HAKIKAT BERPIKIR ILMIAH

TUGAS MAKALAH

HAKIKAT BERPIKIR ILMIAH

 Oleh

Nama Mahasiswa:Lindawati            : 20196013193           Reza Nur Falah  : 20196013191 Edi Sujarwo        : 20196013192
Dosen Pembimbing:Dr. Achmad Wahidy, M. Pd.

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

TAHUN PELAJARAN 2019-2020

 

KATA PENGANTAR

       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Hakikat Brpikir Ilmiah dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.


       Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna bagi para mahasiswa. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di makalah terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan karya tulis ilmiah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.


       Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.Sekiranya tulisan yang telah dibuat ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Daftar Isi

Kata pengantar ……………………………………………………..……………i

Daftar isi …………………………………………………………..…………………ii

Bab I pendahuluan ……………………………………………..…….…………..1

  1. Latar belakang……………………….……………………………………….1
    1. Rumusan masalah……………………………………………………………1
    1. Tujuan    ……………………………………………………………………..2

Bab II Pembahasan………………………………………………..………………..3

  • Hakikat Berpikir Ilmiah……………………………………………………..3
    • Sarana Berpikir Ilmiah……………………………………………………….5
    • Manfaat Berpikir Ilmiah……………………………………………………11
    • Ciri-ciri Berpikir Ilmiah………………………………………………….…12
    • Kelebihan dan Kelemahan Berpikir Ilmiah…………………………………15

Bab III penutup………………………………………………………………….17

3.1 kesimpulan……………………………………………………………………..17

Daftar pustaka……………………………………………………………………18

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakakang

Berpikir merupakan ciri utama manusia yang membedakannya dengan makh-luk lain. Dengan dasar berpikir manusia mengembangkan berbagai cara untuk dapat mengubah keadaan alam guna kepentingan hidupnya. Kegiatan berpikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manu-sia dalam memecahkan masalah. Secara garis besar berpikir dapat dibedakan men-jadi berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya, sedang-kan berpikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan pola dan sarana tertentu secara teratur.

Berpikir ilmiah merupakan berpikir dengan langkah-langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menguji hipotesis, menarik kesimpulan. Kesemua langkah-langkah berpikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat atau sarana yang baik sehingga diha-rapkan hasil dari berpikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik.

Berpikir ilmiah merupakan kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan hidupnnya di muka bumi. Manusia diberi akal untuk berpikir, bahkan untuk me-mikirkan dirinya sendiri. Namun demikian, berpikir yang benar adalah berpikir melalui metode ilmiah, sehingga hasil akan benar pula. Oleh karena itu penting untuk dikaji tentang berpikir ilmiah.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa itu hakikat berpikir ilmiah?
  2. Apa saja sarana berpikir ilmiah?
  3. Apa manfaat berpikir ilmiah?
  4. Bagaimana ciri-ciri berpikir ilmiah?
  5. Apa saja kelebihan dan kelemahan berpikir ilmiah?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui hakikat berpikir ilmiah.
  2. Untuk mengetahui sarana berpikir ilmiah.
  3. Untuk mengetahui manfaat berpikir ilmiah.
  4. Untuk mengetahui ciri-ciri berpikir ilmiah.
  5. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan berpikir ilmiah.

BAB II

PEMBAHASAN

  • Hakikat Berpikir Ilmiah dan Non-Ilmiah

Berpikir dengan mendasarkan pada kerangka fikir tertentu disebut sebagai penalaran atau kegiatan berpikir ilmiah. Dengan demikian tidak semua kegiatan berpikir dapat dikategorikan sebagai kegiatan berpikir ilmiah, dan begitu pula ke-giatan penalaran atau suatu berpikir ilmiah tidak sama dengan berpikir. ( Contoh dapat diambil dari kehidupan sehari hari kita ).

Pertama, perlu dipahami bahwa kegiatan penalaran adalah proses berfikir yang membuahkan sebuah pengetahuan. Selain itu, melalui proses pena-laran atau berpikir ilmiah berusaha mendapatkan sebuah kebenaran. Untuk menda-patkan sebuah kebenaran, kegiatan penalaran harus memehuni dua persyaratan penting, yakni logis dan analitis.

Syarat pertama adalah logis, dengan kata lain kegiatan berpikir ilmiah harus mengikuti suatu aturan atau memenuhi pola pikir (logika) tertentu.

Syarat kedua bagi kegiatan penalaran adalah analitis, atau melibatkan suatu analisa dengan menggunakan  pola fikir (logika).

Perbedaan berpikir ilmiah dari berpikir non-ilmiah memiliki perbedaan dalam dua faktor mendasar, yaitu:

  1. Sumber pengetahuan, berpikir ilmiah menyandarkan sumber penge-tahuan pada rasio dan pengalaman manusia, sedangkan berpikir non-ilmiah (intuisi dan wahyu) mendasarkan sumber pengetahuan  pada perasaan manusia.
  2. Ukuran kebenaran, berpikir ilmiah mendasarkan ukuran kebenarannya pada logis dan analitisnya suatu pengetahuan, sedangkan berpikir non-ilmiah (intuisi dan wahyu) mendasarkan kebenaran suatu pengetahuan pada keyakinan semata.

Uraian mengenai hakikat berpikir ilmiah atau kegiatan penalaran memper-lihatkan bahwa pada dasarnya, kegiatan berpikir adalah proses dasarnya dari pengetahuan manusia. Darinya, kita membedakan antara pengetahuan yang ilmiah dan pengetahuan non-ilmiah.

 Logika terbagi menjadi dua  bentuk, yaitu logika induktif dan logika deduktif.

  1. Logika Induktif;

Kegiatan penarikan kesimpulan melalui logika ini dimulai dari kasus yang khusus/khas/individual untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih umum/general/fundamental. Logika induktif memiliki berbagai guna bagi kegiatan berpikir ilmiah kita, antara lain:

  1. Bersifat ekonomis bagi kehidupan praktis manusia. Dengan logika induktif kita dapat melakukan generalisasi ketika kita mengetahui/menemui peristiwa yang sifatnya khas/khusus.
  2. Logika Induktif menjadi perantara bagi proses berpikir ilmiah selanjutnya. Ia merupakan fase pertama dari sebuah pengetahuan, yang selanjutnya dapat diteruskan untuk mengetahui generalisasi yang lebih fundamental lagi. Misal-nya ketika kita mendapatkan kesimpulan “semua hewan memiliki mata” lalu kita masukkan manusia ke dalam kelompok ini, bisa saja kita menyimpulkan “makhluk hidup memiliki mata”
  3. Logika Deduktif;

Logika Deduktif adalah kegiatan penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan yang umum untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih khusus. Pada umumnya, logika deduktif didapatkan melalui metode Sillogisme yang dicetuskan oleh Filosof Klasik, Aristoteles. Silogisme terdiri dari premis mayor yang mencakup pernyataan umum, premis minor yang merupakan pernyataan tentang hal yang lebih khusus, dan kesimpulan yang menjadi penyimpul dari kedua penyataan sebelumnya.

Pengertian Berpikir Ilmiah dan Non-Ilmiah

Berpikir ilmiah adalah berpikir yang logis dan empiris. Logis adalah masuk akal, dan  empiris adalah dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan, selain itu  menggunakan akal budi untuk mempertim-bangkan, memutuskan, dan mengembangkan. Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan.

Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan de-duksi. Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.

Sedangkan berpikir non ilmiah adalah kegiatan berpikir yang dilakukan oleh sesorang yang hanya menggunakan, akal sehat, perasaan, prasangka, dan intuisi yang kebenarannya diperoleh secara kebetulan tanpa melalui prosese pengumpulan data.

  • Sarana Berpikir Ilmiah

Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Mempu-nyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah.

Pengertian Sarana Berpikir Ilmiah menurut para ahli :

  1. Menurut Salam (1997:139): Berpikir ilmiah adalah proses atau aktivitas manusia untuk menemukan/mendapatkan ilmu. Berpikir ilmiah adalah proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
  2. Menurut Jujun S.Suriasumantri. Berpikir merupakan kegiatan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.

Berpikir secara ilmiah adalah upaya untuk menemukan kenyataan dan ide yang belum diketahui sebelumnya. Ilmu merupakan proses kegiatan mencari pengetahuan melalui pengamatan berdasarkan teori dan atau generalisasi. Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya dan selanjutnya hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan gejala alam. Adapun pengetahuan adalah keseluruhan hal yang diketahui, yang membentuk persepsi tentang kebenaran atau fakta.

Untuk itu terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science), dengan pengetahuan (knowledge), antara lain :

  1. Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudiro, Adm. Dan Management Umum 1982. Ilmu harus memiliki obyek, terminologi, metodologinya, filosofi dan teorinya yang khas.
  2. Menurut Prof.DR.Hadari Nawawi, Metode Penelitian  Bidang Sosial 1985. Ilmu juga harus memiliki objek, metode, sistematika dan mesti bersifat universal.

 Sumber-sumber pengetahuan manusia dikelompokkan atas: Pengalaman, Otoritas, Cara berpikir deduktif, Cara berpikir induktif , Berpikir ilmiah (pendekatan ilmiah). 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :

  1. Sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu melainkan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmu.
  2. Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. 

Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu :

  1. Peran Bahasa sebagai Sarana berpikir ilmiah

Bahasa ilmiah  berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa ilmiah merupakan sarana komuni-kasi  ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa penge-tahuan dengan syarat bebas dari unsur emotif,  reproduktif,  obyektif, eksplisit.

Bahasa pada hakikatnya mempunyai  dua fungsi utama yakni,

  1. Sebagai sarana komunikasi antar manusia.
  2. Sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut.

Ada dua pengolongan bahasa yang umumnya dibedakan yaitu :

  1. Bahasa alamiah yaitu bahasa sehari-hari yang digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas pengaruh alam sekelilingnya. Bahasa alamiah dibagi menjadi dua  yaitu: bahasa isyarat dan bahasa biasa.
    1. Bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akar pikiran untuk maksud tertentu. Bahasa buatan dibedakan menjadi dua bagian yaitu: bahasa istilah dan bahasa antifisial atau bahasa simbolik. Bahasa buatan inilah yang dikenal dengan bahasa ilmiah.
  • Peran Matematika sebagai sarana berpikir ilmiah

Matematika adalah bahasa yang melambaikan serangkaian makna dari per-nyataan yang ingin kita sampaikan.  Lambang-lambang matematika bersifat artificial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.  Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Mate-matika adalah bahasa yang berusaha menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa verbal.

Matematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang kuat dan jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan konsisten. Matema-tika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah.

  • Peran Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah

Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesim-pulan yang ditarik tersebut, yang pada dasarnya didasarkan pada asas yang sangat sederhana.

Peranan Statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan:

  1. Alat untuk menghitung besarnya anggota sampel yang akan diambil dari populasi.
    1. Alat untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen.
    1. Teknik untuk menyajikan data-data, sehingga data lebih komunikatif.
    1. Alat untuk analisis data seperti menguji hipotesis penelitian yang diajukan

Hubungan statiska antara Sarana berpikir Ilmiah Bahasa, Matematika dan Statistika, yaitu agar dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, di-perlukan sarana bahasa, matematika dan statistika. Bahasa merupakan alat komu-nikasi verbal yang dipakai dalam kegiatan berpikir ilmiah, dimana bahasa menjadi alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan yang memiliki ruang lingkup yang khas dan terbatas untuk menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Sedangkan deduktif,  merupakan cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, dengan memakai pola berpikir silogisme.

Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik.  Sedangkan tujuan mempelajari ilmu di-maksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari.

Fungsi berpikir ilmiah , sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan dalam kaitan kegiatan ilmiah secara keseluruhan. Dalam hal ini berpikir ilmiah merupa-kan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah. Pada hakikatnya sarana berpikir  ilmiah  merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditem-puhnya.

c). Komponen Ilmu Pengetahuan

Menurut Bahm, ilmu pengetahuan setidaknya melibatkan enam  komponen penting, diantaranya:

a). Masalah (Problems)

Masalah mana yang dianggap mengandung sifat ilmiah? Menurut Bahm, suatu masalah bisa dianggap ilmiah, sedikitnya memiliki tiga ciri: 1) terkait de-ngan komunikasi; 2) sikap ilmiah dan 3) metode ilmiah. Tidak ada masalah yang disebut ilmiah kecuali masalah tersebut bisa dikomunikasikan kepada orang lain.

b). Sikap (attitude)

Sikap ilmiah (scientific attitude) menurut Bahm setidaknya harus memiliki enam ciri pokok, yaitu:

  • Keingintahuan (curiosity).  Keingintahuan harus dimiliki oleh seorang ilmu-wan,  seperti keinginan untuk menyelidiki, investigasi, eksplorasi, dan ekspe-rimentasi.
  • Spikulasi (spiculativeness). Hal ini penting dalam rangka menguji hipotesis. Spikulasi juga merupakan ciri penting dalam sikap ilmiah.
  • Kesadaran untuk berlaku objektif (willingness to be objective). Sikap ini, sebab objektivitas merupakan  ciri ilmiah.  Menurut Bahm sikap objektif harus memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:
  • Memiliki sifat rasa ingin tahu terhadap apa yang diselidiki untuk memperoleh pemahaman sebaik mungkin. Melangkah dengan berdasarkan pada penga-laman dan alasan, artinya, pengalaman dan alasan saling mendukung, karena alasan yang logis dituntut oleh pengalaman;
  • Dapat menerima data sebagaimana adanya (tidak ditambah dan dikurangi). Hal ini terkait dengan sikap objkektif seorang ilmuwan. Bisa menerima peru-bahan (fleksibel, terbuka), artinya jika objeknya berubah, maka seorang ilmuwan mau menerima perubahan tersebut;
  • Berani menanggung resiko kekeliruan. Oleh sebab itu trial and error merupa-kan karakteristik dari seorang ilmuwan. Tidak mengenal putus asa, artinya gigih dalam mencari objek atau masalah, hingga mencapai pemahaman secara maksimal.
  • Terbuka (open mindedness), artinya selalu bersedia menerima kritik dan saran ilmuwan lain secara lapang dada.
  • Menangguhkan keputusan/penilaian (willingness to suspend judgment), artinya bersedia menangguhkan keputusan sampai semua bukti penting terkumpul.
  • Bersifat sementara, artinya harus menerima bahwa kesimpulan ilmiah bersifat sementara.
  • Metode (Method)

Menurutnya, bahwa ilmu pengetahuan adalah aktivitas menyelesaikan masalah dan melihat metode ilmiah sebagai sesuatu yang memiliki karakteristik yang esensial bagi penyelesaian masalah. Ada lima langkah esensial dan ideal –menurut Bahm– dalam menerapkan metode ilmiah yang harus dipahami oleh seorang peneliti (ilmuwan), yaitu 1) memahami masalah; 2) menguji masalah; 3) menyiapkan solusi; 4) menguji hipotesis  dan 5) memecahkan masalah.

  • Aktivitas (Activity)

Aktivitas dimaksud adalah penelitian ilmiah, yang memiliki dua aspek: indivi-dual dan sosial. Aktivitas penelitian ilmiah meliputi:  1) observasi; 2) membuat hiopotesis, 3) menguji observasi dan hipotesis dengan cermat dan terkontrol.

  • Kesimpulan (Conclusion)

Kesimpulan merupakan penilaian akhir dari suatu sikap, metode dan aktivi-tas.  Kesimpulan ilmiah tidak pasti, tetapi bersifat sementara dan tidak dogmatis. Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu bersifat tidak stabil, setiap generasi berhak untuk menginterpretasikan kembali tradisi ilmu pengetahuan itu.

  • Pengaruh (Effects)

Ilmu pengetahuan memiliki dua pengaruh, yaitu: 1) pengaruh terhadap tekno-logi dan industri; 2) pengaruh pada peradaban manusia. Industrialisasi yang ber-kembang dengan pesat merupakan produk dari ilmu pengetahuan yang mem-punyai dampak besar terhadap perkembangan ilmu, sehingga nampak seperti yang terjadi dalam perubahan sifat ilmu itu sendiri. Proses industrialisasi tidak akan dapat diputarulang yang akhirnya ilmu pengetahuan itu sendiri mengalami proses terindustrialisasi.

Komponen Ilmu Pengetahuan Menurut A.J. Bahm:

MasalahSikapMetodeAktivitasKesimpulanPengaruh
1. komunikasi1. keingintahuan1. memahami masalah1. observasi1. bersifat sementara dan tidak pasti1. terhadap teknologi dan industri
2. sikap ilmiah2. spekulatif2. menguji masalah2. membuat hepotesis 2. peradaban manusia.
3. metode ilmiah3. objektif3. menyiapkan solusi3. mengujia observasi dan hepotesis  
 4. terbuka4. menguji hepotesis   
 5. menagguhkan penilaian5. memecahkan masalah   
 6. bersifat sementara    
  • Manfaat berpikir ilmiah
    • Seseorang yang selalu berpikir ilmiah tidak akan mudah percaya terhadap sesuatu.
    • Pendapatnya akan dapat dipercaya dan diterima orang lain.
    • Dalam memecahkan masalah tidak dengan emosi.

Berpikir imiah bukanlah berpikir biasa. Berpikir ilmiah adalah berpikir yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara yang berdisiplin, di mana seseorang yang tidak akan membiarkan ide dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah namun semuanya itu diarahkan pada satu tujuan tertentu. Tujuan ter-tentu dalam hal ini adalah pengetahuan. Berpikir keilmuan, atau berpikir sungguh-sungguh adalah cara berpikir yang didisiplinkan dan diarahkan kepada penge-tahuan.

Pada hakikatnya, berpikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif. Masing – masing penalaran ini berkaitan erat dengan rasionalisme atau empirisme.

2.4 Ciri-ciri Berpikir Ilmiah

Cara berpikir itu tidak saja terkait dalam kegiatan riset, atau pada saat mengi-kuti perkuliahan di ruang kelas, tetpi juga dalam segala tindakan sehari-hari. Ada empat ciri berpikir ilmiah, yaitu sebagai berikut :

  1. Harus obyektif

Seorang ilmuwan dituntut mampu berpikir obyektif atau apa adanya. Seorang yang berpikir obyektif selalu menggunakan data yang benar. Disebut sebagai data yang benar, apabila data itu diperoleh dari sumber dan cara yang benar. Sebalik-nya data yang tidak benar oleh karena diperoleh dengan cara yang tidak benar. Data itu dibuat-buat, misalnya data yang benar adalah data yang benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak kurang dan tidak lebih.

Ternyata untuk mendapatkan data yang benar juga tidak mudah. Lebih mudah mendapatkan data palsu. Seorang ilmuwan harus mampu membedakan antara data yang benar itu dari data yang palsu. Data yang benar tidak selalu mudah menda-patkannya, dan hal itu sebaliknya adalah data palsu. Banyak orang berpikir salah, oleh karena mendasarkan pada data yang salah atau bahkan data palsu. Dari ke-nyataan seperti ini, maka seorang yang berpikir ilmiah, harus hati-hati terha-dap  data yang tersedia.

  • Rasional  atau Masuk Akal

Seorang berpikir ilmiah harus mampu menggunakan logika yang benar. Mereka bisa mengenali kejadian atau peristiwa mulai apa yang  menjadi sebab dan apa pula akibatnya. Segala sesuatu selalu mengikuti  hukum sebab dan akibat. Bahwa sesuatu ada, maka pasti ada yang mengadakan. Sesuatu menjadi berkem-bang, oleh karena ada kekuatan yang mengembangkan. Seseorang menjadi marah oleh karena terdapat sebab-sebab yang menjadikannya marah. Manakala sebab itu tidak ada, tetapi tetap marah, maka orang dimaksud dianggap di luar kebiasaan,  atau tidak masuk akal.

Orang berikir ilmiah tidak akan terjebak atau terpengaruh oleh hal-hal yang tidak masuk akal. Informasi, pendapat atau pandangan baru bagi seseorang yang selalu berikir ilmiah tidak segera diterimanya. Mereka akan mencari tahu infor-masi itu tentang sumbernya, siapa yang membawa, dan kalau perlu diuji terlebih dahulu atas kebenarannya. Begitu pula tatkala menghadapi pandangan atau pendapat, maka seorang yang berpikir ilmiah akan berusaha mendapatkan alasan atau dasar-dasar yang digunakan hingga muncul pandangan atau pendapat itu. Atas sikapnya seperti itu, maka seorang yang berpkir ilmiah dianggap kritis.

  • Terbuka

Ia selalu memposisikan diri bagaikan gelas yang terbuka dan  masih bisa diisi kembali. Seorang yang terbuka adalah selalu siap mendapatkan masukan, baik berupa pikiran, pandangan, pendapat dan bahkan juga data atau informasi baru dari manapun asal atau sumbernya. Ia tidak segera menutup diri, bahwa hanya pendapatnya sendiri saja yang benar dan selalu mengabaikan lainnya dari mana pun asalnya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak akan tertutup dan apalagi menutup diri.

  • Berorientasi pada Kebenaran

Seorang yang berpikir ilmiah sanggup merasa kalah tatkala buah pikirannya memang salah. Kekalahan itu tidak dirasakan sebagai sesuatu  yang mengecewa-kan dan menjadikan dirinya  merasa rendah. Seorang yang berpikir ilmiah lebih mengedepankan kebenaran daripada sekedar kemenangan. Kebenaran menjadi tujuan utamanya. Oleh karena itu, seseorang yang berpikir ilmiah, dalam suasana apapun harus mampu mengendalikan diri, agar tidak bersikap emosional, subyek-tif, dan tertutup.

Jadi, berpikir ilmiah memiliki ciri-ciri, diantaranya pendapat atau tindakannya melalui penelitian; pendapatnya sesuai kebenaran; terdapat data-data atau bukti dalam menunjukkan hasilnya; dan tidak berdasarkan perkiraan atau hanya sekedar pendapat.

  • Langkah – langkah Berpikir Ilmiah

Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis, empiris, dan terkontrol. Langkah-Langkah Metode Ilmiah :

  1. Merumuskan masalah.

Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan ada-nya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya. Permusan masalah adalah sebuah keharusan.

  • Merumuskan hipotesis.

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih me-merlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuh-kannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipo-tesis yang telah dirumuskan.

  • Mengumpulkan data.

Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-taha-pan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memili-ki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipote-sis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.

  • Menguji hipotesis.

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya meru-pakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun mene-rima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Se-makin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derajat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipo-tesis itu sendiri.

  • Merumuskan kesimpulan.

Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk me-nulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun di-anggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.

2.5Kelebihan dan Kelemahan Berpikir Ilmiah

Metode berpikir ilmiah memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan-kelebihan berpikir ilmiah, diantaranya:

  1. Metode ilmiah lebih bisa dipertanggung jawabkan, dikarenakan adanya bukti-bukti yang konkret dan ada ukuran yang jelas;
  2. Jelas, dapat di buktikan dan dapat diamati langsung oleh alat indra pada manusia;
  3. Dapat dijadikan satuan atau tolok ukur untuk penelitian-penelitian selanjutnya, bila tidak terdapat kesalahan;
  4. Mengajarkan pada manusia untuk menatap realita dan segala sesuatu yang ada;
  5. Operasional, dapat di gunakan dan di amalkan dalam kehidupan keseharian; dan
  6.  Logis, karena dapat di buktikan oleh semua orang.

Adapun kelemahan-kelemahan dari berpikir ilmiah yaitu yang pertama, metode berpikir ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada kajian objek-objek material yang dapat diindra. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang asli. Melakukan pengamatan terhadap materi tersebut serta berbagai kondisi dan faktornya yang ada, baik yang alami maupun yang telah mengalami perlakuan. Dari proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa fakta material yang dapat diindera.

Kedua, metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapuasan seluruh infor-masi sebelumnya tentang objek yang dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kemudian  memulai  pengematan dan percobaan atas materi. Setelah melakuakan pengamatan dan percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan berdasarkan sejumlah premis ilmiah.

Ketiga, kesimpulan yang didapat  ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan). Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diung-kapkan dalam literatur lain. Misalnya, “Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat kongkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara entologi, ilmu membatasu dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang membedakan antara ilmu dan agama. Perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan perbedaan metode dalam memecahkan masalah  tersebut”.

Bab III

Penutup

3.1 Kesimpulan

Sarana berpikir ilmiah merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang akan ditempuh agar memperoleh pengetahuan dengan benar. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah agar dapat melakukan kegiatan penelaahan ilmiah dengan baik untuk memperoleh pengetahuan yang benar sehingga dapat meningkatkan kemakmuran hidup. Keseluruhan tahapan kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu yang berupa sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah berfungsi hanyalah sebagai alat bantu bagi manusia untuk berpikir ilmiah agar memperoleh ilmu. Bahasa merupakan sarana mengkomunikasikan cara-cara berpikir sistematis dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar. Logika sebagai sarana berpikir ilmiah mengarahkan manusia untuk berpikir dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Logika membantu manusia dapat berpikir dengan sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika ingin melakukan kegiatan berpikir dengan benar maka harus menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang logis. Logika dapat membedakan antara proses berpikir yang benar dan proses berpikir yang salah. Statistika tidak boleh dipandang sebelah mata oleh orang yang ingin mampu melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Penguasaan statistika 14 sangat diperlukan bagi orang-orang yang akan menarik kesimpulan dengan sah. Statistika harus dipandang sejajar dengan matematika. Kalau matematika merupakan sarana berpikir deduktif maka orang dapat menggunakan statistika untuk berpikir induktif. Berpikir deduktif dan berpikir induktif diperlukan untuk menunjang kegiatan ilmiah yang benar sehingga akan menghasilkan suatu pengetahuan yang benar pula.

Daftar Pustaka

https://www.academia.edu/14844724/BERPIKIR_ILMIAH_DAN_NON_ILMIAH

http://rizaasyiyah.blogspot.com/2014/12/berpikir-ilimah-disusununtukmemenuhi.

.html

Klik untuk mengakses rafy1336983258.pdf

http://mimipermanisuci26.blogspot.com/2014/04/hakikat-berpikir-penalaran-dan-logika.html

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai