PERAN PERUMUSAN VISI, PERAN PENGENDALIAN DAN HUBUNGAN ORGANISASIONAL, PERAN PEMBANGKIT SEMANGAT DAN PERAN PENYAMPAIAN INFORMASI

PERAN PERUMUSAN VISI, PERAN PENGENDALIAN DAN HUBUNGAN ORGANISASIONAL, PERAN PEMBANGKIT SEMANGAT DAN PERAN PENYAMPAIAN INFORMASI

Oleh :

KELOMPOK 6

 1. NENI PUSPITA SARI                NIM : 20196013172

  2. SUMARDI                                   NIM : 20196013170

  3. MITHA HARDIANTY                          NIM : 20196013171

Tugas Makalah Mata Kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. Helmi Harris,. M. S.

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2019

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta lingkungannya. Agar terciptanya suatu organisasi yang harmonis, maka manusia harus memiliki kelompok dalam suatu organisasi tertentu. Kepemimpinan merupakan lokomotif organisasi yang selalu menarik dibicarakan. Daya tarik ini didasari pada latar historis yang menunjukkan arti penting keberadaan seorang pemimpin dalam setiap kegiatan kelompok, dan kenyataannya bahwa seorang pemimpin dalam setiap kegiatan kelompok merupakan sentrum dalam pola interaksi antar komponen organisasi.

Dalam organisasi selalu melibatkan beberapa orang yang saling berinteraksi secara intensif. Interaksi tersebut disusun dalam suatu struktur yang dapat membantu dalam usaha pencapaian tujuan bersama. Agar pelaksanaan kerja dalam organisasi dapat berjalan sebagaimana mestinya maka dibutuhkan sumber seperti perlengkapan, metode kerja, bahan baku, dan lain-lain.

Peranan pemimpin dalam suatu organisasi itu sangatlah penting karena keberadaan pimpinan yaitu menjadi palang pintu atau menjadi salah satu ujung tombak dari keberhasilan dalam berorganisasi.Peran pemimpin tidak pernah lepas dari pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam organisasi yaitu mulai dari organisasi Planning termasuk budgeting, Organizing, Staffing, Actuating or Leadership, Coordinating dan Controlling atau Evaluation. Akan tetapi, setiap perjalanan operasional suatu organisasi akan menemui kendala atau masalah akibat dinamika lingkungan Internal dan Eksternal organisasi. Untuk menyiasati situasi dan kondisi tersebut maka diperlukan seni memimpin yang cerdas untuk mencapai efektivitas kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif bagi pemimpin dalam melaksanakan peran pengendalian organisasi memiliki kontribusi besar bagi keberhasilan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Salah satu tugas atau peran pimpinan yaitu harus bisa mengelola konflik dalam organisasi yang dipimpinnya sehingga setiap konflik itu bisa diselesaikan dengan baik dan tidak ada yang merasa dirugikan. Pimpinan adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi.

Dalam menghadapi sebuah tantangan yang mengglobal pada tubuh tiap-tiap elemen, khususnya yang terjadi pada kelangsungan organisasi dalam rangka meningkatkan kualitas peran dan fungsi kepemimpinan, dimana semua bagian yang terintegrasi dalam organisasi tersebut dapat menjunjung tinggi asas kebermanfaatan dengan melaksanakan empat fungsi umum dari manajemen, yakni merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi setiap kinerja yang akan menjadi penunjang keberhasilan dan kemajuan suatu organisasi. Namun, pada hakikatnya keberhasilan dan kemajuan tersebut tetap memandang keaktifan seorang pemimpinnya, sejauh mana ia dapat memaksimalkan perannya, menempatkan hak dan kewajiban dirinya dan anggotanya, memberikan penghargaan dan dorongan, serta mampu menjadi tolak ukur atau cermin bagi kelangsungan organisasi.

            Berdasarkan kepentingannya, tidaklah mudah untuk mengubah paradigma yang telah melekat pada pribadi masing masing individu tersebut. Akan tetapi, sebuah gebrakan yang ideal dapat membantu memperjelas asumsi asumsi yang mampu mengubah nilai-nilai yang dianggap kurang baik menjadi sebuah paradigma baru yang dapat meningkatkan semangat juang dan etos kerja.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya yaitu adalah :

1.      Apa peran perumusan visi ?

2.      Apa peran pengendalian dan hubungan organisasional ?

3.      Apa saja macam-macam peran kepemimpinan ?

C. Tujuan

1.      Tujuan umum

Mahasiswa mampu mengetahui tentang peran kepemimpinan dalam organisasi.

2.      Tujuan khusus

a.       Mengetahui peran perumusan visi.

b.      Mengetahui peran pengendalian dan hubungan organisasional.

c.       Mengetahui macam-macam peran kepemimpinan.

D. Manfaat

            Adapun manfaat dari penulisan ini adalah untuk menambah wawasan mengenai  peran perumusan visi, peran pengendalian dan hubungan organisasional serta mengetahui macam-macam peran kepemimpinan temasuk peran pembangkit semangat dan peran penyampaian informasi.

E. Metode

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan Makalah ini adalah metode kepustakaan. Metode kepustakaan dilaksanakan dengan mencari bahan dari sumber-sumber yang menunjang dan berkaitan dengan materi dari makalah ini seperti mempelajari buku-buku, browsing internet dan sumber lain yang relevan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan bahasan makalah ini.

BAB II

PEMBAHASAN DAN HASIL

A. Peran Perumusan Visi

Kata visi berasal dari bahasa inggris, Vision yang berarti penglihatan, daya lihat, pandangan, impian atau bayangan. Secara etimologis bisa juga pandangan disertai pemikiran mendalam dan jernih yang menjangkau jauh kedepan. Visi mengandung arti kemampuan untuk melihat pada inti persoalaan. Menurut Said Budairy, visi adalah pernyataan cita-cita, bagaimana wujud masa depan, kelanjutan dari masa sekarang dan berkaitan erat dengan masa lalu. (Said Budairy, 1994 : 6).

Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat ini yang menjangkau masa yang akan datang (Akdon, 2006:94).

Dengan demikian secara sederhana kata visi mengacu kepada sebuah cita-cita, keinginan, angan-angan, hayalan dan impian ideal yang ingin dicapai pada masa depan yang dirumuskan secara sederhana, singkat, padat dan jelas namun mengandung makna yang luas, jauh dan penuh makna. edangkan kata misi pun berasal dari bahasa Inggris. Dalam perumusan visi harus mendapat pola dan rumusan yang jelas dan kompatibel dengan tataran operasionalnya, serta diletakan dalam kontek tatanan masyarakat yang terus berubah dan menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat.

Visi Adalah Pernyataan Yang Merupakan Sarana Untuk :

a. Mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.

b. Memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).

c. Menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.

d. Pernyataan visi, baik yang tertulis atau diucapkan perlu ditafsirkan dengan baik, tidak mengandung multi makna sehingga dapat menjadi acuan yang mempersatukan semua pihak dalam sebuah organisasi.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Merumuskan Visi, Yaitu :

a. Visi harus dapat memberikan panduan/arahan dan motivasi.

b. Visi harus disebarkan di kalangan anggota organisasi (stakeholder)

c. Visi harus digunakan untuk menyebarluaskan keputusan dan tindakan organisasi yang penting.

      Kriteria Merumuskan Visi adalah :

a. Visi bukanlah fakta, tetapi gambaran pandangan ideal masa depan yang ingin diwujudkan.

b. Visi dapat memberikan arahan, mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik.

c. Dapat menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan

d. Menjembatani masa kini dan masa yang akan datang.

e. Gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik.

f. Sifatnya tidak statis dan tidak untuk selamanya.

Rumusan Visi Yang Baik Seharusnya Memberikan Isyarat :

a. Visi berorientasi ke masa depan, untuk jangka waktu yang lama.

b. Menunjukkan keyakinan masa depan yang jauh lebih baik, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.

c. Visi organisasi harus mencerminkan standar keunggulan dan cita-cita yang ingin dicapai.

d. Visi harus mencerminkan dorongan yang kuat akan tumbuhnya inspirasi, semangat dan komitmen bagi stakeholder.

e. Mampu menjadi dasar dan mendorong terjadinya perubahan dan pengembangan ke arah yang lebih baik.

f. Menjadi dasar perumusan misi dan tujuan organisasi.

e. Dalam merumuskan visi harus disertai indikator pencapaian vis

B. Peran Pengendalian dan Hubungan Organisasi

Pengertian peran itu sendiri adalah adalah perilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu. Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peranan kepemimpinan adalah seperangkat perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang sesuai kedudukannya sebagai seorang pemimpin.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan dapat berperan dengan baik, antara lain:

a.      Yang menjadi dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan bukan pengangkatan atau penunjukannya, melainkan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang bersangkutan

b.      Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang

c.       Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran untuk “membaca” situasi

d.     Perilaku seseorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui pertumbuhan dan perkembangan.

e.       Kehidupan organisasi yang dinamis dan serasi dapat tercipta bila setiap anggota mau menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut Stephen P. Robbins dalam bukunya Manajemen, pengendalian menyediakan berbagai cara bagi organisasi untuk beradaptasi  dengan perubahan-perubahan lingkungan, untuk membatasi akumulasi kesalahan, untuk mengatasi kompleksitas organisasi, dan untuk meminimisasi biaya. Keempat fungsi pengendalian tersebut penting untuk dibahas secara lebih mendetail.

a.    Beradaptasi dengan Perubahan Lingkungan

Dalam lingkungan bisnis yang kompleks dan bergejolak dewasa ini, semua organisasi harus berhadapan dengan perubahan.

Bergantung pada diri masing masing pemimpinnya dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu perubahan, harus pintar menempatkan diri agar mampu diterima di segala aspek.

b.   Membatasi Akumulasi Kesalahan

     Kesalahan-kesalahan dan kecerobohan-kecerobohan kecil biasanya tidak menimbulkan kerusakan serius terhadap kesehatan keuanganan sebuah organisasi. Namun, dari waktu ke waktu, kesalahan kecil bisa terakumulasi dan menjadi sangat serius. Untuk itu, segala bentuk kesalahan baiknya diakomodir dengan baik dan segera mengambil peneyelesaiannya.

c.    Mengatasi Kompleksitas Organisasi

Memerlukan system yang canggih untuk menegakkan penegndalian yang memadai dalam sebuah organisasi, mislanya produksi di perusahaan.

d.   Meminimalisasi Biaya

Jika dipraktekan secara efektif, pengendalian dapat membantu mengurangi biaya dan meningkatkan output.

Tindakan manajemen para pemimpin organisasi dalam mengendalikan organisasi meliputi :

1.  mengelola harta milik atau aset organisasi.

2.  mengendalikan kualitas

     kepemimpinan dan kinerja organisasi;

3.   menumbuhkembangkan serta mengendalikan situasi maupun kondisi kondusif yang berkenaan dengan keberadaan hubungan dalam organisasi.

Dan peran pengendalian serta pemelihara / pengendali hubungan dalam organisasi merupakan pekerjaan kepemimpinan yang berat bagi pemimpin. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan, seni dan keahlian untuk melaksanakan kepemimpinan yang efektif.

Ruang lingkup peran pengendali organiasasi yang melekat pada pemimpin meliputi pengendalian pada perumusan pendefinisian masalah dan pemecahannya,pengendalian,pendelegasian wewenang,   pengendalian uraian kerja dan manajemen konflik.

Ruang lingkup peran hubungan yang melekat pada pemimpin meliputi peran pemimpin dalam pembentukan dan pembinaan tim-tim kerja; pengelolaan tata kepegawaian yang berguna untuk pencapaian tujuan organisasi; pembukaan, pembinaan dan pengendalian hubungan eksternal dan internal organisasi serta perwakilan bagi organisasinya.

Di lain pihak, seorang pemimpin harus berani dan mampu mengambil tindakan terhadap anak buahnya yang menyeleweng, yang malas dan yang telah berbuat salah sehingga merugikan organisasi, dengan jalan memberi celaan, teguran, dan hukuman yang setimpal dengan kesalahannya. Untuk melaksanakan fungsi fungsi ini sebaik- baiknya, seorang pemimpin perlu menyelenggarakan daftar kecakapan dan kelakuan baik bagi semua pegawai sehingga tercatat semua hadiah maupun hukuman yang telah diberikan kepada mereka.

C.  Macam-Macam Peranan Kepemimpinan

1.      Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan

Kepemimpinan seseorang dalam sebuah organisasi sangat besar perannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin. Sehingga jika seorang pemimpin tidak mampu membuat keputusan, seharusnya dia tidak dapat menjadi pemimpin.

Dilain hal, pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Oleh sebab itu, untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:

Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat perspektif daripada deskriptif

a.     Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajermemperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.

b.     Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.

2.      Peran Kepemimpinan Dalam Membangun Tim

Kepemimpinan didefinisikan sebagai proses untuk memberikan pengarahan dan pengaruh pada kegiatan yang berhubungan dengan tugas sekelompok anggotanya. Mereka yakin bahwa tim tidak akan sukses tanpa mengkombinasikan kontribusi setiap anggotanya untuk mencapai tujuan akhir yang sama.

Adapun peranan pemimpin dalam tim adalah sebagai berikut:

a.       Memperlihatkan gaya pribadi

b.      Proaktif dalam sebagian hubungan

c.       Mengilhami kerja tim

d.      Memberikan dukungan timbal balik

e.       Membuat orang terlibat dan terikat

f.       Memudahkan orang lain melihat peluang dan prestasi

g.      Mencari orang yang ingin unggul dan dapat bekerja secara kontruktif

h.      Mendorong dan memudahkan anggota untuk bekerja

i.        Mengakui prestasi anggota tim

j.        Berusaha mempertahankan komitmen

k.      Menempatkan nilai tinggi pada kerja tim.

3.      The Vision Role

Sebuah visi adalah pernyataan yang secara relatif mendeskripsikan aspirasi atau arahan untuk masa depan organisasi. Dengan kata lain sebuah pernyataan visi harus dapat menarik perhatian tetapi tidak menimbulkan salah pemikiran.

Agar visi sesuai dengan tujuan organisasi di masa mendatang, para pemimpin harus menyusun dan manafsirkan tujuan-tujuan bagi individu dan unit-unit kerja.

4.      Peran Pembangkit Semangat

Salah satu peran kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran membangkitkan semangat kerja. Peran ini dapat dijalankan dengan cara memberikan pujian dan dukungan. Pujian dapat diberikan dalam bentuk penghargaan dan insentif. Penghargaan adalah bentuk pujian yang tidak berbentuk uang, sementara insentif adalah pujian yang berbentuk uang atau benda yang dapat kuantifikasi. Pemberian insentif hendaknya didasarkan pada aturan yang sudah disepakati bersama dan transparan. Insentif akan efektif dalam peningkatan semangat kerja jika diberikan secara tepat, artinya sesuai dengan tingkat kebutuhan karyawan yang diberi insentif, dan disampaikan oleh pimpinan tertinggi dalam organisasi , serta diberikan dalam suatu ‘event’ khusus.

Peran membangkitkan semangat kerja dalam bentuk memberikan dukungan, bisa dilakukan melalui kata-kata , baik langsung maupun tidak langsung, dalam kalimat-kalimat yang sugestif. Dukungan juga dapat diberikan dalam bentuk peningkatan atau penambahan sarana kerja, penambahan staf yag berkualitas, perbaikan lingkungan kerja, dan semacamnya.

5.      Peran Menyampaikan Informasi

Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi; artinya walaupun produk dan layanan purna jual perusahaan tersebut bagus, tetapi jika komunikasi internal dan eksternalnya tidak bagus, maka perusahaan itu tidak akan bertahan lama karena tidak akan dikenal masyarakat dan koordinasi kerja di dalamnya jelek. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan.

Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya. Monitoring tidak dapat dilakukan asal-asalan saja, tetapi harus betul-betul dirancang secara efektif dan sistemik. Selain itu, seorang pemimpin juga harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.

6.     Peranan Kepemimpin dalam Mengendalikan Konflik

Konflik dapat diibaratkan seperti api ysng dapat membakar dan menjalar kemana- man dan memusnahkan jika tidak ditangani secara baik. Proses pengendalian konflik itu bermula dari persepsi tentang konflik itu sendiri, apa komponennya dan bersumber dari mana, kemudian menuju ke tahap realisasi, penghindaran, intervensi, pemilihan strategidan implementasidan evaluasi dampak yang ditimbulkan oleh konflik.

Untuk dapat mengatasi konflik-konflik yang ada pemimpin dapat memberikan kesempatan kepada semua anggota kelompok untuk mengemukakan pendapatnya tentang kondisi – kondisi penting yang diinginkan, yang menurut persepsi masing – masing harus dipenuhi dengan pemanfaatan berbagai sumber daya dan dana yang tersedia

Meminta satu pihak menempatkan diri pada posisi orang lain, dan memberikan argumentasi kuat mengenai posisi tersebut. Kemudian posisi peran itu dibalik, pihak yang tadinya mengajukan argumentasi yang mendukung suatu gagasan seolah – olah menentangnya, dan sebaliknya pihak yang tadinya menentang satu gagasan seolah- olah mendukungnya. Setelah itu tiap – tiap pihak diberi kesempatan untuk melihat posisi oaring lain dari sudut pandang pihak lain.

Kewenangan pimpinan sebagai sumber kekuatan kelompok. Seorang manajer yang bertugas memimpin suatu kelompok, untuk mengambil suatu keputusan, atau memecahkan masalah secara efektif, perlu memiliki kemahiran menggunakan kekuaasaan dan kewenangan yang melekat pada perannya.

Beberapa cara untuk mengatasi konflik menurut Nader and Todd, dalam salah satu bukunya, The Disputing Process Law In  Ten Societies, yaitu :

a. Bersabar ( Lumping ), yaitu suatu tindakan yang merujuk pada sikap yang mengabaikan konflik begitu saja atau dengan kata lain isu- isu dalam konflik itu mudah untuk diabaikan, meskipun hubungan dengan orang yang berkonflik itu berlanjut, karena orang yang berkonflik kekurangan informasi atau akses hukumnya tidak kuat.

b. Penghindaran ( Avoidance ), yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri hubungannya dengan cara meninggalkan konflik, didasarkan pada perhitungan bahwa konflik yang terjadi atau dibuat tidak memiliki kekuatan secara sosial, ekonomi dan emosional.

c. Kekerasan atau paksaan ( Coercion ), yaitu suatu tindakan yang diambil dalam mengataasi konflik jika dipandang bahwa dampak yang ditimbulkan membahayakan.

d. Negosiasi ( Negotation ) ialah tindakan yang menyangkut pandangan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan oleh orang- orang yang berkonflik secara bersama – sama tanpa melibatkan pihak ketiga. Kelompok tidak mencari pencapaian solusi dan term satu aturan, tetapi membuat aturan yang dapat mengorganisasikan hubungannya dengan pihak lain.

e. Konsiliasi ( Conciliation ), yaitu tindakan untuk membawa semua yang berkonflik kemeja perundingan. Konsiliator tidak perlu memeinkan secara aktif satu bagian dari tahap negosiasi meskipun ia mungkin bisa melakukannya dalam batas diminta oleh yang berkonflik. Konsiliator sering menawarkan konstektual bagi adanya negosiasi dan bertindak sebagai penengah.

f. Mediasi ( Mediation ), hal ini menyangkut pihak ketiga yang menangani/ membantu menyelesaikan konflik agar tercapai persetujuan.

g. Arbritasi ( Arbritation ), kedua belah pihak yang berkonflik setuju pada keterlibatan pihak ketiga yang memiliki otoritas hokum dan mereka sebelumnya harus setuju untuk menerima keputusannya.

h. Peradilan ( Adjudication ), hal ini merujuk pada intervensi pihak ketiga yang berwenang untuk campur tangan dalam penyelesaian konflik, apakah pihak- pihak yang berkonfllik itu menginginkan atau tidak.

Pendekatan berikut ini dapat digunakan sebagai kontribusi peran kepemimpinan dalam mengendalikan/ menyelesaikan konflik :

Ø  Sanggup menyampaikan pokok masalah penyebab timbulnya konflik. Konflik tidak dapat diselesaikan jika permasalahan pokoknya terisolasi. Konflik sangat tergantung pada konteks dan setiap pihak yang terkait seharusnya memahami konteks tersebut. Permasalahan menjadi jelas tidak berdasarkan asumsi, melainkan jika disampaikan dalam pernyataan pasti.

Ø  Pendekatan dengan adanya konfrontasi dalam menyelesaikan konflik biasanya justru mengarahkan orang untuk membentuk kubu. Untuk itu , bicarakan pokok permasalahan, bukan siapa yang jadi penyebabnya.

Ø  Bersedia melatih diri untuk mendengarkan dan mempelajari perbedaan. Pada umumnya kemauan mendengarkan sesuatu dibarengi dengan keinginan untuk memberi tanggapan. Seharusnya kedua belah pihak berusaha untuk benar- benar saling mendengarkan.

Ø  Sanggup mengajukan usul atau nasehat. Ajukan usul baru yang disadari oleh tujuan kedua belah pihak dan dapat mengakomodasikan keduanya. Tawarkan juga kesediaan untuk selalu dapat membantu perwujudan rencana- rencana tersebut

Ø  Meminimalisasi ketidakcocokan. Cari jalan tengah diantara kedua belah pihak yang sering berbeda pandangan dan pendapat. Fokslah pada persamaan dengan memppertimbangkan perbedaan yang sifatnya tidak mendasar.

DAFTAR PUSTAKA

https://m4ibox.wordpress.com/2013/10/26/menyusun-visi-misi-tujuan-sasaran-dan-program-perusahaan/

http://wwwjayaputra21.blogspot.com/2014/11/peran-kepemimpinan-dalam-organisasi.html

https://aniromaningsih.blogspot.com/2015/10/makalah-kppm-peran-kepemimpinan-dalam.html

http://klikrannotes.blogspot.com/2013/09/peran-dan-fungsi-manajemen-kepemimpinan.html

Griffin, Ricky  W.2004. Manajemen. Jakarta : Erlangga.

Winarto.2007.Teori Kepemimpinan [online]. Tersedia http://nursepoint.  blogspot.com/2007/teori- kepemimpinan/.

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai