FILSAFAT ( DEFENISI DAN RUANG LINGKUP ) DAN PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti bahasanya adalah cinta akan kebenaran

Filsafat merupakan pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  

Menurut Philosophos(ahli filsafat), harus mempunyai pengetahuan luas sebagai pengenjawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran dan mulai benar-benar jelas digunakan pada masa kaum sophis dan socrates yang memberi arti philosophein sebagai penguasaan secara sistematis terhadap pengetahuan teoretis. Philosopiaadalah hasil dari perbuatan yang disebut Philosophein , sedangakan philosophosadalah orang yang melakukan philosophien. Dari kata philosophiaitulah timbul kata-kata philosophie (Belanda, Jerman, Perancis), philosophy(Inggris). Dalam bahasa Indonesia disebut falsafat (Soerjabrata 1970 dalamBakhtiar 2011)

Belajar filsafat pada umumnya menjadikan manusia lebih bijaksana. Bijaksana artinya memahami pemikiran yang ada dari sisi mana pemikiran itu disimpulkan. Memahami dan menerima sesuatu yang ada dari sisi mana keadaan itu ada.

Ciri-ciri berfikir filosfi :

      1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.

2.  Berfikir secara sistematis.

3.    Menyusun suatu skema konsepsi, dan

4.       Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

      1.    Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika

2.    Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.

3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Sedangkan manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.

  • Rumusan Masalah

      Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apa pengertian / defenisi filsafat menurut para ahli  dan apa saja yang menjadi ruang lingkup filsafat ?
  2. Apa pengertian / defenisi teori Manajemen Pendidikan ?
  3. Bagaimana perkembangan teori Manajemen Pendidikan dan ruang lingkupnya ?
  4. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :

  1. Sebagai tugas Presentasi pada mata kuliah Filsafat Ilmu program Pasca Sarjana Univ. PGRI Palembang.
  2. Sebagai sarana Untuk mengetahui pengertian filsafat secara umum dan teori manajemen dalam pendidikan dari para ahli.

BAB II.

 ISI

  1. Defenisi Filsafat

1.1 Definis Filsafat menurut para ahli

Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan.

Pengertian filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda serta hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi yakni secara etimologi dan terminologi.

Filsafat secara etimologi

Kata filsafat dalam bahasa Arab dikenal denga istilah Falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal istilah Phylosophy serta dalam bahasa Yunani dengan istilah Philosophia. Kata Philosophiaterdiri atas kata phileinyang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijasanaan (  wisdom) sehingga secara etimologis istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan ( love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf dalah

pencinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Phytagoras

(582−486 SM). Arti filsafat pada waktu itu, kemudian filsafat itu diperjelas seperti yang banyak dipakai sekarang ini dan juga digunakan oleh Socrates (470−390 SM) dan filsuf lainnya.

b.Filsafat secara terminologi

Secara terminologi adalah arti yang dikandung oleh istilah filsafat. Hal ini disebabkan batasan dari filsafat itu sendiri banyak maka sebagai gambaran diperkenalkan beberapa batasan sebagai berikut.

1)Plato, berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli karena kebenaran itu mutlak di tangan Tuhan.

2)Aristoles, berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, dan estetika.

3)Prof. Dr. Fuad Hasan, filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akaranya suatu hal yang hendak dipermasalahkan.

4) Immanuel Kant,filsuf barat dengan gelar raksasa pemikir Eropa mengatakan filsafat adalah  ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan:

a)apa dapat kita ketahui, dijawab oleh metafisika?

b)apa yang boleh kita kerjakan, dijawab oleh etika?

c)apa yang dinamakan manusia, dijawab oleh antropologi? dan

d)sampai di mana harapan kita, dijawab oleh agama?

5)Rene Descartes,mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakikat bagaimana alam maujud yang sebenarnya.

Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti bahasanya adalah cinta akan kebenaran.

Bertnard Russel menyatakan bahwa filsafat adalah the attempt to answer ultimate question critically   (Joe Park, Selected Reading in the Philosophy of Education , 1960:3). D.C. Mulder (Pembimbing ke Dalam Ilmu Filsaat , 1966:10) mendefinisikan filsafat sebagai pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.

William James (Encyclopedia of Philosophy , 1967:219) menyimpulkan bahwa filsafat ialah a collective name for question which have not been answered to the satisfication of all that have asked them. 

Hasbullah Bakry ( Sistematik Filsafat , 1971:11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

                  Poedjawijatna ( Pembimbing ke Alam Filsafat , 1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam – dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka

Dalam pemikiran yang lebih luas Harold Titus mengemukakan beberapa pengertian filsafat sebagai berikut:

1.   Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.

2.   Filsafat adalah suatu usaha untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan.

3.   Filsafat adalah analisa logis dari bahasan serta penjelasan tentang arti konsep.

4.   Filsafat adalah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.

Menurut Harun Nasution, intisari dari filsafat ialah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas dalam artian tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama, dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.

Sebenarnya, pemikiran yang bersifat falsafi didasarkan atas pemikiran yang bersifat spekulatif, maka nilai-nilai kebenaran yang dihasilkannya juga tak terhindar dari kebenaran yang bersifat spekulatif. Hasilnya akan tergantung dari pandangan para filosof itu masing-masing. Pola dan sistem berpikir filosofis dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:

1. Cosmologi, yaitu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta,  ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia, proses kejadian dan perkembangannya, dan sebagainya.

  2. Ontologi, yaitu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis pada akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah sang pencipta itu satu zat (monisme), ataukah dua (dualisme), ataukah banyak (pluralisme).

1.2  Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Ruang lingkup filsafat ilmu menurut Jujun Suriasumantri (dalam Nasiwan, 2010:6) dilandaskan atas tiga hal, ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Berikut penjelasannya:

TAHAPAN
Tahapan Ontologi (Hakikat Ilmu)1.    Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? 2.    Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? 3.    Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? 4.    Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? 5.    Bagaimana prosedurnya?
Epistimologi (Cara Mendapatkan Pengetahuan)1.    Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? 2.    Bagaimana prosedurnya? 3.    Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? 4.    Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? 5.    Apa kriterianya? 6.    Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
Aksiologi (Guna Pengetahuan)1.    Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? 2.    Bagaiman kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? 3.    Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? 4.    Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?
  • Defenisi Teori Manajeman Pendidikan

2.1 Defenisi Teori Manajeman Pendidikan menurut beberapa ahli

Setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti sekolah akan sangat memerlukan manajemen untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana sampai tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam prosesnya, maka makna pentingnya manajemen semakin jelas bagi kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan.

Dalam kaitannya dengan makna manajemen Pendidikan berikut ini akan dikutip  beberapa pengertian manajemen pendidikan yang dikemukakan para ahli

Administrasi pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien ( Djam’an Satori, (1980: 4)

Castetter. (1996:198) educational administration is a social process that take place within the context of social system

Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan  ( Soebagio Atmodiwirio. (2000:23)

Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama  (Engkoswara (2001:2)

Dengan memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa manajemen pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen atau administrasi dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi administrasi pendidikan merupakan alat untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.

2.2.   Perkembangan dan  Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

  • Perkembangan Teori Manajemen Pendidikan

Perjalanan teori manajemen sejak latar belakang munculnya tidak terlepas dari manajemen dalam perspektif dunia perusahaan (company), namun lambat laun berkembang pada ranah-ranah yang lain, baik institusi, organisasi serta layanan publik (public service) lainnya, termasuk dalam lembaga pendidikan—sebagai lembaga pelayanan publik. Dengan pandangan tersebut lahirlah beberapa teori majemen sesuai dengan masanya. Lahirnya teori-teori manajemen adalah disebabkan hubungan antara industri dengan teori manajemen dan perhatian terhadap metode, yaitu integrasi manajemen dan ilmu.

Ada sejumlah pandangan tentang tahap perkembangan teori manajemen pendidikan. Para ahli manajemen mengkalsifikasikan perkembangan teori manejemen sendiri dalam bentuk fase, ada juga berdasarkan tahap atau tahun, ada pula yang berdasarkan pendekatan. Menurut Nanang Fatah (2000: 22-32), bahwa teori manajemen dibagi menjadi tiga macam fase, yaitu:   

1.      Teori Klasik

Teori klasik berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logik, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Oleh karena itu, teori klasik berangkat dari premis bahwa organisasi bekerja dalam proses yang logis dan rasional dengan pendekatan ilmiah dan berlangsung menurut struktur/anatomi organisasi.

Teori klasik ini juga dipelopori oleh beberapa tokoh. Salah satunya adalah Frederik Winslow Taylor (1856-1915), dia dikenal sebagai pelopor manajemen ilmiah (scientific management). Bapak manajemen ilmiah ini berpandangan bahwa yang menjadi sasaran manajemen adalah mendapatkan kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawannya. Untuk itu, manajemen harus melaksanakan prinsip-prinsip:

1) perlunya dikembangkan ilmu bagi setiap tugas, 2) pemilihan karyawan yang tepat sesuai dengan persyaratan kerja, 3) perlunya pelatihan dan pemberian rangsangan, 4) perlunya dilakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan. Taylor telah memuaskan perhatiannya pada lima langkah: seleksi orang, menemukan metode kerja yang paling baik, merancang sarana kerja yang cocok serta memanfaatkan, melatih  dan memotivasi karyawan (Tulus, 1996: 7-8).  

Taylor mempersamakan manusia dengan mesin. Mesin akan bekerja baik bila dipelihara dan dilumasi dengan baik, demikian pula halnya dengan manusia. Bila mengkritisi apa yang menjadi konsep Taylor tentang manajemen, maka ternyata Taylor telah kehilangan penglihatan terhadap hal-hal yang esensial, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif, memiliki perasaan, emosi, serta kecerdasan. Taylor memiliki perihal peranan manajemen dan kebutuhan akan peningkatan produktivitas, namun dia tidak tahu bagaimana menggugah semangat kerja para karyawan.

Pelopor manajemen klasik lainnya adalah Henri Fayol (1916), di mana dia menerbitkan Administration Industrielle et Generale yang berisi lima pedoman manajemen yaitu: 1) perencanaan, yaitu mempelajari masa yang akan datang dan  menyusun rencana kerja, 2) pengorganisasian, pengorganisasian tenaga kerja dan bahan, 3) pengkomandoan, yaitu menjuruskan para pegawai untuk melaksanakan pekerjaan mereka, 4) pengkoordinasian, yaitu menyatukan dan mengkorelasi semua kegiatan, dan pengawasan yaitu memeriksa bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dan instruksi-instruksi yang telah diberikan (Sukiswa, 1986: 14).

Teorinya ini kemudian dilengkapi oleh Gullick dan Urwick (1930) dengan tujuh prinsip teorinya, yaitu Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgetting. Di mana ketujuh istilah tadi merupakan sebuah proses dari kegiatan manajemen.

Di samping teori-teori di atas, masih banyak lagi teori-teori manajemen klasik lainnya yang memaparkan konsep-konsep manajemen yang menyatakan bahwa keterampilan manajemen dapat diterapkan pada sebuah jenis kelompok kegiatan atau institusi formal lainnya. Dengan perkembangan waktu, terjadi pergeseran nilai pengaruh dari globalisasi dimana organisasi-organisasi semakin berkembang. Dengan demikian, teori klasik inipun, terdapat kelemahan-kelemahan, seperti yang dikemukaan oleh Filley, Kerr, dan Hous (1976), sebagai berikut:

a.       Teori klasik adalah teori yang terikat waktu. Teori ini cocok diterapkan pada permulaan abad 20-an, karena motif pekerja waktu itu terutama memenuhi kebutuhan fisiologis.

b.      Teori klasik mempunyai ciri-ciri deterministik. Teori sangat menekankan pada prinsip-prinsip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam manajemen seperti motivasi, pengambilan keputusan dan hubungan informal.

c.       Banyak asumsi yang lemah dan tidak lengkap secara implisit terdapat dalam teori klasik itu, antara lain: efisiensi hanya diukur oleh tingkat produktivitas yang hanya menyangkut penggunaan sumber secara ekonomis tanpa memperhitungkan faktor manusiawi. 

2.      Teori Neo-Klasik

Teori ini muncul sebagai respon atas kelemahan teori klasik dengan asumsi, bahwa manusia itu makhluk sosial yang mempunyai pengaruh besar terhadap produktivitas dalam dunia kerja. Dengan itu, kemudian Elton Mayo melahirkan teorinya tentang studi hubungan antarmanusia (Human Relationship) atau tingkah laku manusia dalam situasi kerja (Fatah, 2000: 25). Rekan Mayo juga seperti Roethlessberger dan Dickson dalam serial experiment yang terkenal di Howtherne Work of the Western Electric Company di Chicago menguraikan lebih luas lagi apa yang diinginkan karyawan, sebagai berikut: 1) mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan senang dan merasakan bahwa tugasya penting bagi kemajuan perusahaan; 2) mereka ingin diperlakukan secara baik oleh atasannya, adanya penghargaan atau pujian atas pekerjaannya; 3) adanya suasana keterbukaan atas perubahan-perubahan yang terjadi dan bisa terlibat di dalamnya; dan 4) menyangkut pembayaran mereka lebih tertarik dengan system pembayaran paket daripada dengan total jumlah saja (Dale dan Michelon: 26-28).

Seperti yang dikemukakan Chester L Barnad (1976), yang menyatakan bahwa hakikat organisasi adalah kerjasama, yaitu kesediaan orang saling berkomunikasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama. Artinya, suatu manajemen dapat bekerja secara efisien dan tetap hidup jika tujuan organisasi dan kebutuhan perorangan yang bekerja pada organisasi itu dijaga seimbang (Fatah, 200: 25).

Tokoh dari aliran Neo-Klasik ini, menurut Filley, et.al., (dalam Fatah, 2000: 26) adalah Vromm dengan teori Harapan (Ekspektasi) mendasarkan pada dua asumsi, berikut:

a.       Manusia biasanya meletakkan nilai kepada suatu yang diharapkan dari hasil karyanya. Oleh karena itu ia mempunyai urutan kesenangan (preferences) di antara sekian banyak hasil ia diharapkan.

b.      Suatu usaha untuk menjelaskan tentang motivasi yang terdapat pada seseorang selain harus mempertimbangkan hasil yang dicapai, juga mempertimbangkan keyakinan orang bahwa yang dikerjakannya memberikan sumbangan terhadap tujuan yang diharapkan. 

  3.  Teori Manajemen Modern

Teori manajemen modern bersifat situasional, maksudnya adalah disesuaikan menurut situasi yang dihadapi dan kondisi lingkungan. Menurut Murdick dan Ross, sistem itu terdiri dari individu, organisasi formal, organisasi informal, gaya kepemimpinan dan perangkat fisik yang satu dan lain saling berhubungan (Fatah, 2000: 28).

William A. Shrode dan D. Voich mendefinisikan sistem sebagai berikut: A sistem is a set of interrelated parts, working independently and jointly, in pursuit of common objectives of the whole within a complecs environment. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh Fitz Gerald dan Stalling, sistem diartikan sebagai berikut: A sistem can be defined as a network of interrelated procedures that are joint together to perform activities or to accomplish a specific objectives. It is, in effect, all ingredient which make up the whole (Fatah, 2000: 29).

Dari pengertian tentang sistem dapat diidentifikasi bahwa sistem mempunyai makna: 1) terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan satu dengan lainnya, 2) bagian-bagian yang saling berhubungan itu dapat berfungsi dengan baik secara independen secara bersama-sama, 3) berfungsinya bagian-bagian tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan umum secara keseluruhan, dan 4) suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian itu berada dalam suatu lingkungan yang kompleks.        

  • Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

Menurut Engkoswara (2001:2) wilayah kerja manajemen pendidikan dapat digambarkan secara skematik sebagai berikut :

Perorangan
Garapan  FungsiSDMSBSFD
PerencanaanTPP
Pelaksanaan
Pengawasan
Kelembagaan

gambar di atas menunjukan suatu kombinasi antara fungsi manajemen dengan bidang garapan yakni sumber Daya manusia (SDM), Sumber Belajar (SB), dan Sumber Fasilitas dan Dana (SFD), sehingga tergambar apa yang sedang dikerjakan dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk mencapai Tujuan Pendidikan secara Produktif (TPP) baik untuk perorangan maupun kelembagaan Lembaga pendidikan seperti organisasi sekolah merupakan kerangka kelembagaan dimana administrasi pendidikan dapat berperan dalam mengelola organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu organisasi dalam hal ini sekolah, administrasi pendidikan dapat dilihat dalam tiga tingkatan yaitu tingkatan institusi (Institutional level), tingkatan manajerial (managerial level), dan tingkatan teknis (technical level) (Murphy dan Louis, 1999). Tingkatan institusi berkaitan dengan hubungan antara lembaga pendidikan (sekolah) dengan lingkungan eksternal, tingkatan manajerial berkaitan dengan kepemimpinan, dan organisasi lembaga (sekolah), dan tingkatan teknis berkaitan dengan proses pembelajaran. Dengan demikian manajemen pendidikan dalam konteks kelembagaan pendidikan mempunyai cakupan yang luas, disamping itu bidang-bidang yang harus ditanganinya juga cukup banyak dan kompleks dari mulai sumberdaya fisik, keuangan, dan manusia yang terlibat dalam kegiatan proses pendidikan di sekolah.

Menurut Consortium on Renewing Education (Murphy dan Louis, ed. 1999:515) Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk modal yang perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan yaitu :

1. Integrative capital (modal integrative)

2. Human capital (modal manusia)

3. Financial capital (modal keuangan)

4. Social capital (modal social)

5. Political capital (modal politik)

Modal integratif adalah modal yang berkaitan dengan pengintegrasian empat modal lainnya untuk dapat dimanfaatkan bagi pencapaian program/tujuan pendidikan. Modal manusia adalah sumberdaya manusia yang kemampuan untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan proses pendidikan/pembelajaran. Modal keuangan adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan dan memperbaiki proses pendidikan. Modal sosial adalah ikatan kepercayaan dan kebiasaan yang menggambarkan sekolah sebagai komunitas. Modal politik adalah dasar otoritas legal yang dimiliki untuk melakukan proses pendidikan/pembelajaran.

Dengan pemahaman sebagaimana dikemukakan di atas, nampak bahwa salah satu fungsi penting dari manajemen pendidikan adalah berkaitan dengan proses pembelajaran, hal ini mencakup mulai dari aspek persiapan sampai dengan evaluasi untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam hubungan ini sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang melakukan kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu mengelola kegiatan tersebut dengan baik karena proses belajar mengajar ini merupakan kegiatan utama dari suatu sekolah (Hoy dan Miskel 2001). Dengan demikian nampak bahwa Guru sebagai tenaga pendidik merupakan faktor penting dalam manajemen pendidikan, sebab inti dari proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah guru, karena keterlibatannya yang langsung pada kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu Manajemen Sumber Daya Manusia Pendidik dalam suatu lembaga pendidikan akan menentukan bagaimana kontribusinya bagi pencapaian tujuan, dan kinerja guru merupakan sesuatu yang harus mendapat perhatian dari fihak manajemen pendidikan di sekolah agar dapat terus berkembang dan meningkat kompetensinya dan dengan peningkatan tersebut kinerja merekapun akan meningkat, sehingga akan memberikan berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan sejalan dengan tuntutan perkembangan global dewasa ini.

BAB III.

 KESIMPULAN

Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan, filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah atau kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, ilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana. Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher, atau filsuf dalam bahasa Arab. Dan pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.

Teori  manajemen dari masa ke masa mengalami perkembangan baik cara pendekatan teoritis dan impelementasinya serta dari setiap perkembangan teori memiliki kelemahan dan kelebihan. Perkembangan teori manajemen diantaranya, yaitu: teori klasik, teori neo-klasik dan teori manjemen modern. Teori klasik berpijak pada asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional dan mampu berpikir logis. Karenanya, manusia akan bekerja dalam proses yang logis dan rasional sesuai dengan struktur organisasi. Kemudian, sebagai kritik atas teori klasik, teori neo-klasik berpandangan bahwa manusia adalah makluk sosial selalu berinteraksi satu sama lain. Dengan demikian, manajemen akan berhasil jika kebutuhan organisasi dan individu sama-sama terpenuhi. Sedangkan teori modern berpandangan bahwa organisasi adalah satu kesatuan sistem dengan tujuan tertentu atas bagian-bagian yang saling berhubungan. Jadi, semua bagian yang ada dalam organisasi sama-sama memiliki peran penting dalam pencapaian sebuah tujuan. 

Manajemen pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

S. Suriasumantri, Jujun.  Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum , Bandung: Rosdakarya, 1997.

Suaedi. Pengantar Filsafat Ilmu. IPB Press : Bogor. 2016

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai