MAKALAH TENTANG EPISTIMOLOGI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN
Dosen Mata Kuliah:
Dr. Achmad Wahidy, M.Pd.
Oleh Kelompok 4:

- Tri Yani Guta NIM : 20196013182
- Weni Andiani NIM : 20196013515
- Renny Anggraini NIM : 20196013184
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah swt. yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Adapun tugas makalah dibuat ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok dari dosen pada mata kuliah “Filsafat dan perkembangan teori manajemen pendidikan”. Makalah ini berjudul “Epistimologi”.
Penulis tidak dapat menyelesaikan makalah ini tanpa adanya dukungan, do’a, dan nasehat dari semuanya. Selanjutnya, penyusun ingin mengucapkan salam dan terima kasih kepada:
- Pak Dr. Achmad Wahidy, M.Pd. selaku dosen mata kuliah ini yang telah memberikan saran dan nasehat untuk melengkapi makalah ini.
- Untuk semua anggota kelompok yang sudah ikut andil membantu baik materil dan non materil serta waktunya untuk melengkapi makalah ini.
Penyusun menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik yang membangun, dan saran dari pembaca sangatlah dihargai. Penyusun sangat beharap bahwa makalah ini dapat memberikan kontribusi berharga bagi para pembaca.
Pekanbaru, 06 Oktober 2019
Penulis
Kelompok 3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………. i
DAFTAR ISI …. ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang…………………………………………………………………………… 1
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………… 1
- Tujuan Makalah………………………………………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN
- 2.1 Apa itu Epistimologi……………………………………………………………………. 3
- 2.2 Cangkupan Pokok Epistimologi…………………………………………………….. 4
- 2.3 Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan………………………………………. 6
- 2.4Macam-Macam dan Penyebab Timbulnya Epistimologi……………………. 7
- 2.5 Aliran-aliran dalam Efistimologi……………………………………. 8
BAB III PENUTUP
- 3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………….. 12
- 3.2Kritik dan Saran………………………………………………………………………… 12
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………… 13
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan pokok saja, akan tetapi manusia juga memerlukan informasi untuk mengetahui keadaan di lingkungan sekitar mereka. Dalam upaya untuk memperoleh informasi, manusia seringkali melakukan komunikasi ataupun cara-cara lain yang bisa digunakan. Salah satu informasi yang didapat dari komunikasi adalah pengetahuan. Pengetahuan sangat diperlukan bagi kehidupan manusia karena dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan. Dalam mencari pengetahuan, tak jarang manusia harus mempelajari Epistemologi.
Epistimologi merupakan cabang dari filsafat yang membicarakan mengenai sumber-sumber, karakteristik, sifat dan kebenaran pengetahuan. Epistimologi seringkali disebut dengan teori pengetahuan atau filsafat pengetahuan, karena yang dibicarakan dalam epistimologi ini berkenaan dengan hal-hal yang yang ada sangkut pautnya dengan masalah pengetahuan. Misalnya, Apakah pengetahuan itu? Dari mana Asalnya? Apakah sumber-sumber pengetahuan? Bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan? Dari mana pengetahuan yang benar? Apa yang menjadi karakteristik pengetahuan? Apakah pengetahuan itu tergolong benar atau keliru, dan sebagainya. Beberapa pertanyaan innilah yang kemuadian disebut dengan persoalan epistimologi.
- Rumusan Masalah
- Apa itu Epistimologi?
- Apa saja Cakupan Pokok Epistimologi?
- Apa Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?
- Apa Macam-Macam dan Penyebab Timbulnya Epistimologi?
- Apa saja aliran – aliran dalam efistimologi ?
- Tujuan Masalah
Setelah membaca dan mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa dapat:
- Mengetahui apa itu Epistimologi
- Mengetahui Cakupan Pokok Epistimologi
- Mengetahui dan memahami Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
- Mengetahui dan memahami Macam-Macam dan Penyebab Timbulnya Epistimologi
- Mengetahui dan memahami Aliran-aliran dalam efistimologi
BAB II
PEMBAHASAN
- Apa itu Epistimologi
Istilah epistimologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ‘episteme’ yang berarti pengetahuan, dan ‘logos’ yang berarti pikiran, teori atau ilmu. Jadi, epistimologi berarti teori atau metode tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah lain juga biasa digunakan, yaitu teori pengetahuan atau filsafat pengetahuan. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epistimologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas.
Menurut Poedjiadi (2001:13) epistimologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan, adapun yang dibahas antara lain adalah asal mula, bentuk atau struktur, dinamika, validitas dan metodologi, dan yang bersama-sama membentuk pengetahuan manusia.
Secara umum, Harold H. Titus (1984: 187-188) menyatakan bahwa epistimologi mengkaji tiga persoalan pokok, yaitu sebagai berikut :
- Apakah sumber-sumber pengetahuan? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya?
- Apakah sifat dasr pengetahuan? Apa ada alam yang benar-benar di luar pikiran kita? Kalau ada, apakah kita mengetahuinya?
- Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita dapat membedakan yang benar dan yang salah.
Menurut Mohammad Muslih (2005: 68), tiga persoalan pokok tersebut sekaligus merupakan objek formal dari epistimologi, yakni sebagai perspektif dalam melihat objek materialnya, dalam hal ini adalah pengetahuan. Inilah yang kemudian dikenal dengan hakikat pengetahuan, yang tak lain adalah jawaban atas beberapa persoalan pokok di atas.
Pada dasarnya, epistimologi merupakan satu upaya evaluatf dan kritis tentang pengetahuan (knowledge) manusia.
- Cakupan Pokok Epistimologi
- Sumber Pengetahuan
Sumber pengetahuan ialah apa yang menjadi titik-tolak atau apa yang merupakan objek pengetahuan itu sendiri. Sumber itu dapat bersifat atau berasal dari :dunia eksternal” atau juga terkait dan berasal dari “dunia internal” atau kemampuan subjek. Di tulisan ini akan diterangkan sebisa mungkin menyangkut sumber-sumber pengetahuan yang dicantumkan baik oleh Hosper maupun oleh Honderich. Ada lima sumber yang akan dibahas, apa sajakah itu mari lihat penjelasannya di bawah ini.
- Perception (Persepsi/Pengamatan Indrawi)
Persepsi adalah hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam. Adapun istilah yang lebih umum untuk istilah persepsi ini adalah empiri atau pengalaman. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang diterima dalam epistemology (Barat dan Islam). Ada beberapa pokok ciri pengalaman. Pertama, pengalaman indrawi selalu berhubungan dengna objek tertentu di luar si pengamat (subjek). Kedua, pengalaman manusia tidak seragam (pancaindra). Terakhir pengalaman manusia terus berkembang.
- Memory (Ingatan)
Pengetahuan, baik secara teoritis maupun praktis, banyak sekali mengandalkan ingatan. Pengalaman langsung atau tidak langsung harus didukung oleh ingatan agar hasil pengalaman itu dapat disusun secara logis dan sistematis (menjadi pengetahuan).
- Reason (Akal, Nalar)
Akal diterima sebagai salah satu sumber pengetahuan. Adapun pikiran atau penalaran adalah hal yang paling mendasar bagi kemungkinan adanya pengetahuan. Penalaran adalah proses yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan.
- Intuition (Intuisi)
Intuisi adalah “tenaga rohani”, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk menyimpulkan serta memahammi secara mendalam. Intuisi adalah pengenalan terhadap sesuatu secara langsung dan bukan melalui inferensi logis (deduksi-induksi). Intuisi timbul sebagai hasil pengamatan atau pengalaman.
- Authority (Otoritas)
Otoritas mengacu pada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih dan meiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan. Otoritas juga dapat berasosiasi atau berarti negatif bila otoritas itu justru bersifat dominasi, menindas dan otoritasnya tidak absah.
- Objek Pengetahuan
Objek pengetahuan adalah hal atau materi yang menjadi perhatian bagi pengetahuan (objek material). Dalam istilah epistemology, ini disebut dengan masalah ontology. Honderich (1995) menyatakan bahwa objek pengetahuan adalah: 1) gejala alam fisik, 2) masa lalu, 3) masa depan, 4) nilai-nilai (aksiologis), 5) abstraksi, 6) pikiran (philosophy of mind: our own experiences, our own inner states, other minds), (Honderich, 1995:931).
- Struktur Pengetahuan
Membahas bagaimana hubungan antara ilmuwan dengan sense atau data atau hal/objek yang diketahui (Hunnex, 1986:8). Hubungan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui tergambar dari beberapa pandangan, yaitu objektivitas, subjektivitas, skeptisisme, relativisme, dan fenomenalisme.
- Teori Atau Kriteria Kebenaran
- Teori kebenaran korespondesi
Menyatakan bahwa satu teori/proposisi benar bila proposisi atau teori itu sesuai dengan fakta (kenyataan). Kebenaran adalah kesetiaan pada realitas objektif. Teori kebenaran ini didukung dan diterima oleh pendukung epistemology empiris (positivisme ilmiah), seperti pada ilmu-ilmu alam atau ilmu sosial-budaya yang menuntut penerapan metode ilmu alam atau ilmu sosial-budaya.
- Teori kebenaran konsistensi atau koherensi
Dalam teori ini, kebenaran adalah apabila adanya saling hubungan antar putusan-putusan atau kesesuaian/ketaatasasan dengan kesepakatan atau pengetahuan yang telah dimiliki. Teori ini umumnya terdapat dalam matematika dan logika atau kelompokk epistemology idealism (epistemological idealism).
- Teori kebenaran pragmatis
Pragmatisisme adalah aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat akhir abad ke-19, yang menekankan pentingnya akal budi (rasio) sebagai sarana pemecahan masalah (problem solving) dalam kehidupan manusia baik masalah yang bersifat teoritis maupun praktis.
- Batas dan Jenis Pengetahuan
Tentang (criteria) batas pengetahuan, ada beberapa aliran/pandangan yang berbeda dan ini berkaitan erat dengan apa yang menjadi sumber pengetahuan bagi aliran tersebut. Beberapa jenis pengetahuan, antara lain:
- Pengetahuan biasa
- Pengetahuan ilmiah
- Pengetahuan filosofis
- Pengetahuan teologis
- Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Filsafat sering disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) dapat menjadi pembuka dan sekaligus ilmu pemungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. Kenapa demikian? Sebab filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosof melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai percabangan ilmu. Beberapa hal menunjukkan hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan antara lain:
- Filsafat mempunyai obyek yang lebih luas, sifatnya universal (universal science), sedangkan ilmu-ilmu pengetahuan obyeknya terbatas, khusus lapangannya saja.
- Filsafat hendak memberikan pengetahuan, insight/pemahaman yang llebih menalam dengan menunjukkan sebab-sebab terakhir sedangkan ilmu pengetahuan juga menunjukkan sebab, tetapi tak begitu mendalam.
- Filsafat memberikan syntesis kepada ilmu pengetahuan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikan.
- Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan ilmu pengetahuan, tetapi sudut pandangnya berlainan, jadi ini merupakan dua ilmu pengetahuan yang tersendiri.
Keduanya penting dan perlu serta kedua-duanya saling melengkapi. Tetapi harus pula saling menghormati dan mengenali batas-batas dan sifat-sifatnya masing-masing.
- Macam-Macam dan Penyebab Timbulnya Epistimologi
- Macam-Macam Epistimologi
- Epistimologi Metafisis
Epistimologi metafisis adalah epistomologi yang didasarkan atas asumsi metafisis (realita). Plato dan Hegel membicarakan bahwa pengetahuan bertolak belakang dari pandangan tentang metafisika (realitas) yang dianggap mendasari semua realitas.
- Epistimologi Skeptis
Epistimologi ini dari Rene Descartes, dia mengatakan bahwa ini adalah sebagai upaya untuk menemukan metode yang pasti, sehingga filsafat dan pengetahuan dapat mengatasi berbagai perbedaan dan pertentangan pendapat yang muncul. Cara yang digunakan yaitu dengan kesangsian metodis. Dari metode ini, descartes mau mendirikan bangunan filsafat yang kokoh dan terpercaya, suatu sistem yang didasarkan atas aksioma-aksioma dan tersusun menurut langkah-langkah yang logis.
- Epistimologi Kritis
Epistimologi kritis bertolak dari sikap kritis terhadap berbagai macam asumsi, teori dan metode yang ada dalam pemikiran (pengetahuan dan ilmu pengetahuan) serta yang ada dalam kehidupan kita. Pengetahuan, teori, metode, dan cara berfikir yang lama dikritisi, artinya dicari kelemahan/kekurangannya, kemudian dipayakan untuk merumuskan metode baru : cara berfikir baru yang dapa dipertanggungjawabkan dengan lebih rasional.
- Penyebab Timbulnya Pengetahuan
Menurut beberapa ahli, terdapat berbagai penyebab timbulnya pengetahuan, antara lain :
- Baruch Spinoza
- Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau mengalami pengalaman, baik pengalaman indera ataupun pengalaman bathin.
- Pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman
- Thomas Hobbes
Menurut Thomas, pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena pengalaman. Pengalaman adalah awal segala pengetahuan. Juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman.
- ocke
Menurut Locke, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Semua akal serupa dengan secarik kertas yang tanpa tulisan, yang menerima segala sesuatu yang datang dari pengalaman.
- Georgy Berkeley
Menurut Georgy Berkeley, segala pengetahuan kkita bersandarkan pada pengamatan. Pengamatan adalah identik dengan gagasan yang diamati.
2.5. Aliran-Aliran Epistemologi
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya :
1. Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang berasal dari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teoritabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu besar.
2. Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir, maka saya ada).
Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .
3. Positivisme
Tokoh aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan . Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme.
4. Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi.
5. Kritisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.
6. Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktifdapat diperoleh dari manusia denganakalnya.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Jadi, Epistemologi merupakan salah satu objek kajian dalam filsafat, dalam pengembangannya menunjukkan bahwa epistemologi secara langsung berhubungan secara radikal (mendalam) dengan diri dan kehidupan manusia. Pokok kajian epistemologi akan sangat menonjol bila dikaitan dengan pembahasan mengenai hakekat epistemologi itu sendiri. Kajian epistimologi ini bersumber dari beberapa hal yaitu : presepsi, ingatan, akal, intuisi dan otoritas. Serta penyebab timbulnya epistimologi adalah pengalaman, dan pengamatan dari manusia itu sendiri.
- Kritik dan Saran
Manusia dalam berbuat tentunya terdapat kesalahan yang sifatnya dari yang seharusnya. Terlebih dalam kegiatan menyusun makalah ini. Untuk itu, penulis harapkan dari pembaca dalam kritik dan saran guna perbaikan penyusunan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Susanto A. 2011. Filsafat Ilmu : Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta : Bumi Aksara
Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat-Suatu Pengantar. Jakarta : Rineka Salam,
Burhanuddin. 2009. Pengantar Filsafat. Jakarta : Bumi Aksara.
Lubis, A.Y. 2015. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta : Raja Grafindo Persada.