MAKALAH TENTANG
DEFINISI SAINS, ALIRAN DALAM SAINS, DAN CONTOH PENGETAHUAN SAINS
Disusun untuk Memenuhi Tugas mata Kuliah
FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN TEORI
MANAJEMEN PENDIDIKAN
DI SUSUN OLEH :
(KELOMPOK 5 )
- NENY SULVIANA NIM. 20196013188
- HARDI JANSA NIM. 20196013189
- EMI YANTI NIM. 20196013190
DOSEN MATA KULIAH :
Dr. AHMAD WAHIDY, M.Pd
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu Manajemen Pendidikan yang berjudul tentang “Definisi Sains, Aliran Dalam Sains Dan Contoh Pengetahuan Sains”.
Tujuan kami dalam menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas Mata kuliah Filsafat Ilmu. Meskipun telah berusaha secara maksimal untuk membuat makalah ini, namun makalah ini belum sempurna karena manusia mempunyai keterbatasan, kekurangan dan kesalahan.
Pepatah mengatakan bahwa tak ada gading yang tak retak. Demikian pula dengan penyusunan makalah ini yang tentunya masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memberikan hasil yang sesuai dengan harapan. Semoga dapat membawa kebaikan dan manfaat bagi para pembaca.
Palembang, November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang 1
- Rumusan Masalah……………………………………………………………………… 3
- Tujuan Penulisan 3
- Metodologi penulisan…………………………………………………………………. 3
BAB II PEMBAHASAN
- Definisi Sains 4
- Aliran-aliran Dalam Sains 6
- Contoh Dari Pengetahuan Sains 9
BAB III PENUTUP
- Kesimpulan 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sains atau ilmu pengetahuan pada zaman klasik tak terpisah dengan filsafat. Para filsuf terdahulu seperti Aristoteles dan Plato selalu mendasarkan penyelidikannya pada metafisika. Plato misalnya, menyatakan bahwa pengetahuan yang kita punya saat ini adalah bawaan dari alam idea. Proses berfikir ia samakan dengan proses mengingat apa-apa yang pernah dilihat oleh manusia di alam idea dahulu. Baginya, pengetahuan manusia bersifat apriori (mendahului pengalaman). Begitu pula dengan para filsuf-filsuf sebelumnya. Sejak Thales dan para pemikir sebelum Sokrates dan Kaum Shopis, mereka menumpahkan perhatian filsafatnya pada proses kejadian alam semesta, yang berarti objek fisik.
Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan : Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filosuf. Para filosuf terlatih di dalam motede ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu.
Tapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, yang diawali oleh renaisans yang kemudian disambut hangat oleh kaum empirisme, peta sains mulai bergeser. Namun metodelogi rasionalisme yang dimotori Descrates sebagai penggerak renaisans berbeda dengan empirisme. Jika rasionalisme beranggapan bahwa pengetahuan yang sahih hanya diperoleh melalui rasio, empirisme mengatakan bahwa pengetahuan yang sahih bersumber dari pengalaman. Menurut empirisme, pengetahuan tidak diperoleh secara apriori melainkan aposteriori (melalui pengalaman).
Gejolak renaisains itu pun terus bergulir ke Jerman dengan zaman pencerahannya. Kemudian sampailah kita pada aliran positivisme yang dibangun oleh Agust Comte. Melalui positivismenya, Comte menegaskan pengetahuan tidak melampaui fakta-fakta. Ia kemudian menolak metafisika. Dan pada akhirnya, ia menolak, etika, teologi dan seni, yang dianggap melampaui fenomena-fenomena
yang teramati. Menurut Comte, sejarah pengetahuan berkembang melalui tiga tahap. Dari tahap teologis, metafisis dan terahir positifis. Baginya perkembangan ini layaknya perkembangan kehidupan manusia, mulai dari anak-anak, remaja, kemudian dewasa.
Pada tahap dewasa ini, manusia tidak lagi mengamati objek-objek yang tak teramati, melainkan semua objek yang dapat diindra. Akhirnya, pada tahap positifis ini, organisasi masyarakat industri menjadi pusat perhatian. Ekonomi menjadi primadona dan kekuasaan elit intelektual muncul. Bagi Comte, sosiologi merupakan ilmu baru untuk mengorganisasikan masyarakat industri.
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, doktrin positifisme yang hanya memusatkan diri pada hal yang faktual pun mulai merajarela. Ia semakin perkasa dan seakan-akan membenarkan bahwa teologis, metafisis adalah masa kanak-kanak pertumbuhan masyarakat dunia. Apalagi teknologi yang semakin membantu manusia dalam berbagai aktivitasnya, misalnya mobil, telepon, internet dan sebagainya, memberantas penghalang hubungan manusia modern. Sehingga jarak dan waktu bukan jadi masalah lagi.
Tetapi di tengah kemajuan teknologi tersebut, ada masalah yang mulai menyelimuti manusia. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk melayani dan mempermudah manusia pada perjalanannya lain. Kini teknologi mulai berbalik menyerang manusia. Manusia mulai kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Banyak kemajuan teknologi yang justru merusak lingkungan dan nilai kemanusiaan.
Jika menilik pada sejarah sebelumnya, sains atau ilmu pengetahuan, selalu berhubung erat dengan filsafat dan cabang-cabang lain seperti metafisika, etika dan sebagainya. Terlebih dalam tradisi filsafat Islam. Sains masih terkait erat dengan filsafat bahkan theologi. Dalam karya Mulyadi Kartanegara yang berjudul ’Gerbang Kearifan’ dijelaskan, tak ada objek ilmu satu pun yang tak berhubungan dengan dunia metafisik. Para filsuf muslim memandang bahwa terdapat sumber abadi dan sejati bagi apapun yang terjadi di jagad raya ini, yang pada gilirannya akan dijadikan objek penelitian.
Selain itu, tujuan dari semua ilmu dari sudut aksiologis adalah memperoleh kebahagiaan. Menurut para filsuf muslim, kebahagiaan dalam menuntut ilmu dengan objek keilmuannya. Karena meteafisika adalah ilmu yang mempelajari Sebab Pertama atau Tuhan, yang menempati objek tertinggi ilmu, maka filsafat (metafisika) patut dijadikan basis etis penelitian ilmiah. Kebahagiaan yang dituntut di sini bukan hanya kebahagian fisik yang bersifat sementara. Tapi kebahagiaan hakiki yang bersifat abadi dengan ketenangan jiwa.
Menilik sejarah peradaban keilmuan Islam, sains memang tak bisa dilepaskan dari filsafat. Dari masa ke masa, baik pemerintahan Bani Umayyah dan Abasiyah, tak ada beda antara sains dan filsafat. Bahkan dalam tradisi Islam, filsafat disebut sebagai induk dari ilmu aqliah. Pada tahun 700 dalam pemerintahan Dinasti Umayyah, terbangun observatorium astronomi di Damaskus. Begitu pula pada Dinasti Abasiyah, Khalifah Al-Mansyur diriwayatkan pernah mengumpulkan ilmuan, termasuk dokter-dokter dari Persia sampai India. Ini membuktikan, bahwa dalam Islam, sains dan filsafat tetap berdampingan. Dan hingga kini, hal itu tetap terjaga.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apakah definisi sains ?
1.2.2 Apa sajakah aliran-aliran dalam sains ?
1.2.3 Bagaimanakah contoh dari pengetahuan sains ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Mengetahui definisi sains
1.3.2 Mengetahui aliran-aliran dalam sains
1.3.3 Mengetahui contoh dari pengetahuan sains
1.4 METODOLOGI PENULISAN
Makalah ini ditulis dengan menggunakan metode studi kepustakaan yaitu dengan mencari informasiyang berasal dari buku, literatur, internet atau sumber lain yang relevan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI SAINS
Istilah ilmu pengetahuan diambil dari bahasa Arab; “alima, ya’lamu, ‘ilman” yang berarti mengerti atau memahami benar-benar. Dalam bahasa Inggris istilah ilmu berasal dari kata science, yang berasal dari bahasa latin scienta dari bentuk kata kerja scire, yang berarti mempelajari dan mengetahui.
Dalam kamus bahasa Indonesia ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan.
The Liang Gie (2010) mendefinisikan ilmu sebagai rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Lorens Bagus (2005) mengutip pendapat Arhur Thomson yang mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan fakta-fakta, pengalaman secara lengkap dan konsisten meski dalam perwujudan istilah yang sangat sederhana.
Menurut Bahm yang dikutip oleh Kunto Wibisono (1997) mendefinisikan ilmu pengetahuan memiliki enam komponen yaitu masalah (problem), sikap (attitude), metode (method), aktivitas (activity), kesimpulan (conclution), dan pengaruh (effect).
Manusia adalah makhluk berpikir yang selalu ingin tahu tentang sesuatu. Pengetahuan adalah produk dari tahu, yakni mengerti sesudah melihat, menyaksikan, dan mengalami. (KBBI,1990:884). Pengetahuan alamiah dan pengetahuan ilmiah, bersumber dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia (Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair:12). Meskipun demikian pengetahuan dibedakan dari ilmu pengetahuan. Pengetahuanm alamiah hanya terbatas pada rangkaian informasi tentang suatu benda, fakta, peristiwa, dan lainnya. Melalui pengetahuan alamiah, seseorang hanya dapat “mengetahui” atau “tahu.” (Robiyanto:2010).
Ilmu Pengetahuanadalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia . Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu pengetahuan ialah ilmu pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten, dan koheren. Inilah ciri-ciri ilmu pengetahuan, yang membedakan dengan pengetahuan biasa. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan tadi harus dipilih (menjadi suatu bidang tertentu dari kenyataan) dan disusun secara metodis, sistematis, serta konsisten. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentu berkaitan dengan realitas.orang yang mempelajari pengetahuan dan ilmu pengetahuan akan menelususri realitas secara cermat. Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa didekati dari sisi ontologi dengan dua macam sudut padang yaitu kuantitatif dan kualitatif.
Atas dasar pelacakan realitas, pengetahuan dan ilmu pengetahuan semakin kaya. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Realita itu yang menarik perhatian para ilmuan. Tanpa realitas, kita sulit menyebut di dunia ini ada bermacam-macam air, bunga, angin, jamur, dan lain-lain. Realitas pula yang hendak menyadarkan manusia hingga tahu, bahwa ketika orang minum teh, sebenarnya sedang menikmati bunga, air, daun, dan sebagainya. Biarpun hanya minum teh, sebenarnya manusia tengah berfikir ribuan orang yang menghasilkan teh itu. Jadi, ontologi akan menguraikan asal-usul suatu fenomena secara mendasar atas dasar fakta-fakta, data-data, dan metode yang mantap.
2.2 ALIRAN-ALIRAN DALAM SAINS
Salah satu ciri dari ilmu adalah bahwa ilmu itu memiliki objek penyelidikan, yang terdiri dari dua objek: objek material dan objek formal. Objek material adalah suatu hal yang menjadi sasaran peneyelidikan atau pemikiran sesuatu yang dipelajari, baik berupa benda konkret maupun abstrak. Pertama, objek material yang bersifat konkret adalah objek yang secara fisik dapat terlihat dan terasa oleh alat peraba. Contoh: anjing, kucng, pohon, batu, air, tanah, dsb. Kedua, yang bersifat abstrak misalnya niai-nlai, ide-ide, paham, aliran, dsb. Sedangkan objek formal merupakan sudut pandang atau cara memandang terhadap objek material, termasuk prinsip-prinsip yang digunakan. Dalam hal ini hakikat, esensi dari objek materiilnya yang menjadi objek formal filsafat.
Sumber ilmu pengetahuan adalah faktor yang melatarbelakangi lahirnya ilmu pengetahuan. Dalam diri manusia memang terdapat dorongan ‘rasa ingin tau ‘ dorongan ini membantu berbagai aktivitas kehidupan manusia, baik dalam upaya mengenal lingkungan, maupun yang berhubungan dengan upaya mempertahankan hidupnya. Dalam hubungan ini, manusia memerlukan ilmu pengetahuan. Berbagai usaha dan cara dilakukan untuk menguasai ilmu pengetahuan bagi kapentingan hidup dalam dunianya. Cara-cara tersebut adalah melalui: pengalaman, tradisi, metode otoritas, metode induktif dan deduktif, dan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (Sukardi, 2011: 10-12).
Menurut Surajiyo ( 2013: 33) aliran – aliran pengetahuan ada empat yaitu 1)aliran rasionalisme 2)aliran empirisme 3) aliran krititisme dan aliran positivisme. Sedangkan menurut Jujun. S. Suriasumantri (2014: 102) bahwa sumber ilmu pengetahuan terdiri dari rasionalisme, empirisme, intuisi dan wahyu.
- Rasionalisme
Aliran Rasionalisme menurut pendapat Surajiyo (2013:33) bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu syarat yang dipakai oleh semua pengetahuan ilmiah.
Kontribusi rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu pengetahuan modern yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia. Hasil-hasil teknologi era industri dan era informasi tidak lepas dari rasionalisme yang mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Rene Descartes (Dalam Surajiyo:2007) membedakan tiga ide yang ada dalam diri manusia, yaitu 1)innate ideas adalah ide bawaan yang di bawa oleh manusia sejak lahir 2)adventitious ideas adalah ide – ide yang berasal dari luar diri manusia dan 3) factitious ideas adalah ide – ide yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri.
Sumbangan aliran rasionalisme dalam pendidikan, dalam bidang pendidikan menurut Anonim (dalam Anda Juanda,2015: 189) rasionalisme hanya meyakini bahwa akal dan pikiran sebagai sumber ilmu pengetahuan, sedangkan pengalaman hanya perangsang untuk mempertegas dari terbentuknya akal dan pikiran tersebut. Tujuan pembelajaran dalam aliran ini mengembangkan kemampuan berpikir logis siswa, dalam bidang ilmu-ilmi esak, misalnya matematika, aljabar, ilmu ukur, geometri. (Afid dalam Anda Juanda,2015:190). Proses pembelajaran menurut aliran filsafat rasionalisme membiarkan siswa untuk bebas berbicara, hal tersebut sangat dibutuhkan untuk perkembangan dunia pendidikan. Sebagai contoh, dunia pendidikan pada masa konvensional menganggap guru sebagai pusat dari sumber belajar. Dengan begitu, guru dianggap sebagai yang maha tahu. Sehingga pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan metode ekpositori. Sedangkan siswa hanya sebagai pendengar saja dan cenderung tidak dapat menyampaikan pendapat pribadinya. Namun dengan adanya buah pemikiran para filsuf tersebut, kebebasan berbicara mulai dihargai dan bahkan menjadi suatu hal yang patut di tumbuhkan di kalangan
siswa, (Anonim, dalam Anda Juanda, 2015:190).
Hasil belajar dalam aliran ini menurut Anda Juanda (2015:191) siswa berkembangnya daya nalar atau daya pikir logis, dan kritis sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu sains melalui penelitian ilmiah.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa aliran rasionalisme memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah dalam kegiatan pembelajaran, siswa dituntut untuk aktif baik berupa menyampaikn pendapat atau hal sebagainya serta membuat siswa untuk selalu memikirkan dan menggunakan akalnya dalam menyelesaikan masalah yang ada di dunia ini. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya bahwa dengan akal manusia mampu menyelesaikan semua masalah yang ada di dunia ini. Namun jika tidak diajarkan adab atau etika membuat siswa tidak lagi memperhatikan etika menyampaikan pendapat. Guru yang hanya menilai dari kemampuan siswa dalam menjawab soal – soal maka guru tersebut bisa dikatakan menggunakan aliran rasionalisme ataupun kecerdasan seorang peserta di didik hanya dinilai kognitif saja misalnya siswa juara olimpiade matematika, fisika dan sebagainya tanpa memperhatikan kecerdasan lainnya berupa akhlak dan sikap siswa menyebabkan karakter siswa hanya mementingkan nilai dan nilai saja tanpa memperhatikan akhlak dan sikap.
Semakin tinggi kecerdasan anak bisa membuat anak tersebut sombong dan bersikap kurang baik bahkan beranggapan bahwa segala sesuatu yang dihasilkan karena usaha dan kemampuannya tanpa campur tangan dari lingkungan, keluarga dan Allah sehingga menyebabkan siswa tersebut berkarakter sekulerisme. Maka tidak kaget jika generasi muda banyak tauran, melawan guru, orang tua dan melakukan asusila hal ini disebabkan karena kurangnya akhlak. Sehingga lama kelamaan Negara ini akan hancur, karena majunya Negara bisa dilihat dari pemuda atau peserta didiknya.
Paham sekuler berpendapat bahwa pengetahuan dari akal dan usaha manusia tanpa adanya campur tangan dari Allah dalam memperoleh ilmu pengetahuan tersebut. Padahal Allahlah yang menggerakkan akal atau pikiran manusia yang membuat manusia untuk membaca alam semesta ini, sehingga manusia mau mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan ataupun kebutuhan manusia sebagai khalifah di bumi ini bukan karena semata – mata dari usaha manusia sendiri
- Empirisme
Aliran Empirisme menurut Surajiyo (2013:33) dan Amsal Bakhtiar (2014:98) adalah suatu aliran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Menurut Surajiyo (2013:33) aliran empirisme adalah suatu aliran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia dan akal bukan menjadi sumber pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengelolah bahan – bahan yang diperoleh dari pengalaman.
Empirisme berpendapat bahwa, pengetahuan (knowledge) berasal dari pengalaman (experiences), sehingga pengalaman indrawi merupakan suatu bentuk pengalaman yang paling jelas dan sempurna atau nyata. Artinya, emperisme ini menolak kebenaran a priori (kebenaran-kebenaran yang benar dengan sendirinya) yang diperoleh lewat intuisi rasional. Sebaliknya, ia mengakui kebenaran yang diperoleh lewat observasi. Jadi, merupakan kebenaran a posteriori, (Sumarna, 2004: 162). Sedangkan menurut Jujun. S. Suriasumantri (2013: 51) aliran empirisme adalah pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang bersifat abstrak namuun melewati pengalaman yang konkret yaitu pengalaman yang dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia.
Sumbangan aliran empirisme menurut Anda Juanda (2015:202 – 203) dalam pendidikan, bahwa tujuan pembelajaran yaitu untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik (siswa) melalui pengalamannya secara indrawi. Sehingga siswa mampu mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan kurikulum ini menekankan pada pembelajaran berdasar scientific (mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan), pembelajaran ini menekankan pada keaktifan siswa sehingga siswa mampu memecahkan maslah yang bersifat sederhana.
Proses belajar yang dikembangkan pada aliran empirisme bersifat “induktif” melalui menggunakan motode pembelajaran berbasis inquiry, discovery, dan observasi. Model pembelajarn inquiry merupakan rangkaian pembelajaran. Hasil belajar yang diharapkan pada pengembangan kurikulum filsafat empirisme, yaitu peserta didik mampu mengembangkan cara berpikir ilmiah melalui pembelajaran berdasar metode ilmiah (riset) selain itu juga siswa bisa menjadi seorang poitikus, ilmuwan, dan berperan dalam lembaga kemasyrakatan.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa aliran empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji. Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah. Kekurangan aliran ini adalah Jadi tanpa adanya pengalaman manusia tidak memperoleh pengetahuan. dari sejak dalam kandungan bahkan dalam proses pembuahan, jika dari awal dan masa kehamilan di baca dan didengarkan Al- Qur’an maka bayi yang ada dalam kandungan tersebut juga bisa mendengar, hal ini sudah diteliti oleh para ilmuan akan kebenarannya dan sesuai juga dengan ayat – ayat al – Qur’an.
- Aliran krititisme
Aliran krititisme adalah aliran yang ingin mengkritik antara aliran rasionalisme dan aliran empirisme. Penyelesaian pertentangan antara rasionalisme dan empirisme diselesaikan dengan cara krititisme. Peranan budi sangat besar sekali , hal ini tampak dalam pengetahuan apriorinya baik yang analitis ataupun sintetis. Di samping itu, peranan pengalaman (empiris) tampak jelas dalam pengetahuan aposteriorinya. ( Immanuel Kant dalam Surajiyo,2013:34)
Dalam kritik atas rasio murni, I.Kant ( dalan Surajiyo: 34) membedakan tiga macam pengetahuan, sebagai berikut.
- Pengetahuan analistis, disini predikat sudah termuat dalam subjek. Predikat diketahui melalui suatu anlisis subjek. Misalnya lingkaran itu bulat.
- Pengetahuan sintetis aposteriori, disini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi. Misalnya kalimat “ Hari ini sudah hujan”, merupakan suatu hasil observasi indrawi “sesudah” observasi saya, saya bisa mengatakan bahwa S adalah P.
- Pengetahuan sintetis apriori, akal budi dan pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, ilmu pesawat, ilmu alam bersifat sintetis apriori. Kalau saya tau bahwa 10 + 5 = 15 memang terjadi sesuatu yang sangat istimewa
Sumbangan aliran krititisme dalam pendidikan menurut Anonim (dalam anda Juanda,2015: 210) tujuan pembelajaran yaitu mengembangakan akal budi (rasio) dan daya indra untuk mendapatkan ilmu pegetahuan alam. Kurikulum yang di kembangkan oleh aliran kritisisme meliputi aspek pengetahuan berpikir logis atau pengembangan dari hukum kognitif, berpikir logis, sistematis, dan kreatif. Aliran kritisisme Immanuel Kant terhadap kurikulum lebih mengedepankan konsep pemahaman individualis siswa yang bertujuan untuk mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta. Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif, baik siswa maupun guru.
Hasil belajar menurut Kebung (dalam Anda Juanda.2015:212) aliran kritisisme megembangkan daya pemikir, pengalaman adalah hal penting untuk pengetahuan peserta didik. Peserta didik harus bisa menerapkan pemikiran dan kemampuan inderanya dalam setiap melakukan tindakan agar mereka dapat memperoleh pengalaman yang dapat memunculkan ide-ide baru. Kontribusi kajian kritisisme terhadap belajar bukanlah pendidikan yang hanya berlandaskan pemikiran saja atau pengalaman saja, melainkan pada pendidikan nonformal yang berlandaskan pada observasi, pengalaman, pemikiran, dan praktik langsung ke dalam masyarakat.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa aliran ini menggabungkan akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan, dimana dua aliran ini saling bersebrangan.
- Positivisme
Berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual dan yang positif. Segala uraian dan persoalan yang di luar dari apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan oleh Karena itu, apapun yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak, segala gejala. Arti segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat masa depan. Jadi kita hanya dapat menyatakan atau mengkonstratir fakta – faktanya dan menyelidiki hubungan satu dengan yang lain. Maka tidak ada gunanya untuk menanyakan kepada hakikatnya atau kepada penyebab yang sebenarnya dari gejala – gejala itu. (Surajiyo,2013:34)
Filsafat positivisme adalah filsafat yang berorientasi pada realitas dan menolak pembahasan mengenai sesuatu yang ada di balik realitas, dengan dasar bahwa akal manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui entitas apapun yang melintasi alam inderawi (persepsi) dan alam kasat mata. (Isma’il. 2012: 136)
Sumbangan aliran positivisme menurut anda Juanda (2015: 235) tujuan pembelajaran dalam aliran ini adalah mengembangkan daya nalar siswa untuk melakukan interpretasi terhadap penomena alam yang bersifat faktual, dapat diobservasi. Kurikulum yang disampaikan A. Comte (dalam Anda Juanda,2015: 235: bahwa untuk menghadapi dunia maka Comte menciptakan positivisme di mana unsur-unsurnya adalah objektif, ilmiah logico, induksi, kuantitative, konkrit, formula, statistik, standard terukur, reliabilitas, industri, keniscayaan, random, representasi, lambang, wadah, rekayasa, model, cuplikan, remote, mesin, kapital, material, praktis, otomatis, teknologi, rumah kaca, monokultur dan naturweistesshafte. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan positivisme beorientasi pada ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.
Proses pembelajaran dalam aliran ini menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Langkah pembelajaran pada scientific approach mencakup 5 (lima) langkah kegiatan utama pembelajaran inti, yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Lebih lanjut menyatakan bahwa kurikulum disiapkan untuk mencetak generasi
yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran,
(Marsigit, 2013).
Inti proses pembelajaran sesuai filsafat aliran induktif-verifikatif. Maksudnya, proses pembelajaran siswa diarahkan melakukan eksperimen-eksperimen (percobaan) yang hasilnya dapat divrifikasi (dibuktikan) kebenarannya secara objektif. Hasil Belajar pada aliran ini meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.( Marsigit dalam Anda Juanda, 2015: 236).
Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa aliran positivism adalah Pengalaman dan bukti empiris sebagai basis dari ilmu pengetahuan dan penelitian. Dengan proses pembelajaran dalam aliran ini menyentuh diharapkan siswa aktif dengan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan diharapkan siswa mampu meningkatkan kecerdasannya baik dari segi pengetahuan, keterampilan maupun sikap yang baik diharapkan menjadi generasi yang terbaik sehingga mebuat siswa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Intuisi
Intuisi menurut dan Jujun. S SuriaSumantri( 2013 :44) meruapakan suatu kegiatan berpikir nonanalitik yang tidak mendasarkan diri kepada suatu pola berpikir tertentu. Memang intuisi dapat dipercaya mampu memahami banyak hal yang tidak bisa dipahami oleh akal. Untuk menutupi kekurangan itu, manusia dilengkapi oleh Allah intuisi atau hati, sehingga akan lengkaplah seluruh perangkat ilmu bagi manusia. (Mulyadi Karta Negara dalam Jalaluddin, 2014 : 103)
“ Ketika akal tidak mampu memahami wilayah kehidupan emosional manusia, “hati kemudian dapat memahaminya. Hati (intuisi) yang terlatih akan dapat memahi perasaan seseorang. Misalnya dengan mendengar suara atau memandang matanya. Ketika akal hanya berkutat pada tataran kesadaran, hati bisa menerobos ke alam ketidak sadaran (alam ghaib /religious) sehingga mampu memahami pengalaman – pengalaman non indrawi a” tau apa yang disebut ESP termasuk pengalaman – pengalaman mistik/religious. (Mulyadi dalam Jalaludin, 2014:103)
Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa intuisi adalah ilmu pengetahuan yang tidak di jangkau oleh akal pikiran manusia, Allah memberikan sebongkah kecil yang bernama qalbu. Jika dia baik, maka semuanya baik dan jika sebongkah itu buruk maka buruklah dia. Disini Allah melihatkan bahwa akal manusia memiliki ketrebatasan. Dengan keterbatasan tersebut Allah yang Maha Pengasih melengkapi dengan instuisi/qalbu atau hati. Misalnya kekuatas do’a yang dilakukan oleh manusia, do’a dilakukan oleh manusia dalam rangka meminta langsung ke Allah yang Maha segala – galanya. Oleh karena itu kedekatan hati kita dengan Allah akan mempengaruhi segala aktifitas kita baik sikap maupun tindakan kita.
Sumbangsih aliran intuisi terhadap pendidikan adalah dalam proses penilaian guru tidak lagi menilai pengetahuan siswa saja tetapi sikap para siswapun dinilai. Tujuan pendidikan itu sendiri adalah mencerdaskan anak bangsa tanpa membedakan latar belakang, suku dan budaya peserta didik. Misalnya ketika seorang guru menemukan ada yang kurang baik dari anak didik kita, maka dengan sabar dan ikhlas guru akan selalu membimbing peserta didiknya.
- Wahyu
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia, melalui para Nabi yang diutus-Nya sepanjang zaman. (Jujun S. Suriasumantri, 2000:54)
Wahyu Allah (agama) berisikan pengetahuan, baik mengenai kehidupan seseorang yang terjangkau oleh pengalaman, maupun mencangkup masalah transedental, seperti latar belakang dan tujuan ciptaan manusia, dunia, dan segenap isianya serta kehidupan diakhirat nanti. (Mustafa dalam Amsal Bakhtiar, 2014: 110)
Wahyu adalah pemberian langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam Kitab Suci Agama. Namun sebagian pemikiran Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya Nabi dan Rasul yang dapat memperolehnya. (Abidin, 2011: 138)
Zar (2004: 93) mengatakan bahwa wahyu dalam Islam berupa Al-Quran sebagai himpunan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an adalah Kitab Suci Agama Islam yang berisikan tuntunan-tuntunan dan pedoman-pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan mereka agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akherat. Pada dasarnya Al-Qur’an merupakan buku petunjuk dan pegangan keagamaan, namun diantara isinya mendorong umat Islam supaya banyak berfikir. Hal ini dimaksudkan agar mereka melampaui pemikiran akalnya sampai pada kesimpulan adanya Allah Pencipta alam semesta dan sebab dari segala kejadian di alam ini.
Islam melihat Allah sebagai maha pencipta dan yang diciptakan sebagai hamba, manusia termasuk yang diciptakan. Maka yang dihasilkan oleh manusia adalah memiliki beberapa kelemahan, dengan kekurangan dan kelemahan itu tidak mungkin ia sebagai sumber ilmu. Dan Allah yang mengajarkan kepada manusia tentang apa yang tidak diketahuinya, dan melengkapi manusia segala perlengkapan dan fasilitas mendengar, melihat, dan hati sebagai timbangan atas apa yang hendak dibuat oleh manusia. Dan Allah sudah tegaskan dalam QS. Al- Nahl (16): 78: Bahwa Allah keluarkan manusia dari perut ibunya masih dengan tidak tahu apa-apa. Pada saat itu Allah melengkapi pada manusia pendengaran, penglihatan agar manusia itu menyadari dan bersyukur atas apa yang diberikan dan pada ayat lain Allah menyuruh manusia itu untuk selalu belajar mencari ilmu, melalui pendidikan. Ini menunjukkan bahwa manusia bukan sumber ilmu tetapi sumber ilmu itu dari Allah.
Sehingga perkataan mereka dalam hal ini lebih sempurna, lebih menyeluruh, dan lebih jelas. Hal ini sudah pasti diketahui oleh setiap orang yang berakal lagi mulia Nurcholish Madjid mengungkapkan, “Tanpa bimbingan iman, justru ilmunya atu akan membuat orang celaka, lebih celaka dari pada orang lain yang tak berilmu.” Nabi bersabda, “Barang siapa bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk hidupnya, mak ia tidak bertambah apa – apa kecuali semakin jauh dari Allah.( Nurcholish Madjid:1992).
Dari pendapat diatas, penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan diberikan oleh Allah kepada manusia yang telah dipilihNya bukan manusia sembarangan. Manusia adalah ciptaanNya, maka Allah lebih tau kekurangan manusia ciptaannya, oleh karena itulah Allah memberikan wahyu kepada manusia pilihannya. Dimana pengetahuan ini langsung Allah ajarkan kepada para Nabi melalui wahyu Allah (Agama). Al- Qur’an adalah sumber ilmu dari segala sumber ilmu, karena Al – Qur’an adalah nasehat, al – Qur’an adalah pedoman hidup dan terjamin keutuhannya. Dengan Al – Qur’an juga membuat manusia untuk membaca Alam ini sehingga menemukan atas pertanyaan dan kebutuhan manusia itu sendiri.
2.3 CONTOH DARI PENGETAHUAN SAINS
Ruang lingkup sains terkadang terbatas dari berbagai hal yang diketahui oleh Indera contohnya penglihatan, pendengaran, sentuhan, rabaan dan pengecapan. Hal ini dapat dikatakan bahwa pembelajaran sains membahas mengenai pembuktian suatu persoalan.
Sains sering dikatakan sebagai sains murni. Selain itu juga dikatakan sebagai sains terapan. Sains terapan adalah aplikasi dari sains yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dari manusia. Adapun jenis-jenis sains yaitu:
- Natural sains atau Ilmu Pengetahuan Alam.
- Sosial Sains atau Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sains sebagai disiplin ilmu yang terdiri dari beberapa jenis, diantaranya yaitu:
- Ilmu Alam
Ilmu alam adalah istilah yang digunakan untuk merujuk rumpun ilmu yang mana objek terdiri dari benda alam dengan hukum pasti dan umum yang berlaku kapanpun dan dimanapun. Contohnya seperti biologi, kimia dan fisika.
- Ilmu Budaya
Ilmu budaya adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar-dasar kebudayaan. Contohnya bahasa, kewarganegaraan, dan agama.
- Ilmu Sosial
Ilmu sosial adalah sekelompok disiplin ilmu dari akademis yang mempelajari aspek-aspek yang memiliki hubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Contohnya sosiologi.
BAB III
PENUTUP
- KESIMPULAN
- Ilmu Pengetahuanadalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia . Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
- Salah satu ciri dari ilmu adalah bahwa ilmu itu memiliki objek penyelidikan, yang terdiri dari dua objek: objek material dan objek formal.
- Sumber ilmu pengetahuan adalah faktor yang melatarbelakangi lahirnya ilmu pengetahuan. Dalam diri manusia memang terdapat dorongan “rasa ingin tahu” dorongan ini membantu berbagai aktivitas kehidupan manusia, baik dalam upaya mengenal lingkungn, maupun yang berhubungan dengan upaya mempertahankan hidupnya.
- Aliran-aliran yang terdapat dalam sains adalah rasionalisme, empirisme krititisme, intuisi dan wahyu.
- Contoh dari pengetahuan sains adalah ilmu alam seperti biologi, kimia dan fisika, ilmu budaya seperti bahasa, kewarganegaraan dan agama dan ilmu sosial seperti sosiologi.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. (2011). Pengantar Filsafat Barat. Jakarta : Rajawali.
Bakhtiar, Amsal. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Jalaluddin. 2014. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Juanda, Anda. 2015. Aliran – Aliran Filsafat Landasan Kurikulum dan Pembelajaran. Jawa Barat: CV Konfinden
M.Pd Susanto, A. Drs. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara
Muzairi. (2009). Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras.
Qisthimaya.Wordpress.Com/2013/03/28/Filsafat-Pengetahuan-Dan-Ilmu Pengetahuan/html. Diakses tanggal 6 Oktober 2019 pukul 20:00 WIB
Rudisiswoyoalfatih.Blogspot.Com/2012/02/Makalah-Fiqih-Tentang Munakahat.Html. Diakses tanggal 6 Oktober 2019 pukul 20:00 WIB
Soeparmo, A.H. 1984. Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam. Surabaya:Airlangga University Press.
Sumarna, Cecep. (2004). Filsafat Ilmu dari Hakekat Menuju Nilai. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Surajiyo. 2013. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Suriasumantri, Jujun. S.2000. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Pustaka Sinar Harapan
The Liang Gie .2010. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta
Wibisono, Koento . 1997. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Zar, Sirajuddin, (2004). Filsafaat Islam (Filosof & Filsafatnya). Jakarta:Raja Grafindo Persada.