuskan berdasarkan bukti empiris atau hasil penelitian. Kedua, perbedaan sudut pandang para ahli mengenai manusia organisasi. Ketiga, hakikat dan substansi tugas yang dilaukan dan kerangka praktek kepemimpinan itu. Berikut ini disajikan beberapa pendapat tentang teori kepemimpinan[2].

  1. Teori  Sifat (Traits Theory)

Pendekatan ini menekankan pada sifat pemimpin seperti kepribadian, motivasi, nilai, dan keterampilan. Yang mendasari pendekatan ini adalah asumsi bahwa beberapa orang mempunyai bakat memimpin yang memiliki ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Teori kepemimpinan yang paling awal menyatakan bahwa kenerhasilan manajerial disebabkan oleh kemampuan luar biasa seperti memiliki energi yang tidakk kenal lelah, intuisi kepengelolaan, pandangan masa depan, dan kekuatan untuk membujuk yang tidak dapat ditolak[3].

Teori ini mempercayai bahwa pemimpin memiliki cara yang bervariasi karena mereka memiliki karakteristik atau disposisi yang sudah melekat dalam dirinya. Teori tentang analisis  kepemimpinan berdasarkan ciri yang dalam bahasa inggris dikenal dengan “traits theory” memberi petunjuk bahwa ciri-ciri ideal tersebut ialah:

  1. Pengetahuan umum yang luas
  2. Kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang
  3. Sifat inkuisitif
  4. Kemampuan analitik
  5. Daya ingat yang kuat
  6. Kapasitas integratif
  7. Keterampilan berkomunikasi secara efektif
  8. Keterampilan mendidik
  9. Rasionalitas
  10. Objektivitas
  11. Pragmatisme
  12. Kemampuan menentukan skala prioritas
  13. Kemampuan membedakan yang urgen dan yang penting
  14. Rasa tepat waktu
  15. Rasa kohesi yang tinggi
  16. Naluri relevansi
  17. Keteladanan
  18. Kesediaan menjadi pendengar yang baik
  19. Adaptabilitas
  20. Fleksibilitas
  21. Ketegasan
  22. Keberanian
  23. Orientasi masa depan
  24. Sikap yang antisipatif[4].

Teori kepemimpinan berdasarkan ciri-ciri ternyata tidak bebas dari kelemahan tertentu, yang terpenting di antaranya ialah adanya asumsi bahwa jika seseorang pemimpin memiliki ciri-ciri tersebut, ia dengan sendirinya akan menjadi pemimpin yang efektif. Tidak demikian halnya dengan teori kepemimpinan berdasarkan ciri-ciri terlalu menekankan pandangan bahwa bakat yang dibawa sejak lahir merupakan jaminan keberhasilan seseorang menyelenggarakan fungsi-fungsi kepemimpinannya.

Kelemahan lain dari teori kepemimpinan berdasarkan ciri-ciri ialah adanya anggapan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan in toto dari satu situasi organisasional ke situasi organisasional yang lain dengan tingkat keberhasilan yang sama. Dengan kata lain, terdapat pandangan bahwa keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi sudah merupakan jaminan mutlak untuk keberhasilannya memimpin organisasi yang lain, meski pun tujuan, misi, fungsi, sasaran, dan kegiatannya berbeda[5].

  • Teori Perilaku (Behaviors Theory)

Teori perilaku berusaha untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku pemimpin. Bila perilaku pemimpin ada perbedaan yang berarti jika dibandingkan dengan perilaku yang dipimpin, maka kepemimpinan akan dapat diajarkan. Bila kepemimpinan bisa diajarkan, maka pasokan pemimpin bisa diperbesar. Pendekatan ini menekankan bahwa pemimpin dan manager secara nyata bekerja untuk pekerjaan dan hubungan keefektifan managerial[6].

Perbedaan yang paling mendasar antara teori karakter dan teori perilaku adalah terletak pada asumsi yang mendasarinya. Jika teori karakter yang benar, maka pada dasarnya kepemimpinan dibawa dari lahir. Sedangkan jika teori perilaku yang benar, maka kepemimpinan bisa diajarkan atau ditanamkan[7].

  1.  
  2.  
  • Teori Situasional (Situasional/Contingency Theory)

Salah satu model kepemimpinan yang paling banyak digunakan dewasa ini adalah yang berdasarkan teori situasional yang dikembangkan oleh paul harsey dan ken blanchard. Teori ini terkadang disebut “teori kontijensi” kepemimpinan. Teori ini sangat menarik untuk didalami karena paling sedikit tiga alasan, yaitu: penggunaannya yang meluas, daya tariknya secara intuitif dan karena tampaknya didukung oleh pengalaman didunia nyata.

Pendekatan situasional menekankan pentingnya faktor kontekstual yang mempengaruhi proses kepemimpinan[8]. Berbagai faktor situasional yang ditemukan berpengaruh pada gaya kepemimpinan tertentu, antara lain ialah:

  1. Kompleksitas tugas yang harus diselenggarakan,
  2. Jenis pekerjaan, misalnya apakah bersifat rutin atau inovatif,
  3. Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan,
  4. Persepsi, sikap dan gaya yang digunakan oleh para pejabat pemimpin yang menduduki hirarki jabatan yang lebih tinggi,
  5. Norma-norma yang dianut oleh kelompok kerja yang berada di bawah pimpinan yang bersangkutan,
  6. Rentang kendali yang paling tepat untuk diterapkan,
  7. Ancaman yang datang dari luar organisasi yang mesti dihadapi, misalnya dalam bentuk persaingan bagi suatu organisasi niaga,
  8. Tingkat stress yang mungkin timbul sebagai akibat beban tugas, tingkat tanggung jawab, desakan waktu dan faktor-faktor lainnya yang dapat menimbulkan ketegangan,
  9. Iklim yang terdapat dalam organisasi[9].

Pada intinya teori ini menekankan bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang tergantung pada dua hal, yaitu pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa (kedewasaan) para bawahan yang dipimpin. Dua dimensi kepemimpinan  yang digunakan dalam teori ini ialah perilaku seorang pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Tergantung pada orientasi tugas kepemimpinan dan sifat hubungan atasan dan bawahan yang digunakan, gaya kepemimpinan yang timbul apat mengambil empat bentuk, yaitu:

  1. Memberitahukan

Jika seorang pemimpin berperilaku memberitahukan, hal ini berarti bahwa orientasi tugasnya dapat dikatakan tinggi dan digabung dengan hubungan atasan-bawahan yang tidak dapat digolongkan sebagai akrab, meskipun tidak pula digolongkan sebagai hubungan yang tidak bersahabat. Dengan kata lain, perilaku pemimpin terwujud dalam gaya yang bersifat direktif.

  • “Menjual,”

Jika seorang pemimpin berperilaku “menjual” berarti bertitik tolak dari orientasi perumusan tugasnya secara tegas digabung dengan hubungan atasan-bawahan yang bersifat intensif.

  • Mengajak bawahan berperan serta

Perilaku pimpinan dalam hal demikian ialah orientasi tugas yang rendah digabung dengan hubungan atasan-bawahan yang intensif. Artinya, pimpinan hanya memainkan peranan selaku fasilitator untuk memperlancar tugas para bawahan yang antara lain dilakukannya dengan menggunakan saluran komunikasi yang ada secara efektif.

  • Melakukan pendelegasian.

Seorang pemimpin dalam menghadapi situasi tertentu dapat pula menggunakan perilaku berdasarkan orientasi tugas yang rendah digabung dengan intensitas hubungan atasan-bawahan yang rendah pula[10].

  1.  
  2.  
  3.  
  • Teori Otokratis dan Pemimpin Otokratis

Kepemimpinan dalam teori ini didasarkan atas perintah-perintah, paksaan, dan tindakan-tindakan yang abitter (sebagai wasit). Pemimpin selalu melakukan pengawasaa pengawasan yang ketat agar semua pekerjaan berlangsung secara efesien. Pemimpin pada teori ini disebut otoktar keras karena mempunya sifat tepat, seksama,sesuai dengan prinsip namun keras dan kaku. Pemimpin tersebut tidak akan mendelegasikan otoritas.

  • Teori Psikologis

Teori ini menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik untuk merangsang kesediaan bekerja para anak buahnya guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi. Pemimpin pada teori ini mementingkan aspek-aspek psikis manusia seperti pengakuan, martabat, status sosial, kepastian emosional, dan lain-lain[11].

Penganut teori ini merumuskan tesis leader are made, pemimpin itu dapat diciptakan atau dipersiapkan secara khusus, musalnya melalui pendidikan dan pelatihan[12].

  • Teori Sosiologis

Kepemimpinan dianggap sebagai usaha untuk melancarkan antar relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya agar tercapai kerja sama yang baik. Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikutnya dalam pengembilan keputusan terakhir. Selanjutnya, pemimpinjuga mengidentifikasi tujuan, dan kerap kali memberikan petunjuk yang diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompoknya.

  • Teori Suportif

Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin dan bekerja dengan penuh gairah, sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui kebijakan tertentu. Teori suportif ini biasa dikenal dengan teori partisipatif atau teori kepemimpinan demokratis.

  • Teori Laissez Faire

Pemimpin pada teori ini sebenarnya tidak mampu mengurus, dan menyerahkan tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahannya. Pada teori ini, pemimpin adalah seorang ketua yang bertindak sebagai simbol, dan biasanya tidakmemiliki ketarampilan teknis.

  • Teori Kelakuan Pribadi

Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas pribadi atau pola kelakuan para pemimpinnya. Pemimpin dalam kategori ini harus mampu mengambil langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Masalah sosial itu tidak akan pernah identik sama didalamruntunan waktu yang berbeda.

  1. Teori Sifat Orang-Orang Besar

Cikal bakal seorang pemimpin dapat diprediksi dan dilihat dengan melihat sifat, karakter, dan perilaku orang-orang besar yang tersebut sudah sukses dalam menjalankan kepemimpinannya. Dengan demikian, ada beberapaciri-ciri unggul sebagai predisposisi yang diharapkan akan dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu memiliki inteligensi, memiliki daya persuasif dan keterampilan komunikatif, memiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, mau memberikan partisipasi sosial yang tinggi dan lain-lain.

  1. Teori Humanistik / Populistik

Fungsi kepemimpinan manurut teori ini yaitu merealisasi kebebasan manusia dan memenuhi setiap kebutuhan insani yang dicapai melalui interaksi pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal ini, perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Organisasi tersebut berperan sebagai sarana untuk melakukan kontrol sosial agar pemerintahan melakukan fungsinya dengan baik, serta memerhatikan lemampuan dan potensi rakyat[13].

  1. Kepemimpinan Transaksional

Moos dan Huber (2007) menyatakan bahwa istilah “kepemimpinan transaksional” telah dilaksanakan untuk konsep kepemimpinan alam semesta. Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan serta ditetapkan dengan jelas peran dan tugas-tugasnya. Kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai mempertukarkan sesuatu yang berharga untuk yang lain antara pemimpin dan karyawan (Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan kakitanganya bersifat pro aktif.

Prinsip utama dari kepemimpinan transaksional adalah mengkaitkan kebutuhan individu dengan yang diinginkan kemimpin untuk semua penghargaan yang diinginkan dari bawahannya sehingga memungkinkan adanya peningkatan motivasi staf. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemimpin transaksi hakikatnya adalah menekankan bahwa perlunya seseorang pemimpin menentukan apa yang harus dilakukan karyawan untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin transaksional juga cenderung memfokuskan diri pada solusi tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar staf melakukan tanggung jawab mereka, para pemimpin transaksional sangat tergantung pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman pada bawahannya.

  1. Kepemimpinan Transformasional

Proses begitu cepat dan luas menuntut perubahan bahwa “perubahan dan perbaikan” dilakukan sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, sehingga konsep kepemimpinan yang berbeda diperlukan. Kepemimpinan transformasional dianggap menunjukkan jalan. Pemimpin transformasional tidak hanya mengelola struktur dan tugas, tetapi berfokus pada orang-orang yang membawa mereka kerjasama dan berkomitmen. Mereka mencoba untuk secara aktif mempengaruhi “budaya” dari sekolah sehingga memungkinkan untuk lebih merangsang kerjasama, koherensi dalam belajar dan bekerja lebih bebas.

Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan memiliki peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional ini harus memiliki kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan kakitanganya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.

Bass dan Avolio, mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki empat dimensi yang disebutnya sebagai “The Four Is”:

  1. Perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati sekaligus mempercayai (pengaruh ideal).
  2. Pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi karyawan (motivasi-inspirasi)
  3. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi staf (stimulasi intelektual).
  4. Pemimpin transformasional dilihat sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukkan-masukkan staf dan secara khusus memperhatikan kebutuhan- kebutuhan staf akan pengembangan karir (konsederasi individu).

Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang individukan dan yang memiliki kharisma[14].

BAB III

PEMBAHASAN

A.    Teori Kepemimpinan

Secara garis besar, pembahasan mengenai faktor kunci dari kepemimpinan yang efektif dilandasi oleh empat pendekatan utama, yaitu: (1) teori sifat, (2) teori perilaku, (3) teori situasional, dan (4) teori transformasional.

  1. Teori Sifat, Perilaku, dan Situasional

Penilaian terhadap pemimpin yang efektif, pada awalnya didasarkan kepada sifat-sifat yang dimilikinya. Karakter seseorang sangat mempengaruhi keberhasilan dari suatu proses kepemimpinan. Teori ini kemudian diperbaharui dengan pandangan yang menyatakan bahwa keberhasilan dari suatu proses kepemimpinan lebih disebabkan oleh bagaimana seorang pemimpin berperilaku. Kemudian hingga tahun 1980-an berkembang konsep yang menyatakan bahwa keberhasilan proses kepemimpinan didasarkan kepada keseuaian antara kemampuan pemimpin dan situasi yang dihadapi. Secara garis besar perbedaan dari masing- masing konsep tersebut tercantum pada Tabel 1.1

Tabel 1.1 Konsep Kepemimpinan dari Berbagai Pandangan

TeoriPeriodeKonsepKritik
Teori sifat  1940- 1950Terdapat sejumlah sifat atau karakteristik tertentu yang berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan dari pemimpinTeori sifat cenderung deterministic, yaitu mengatribusi seluruh aspek kepemimpinan dan cenderung mengabaikan pengaruh lingkungan serta pentingnya perilaku yang dipelajari Tidak menyinggung pengikut atau hubungan antara pemimpin dan pengikutTidak semua sifat dapat diidentifikasi dengan baik apakah merupakan factor bawaan atau perilaku yang dapat dipelajariSemua pendekatan sifat berasumsi bahwa hanya ada satu cara terbaik untuk menjadi pemimpin  
Teori Perilaku1950- 1960Aspek terpenting dari kepemimpinan bukan pada sifat atau karakteristik dari pemimpin tetapi apa yang dilakukan pemimpin dalam berbagai situasi. Keberhasilan dari pemimpin tergantung pada gaya kepemimpinan yang diterapkanCenderung deterministic, hanya mengatribusi semua aspek kepemimpinan pada sang pemimpin dan mengabaikan aspek lingkunganTidak menyinggung pengikut atau relasi antara pemimpin dan pengikut  
Teori Situasional1960- 1980Efektivitas dari pemimpin tidak hanya ditentukan oleh gaya kepemimpinan tetapi juga ditentukan oleh situasi yang ada dalam kepemimpinan tersebut. Faktor situasi meliputi: karakteristik dari bawahan dan pimpinan, sifat dan tugas, struktur kelompok dan teori penguatanSituasi dianggap menentukan perilaku pemimpin dan bukan sebaliknyaPemimpin diasumsikan mampu mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang tepat untuk berbagai situasi yang dihadapiModel mengasumsikan bahwa dimungkinkan tercapainya kesepakatan mengenai situasi ril yang dihadapi.

Pada perkembangannya, situasi mengalami perubahan yang sangat cepat dan menimbulkan berbagai tuntutan logis yang kompleks serta membutuhkan respon yang cepat. Di sisi lain, menyesuaikan organisasi terhadap perubahan lingkungan bukanlah sebuah bentuk penyelesaian akhir yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang ditimbulkan akibat perubahan lingkungan tersebut. Oleh karena itu tuntutan terhadap pemimpin tidak lagi bagaimana organisasi yang berada dibawah kepemimpinannya dapat menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan tetapi lebih kepada bagaimana pemimpin dapat memanfaatkan lingkungan dan menciptakan lingkungan yang sesuai dalam proses pencapaian tujuan. Atas dasar tuntutan inilah, maka sejak tahun 1980-an ketiga pendekatan tersebut tidak lagi digunakan dan berkembang konsep Teori Kepemimpinan Transformasional.

  1.  
  2. Teori Transformasional

Kepemimpinan transformasional merupakan perluasan dari kepemimpinan yang karismatik. Berdasarkan pendekatan teori ini, pemimpin menciptakan visi dan lingkungan yang memotivasi para karyawan untuk berprestasi melampui harapan. Seorang pemimpin dapat mentransformasikan bawahannya melalui empat cara:

  1. Idealized influence,

Pemimpin transformasional memiliki integritas perilaku atau persepsi terhadap kesesuaian antara nilai yang diharapkan dan nilai yang terjadi.

  • Inspirational motivation

Pemimpin transformasional memotivasi dan menginspirasi bawahannya dengan jalan mengkomunikasikan ekspetasi tinggi dan tantangan kerja. Selain itu juga membangkitkan semangat kerja antusiame, dan optimisme.

  • Intellectual stimulation,

Pemimpin tranformasional berupaya menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. Pemimpin mendorong para bawahan untuk memunculkan ide-ide baru dan solusi kreatif

Atas masalah yang dihadapi.

  • Individualized consideration,

Pemimpin transformasional memberikan perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berprestasi dan berkembang.

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Adapun teori kepimpinan itu diantaranya meliputi Teori  Sifat (Traits Theory), Teori Perilaku (Behaviors Theory), Teori Situasional (Situasional/Contingency Theory), Teori Otokratis Dan Pemimpin Otokratis, Teori Psikologis, teori sosiologis, Teori Suportif, Teori Laissez Faire, teori kelakuan pribadi, Teori Sifat Orang-Orang Besar, Teori Humanistik / Populistik, kepemimpinan transaksional, Kepemimpinan Transformasional
  • Saran

Dengan pembuatan makalah ini yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca sebagai pedoman untuk memimpin suatu sekolah atau lembaga pendidikan suatu saat nanti, dan apabila terjadi kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan pemakalah menerima kritik yang membangun agar tidak terjadi kesalahan kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2012. Motivasi, Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta: Rineka Cipta

Kartono, Kartini. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah kepemimpinan abnormal itu?. Jakarta: Rajawali Press

Kurniadin, Didin; Machali, Imam. 2014. Manajemen Pendidikan. : Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Siagian, Sondang P. 2003. Teori Dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta

Subarino, kk. 2011. Kepemimpinan Integratif: Sebuah Kajian Teori. Jurnal Manajemen Pendidikan No. 01/Th VII

Wulandari, Suci. 2003. Kepemimpinan Dalam Organisasi:Perspektif Teoritik Dan  Metodologi. Bogor: Puslitbang Perkebunan, Bogor. Jurnal Ilmiah Kesatuan Vol. 5 No. 2

Yudiaatmaja, Fridayana. 2013. Kepemimpinan: Konsep, Teori Dan Karakternya. Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Media Komunikasi Fis Vol 12, No 2

Yukl, Gary. 1989. Managerial Leadership: A Review of Theory and Research. Journal of Management Vol 15 No 2

Yukl, Gary. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Indeks


[1] Sudarwan Danim. 2012. Motivasi, Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta: Rineka Cipta. hlm 55-56

[2] Sudarwan Danim. 2012,… hlm 68

[3] Gary Yukl. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Indeks. hlm 13-14

[4] Sondang P. Siagian. 2003. Teori Dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta, hlm 75-76

[5] Sondang P. Siagian. 2003,… hlm 118-119

[6] Gary Yukl. 1989. Managerial Leadership: A Review of Theory and Research. Journal of Management Vol 15 No 2

[7] Fridayana Yudiaatmaja. 2013. Kepemimpinan: Konsep, Teori Dan Karakternya. Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Media Komunikasi Fis Vol 12, No 2

[8]Gary Yukl. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Indeks, hlm 15

[9] Sondang P. Siagian. 2003. Teori Dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta, hlm 129

[10] Sondang P. Siagian. 2003. Teori Dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta, hlm 139-140

[11] Kartini Kartono. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah kepemimpinan abnormal itu?. Jakarta: Rajawali Press, hlm 71-79

[12] Sudarwan Danim. 2012. Motivasi, Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta: Rineka Cipta, hlm 57

[13] Kartini Kartono. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah kepemimpinan abnormal itu?. Jakarta: Rajawali Press, hlm 71-79

[14] Subarino, kk. 2011. Kepemimpinan Integratif: Sebuah Kajian Teori. Jurnal Manajemen Pendidikan No. 01/Th VII

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai