DEFINISI ONTOLOGI, OBJEK KAJIAN FILSAFAT, ALIRAN DALAM METAFISIKA ONTOLOGI DAN CABANG-CABANG FILSAFAT

                                                             BAB I

  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia pertama kali lahir di dunia dalam keadaan suci, putih minim pengerahuan sama sekali. Dia lahir dalam keadaan telanjang, respon pertama kali yang dia terima adalah perbedaan suasana dari alam kandungan ke alam dunia yang seketika dia sambut dengan tangisan. Tangisan bukanlah reaksi pengetahuan namun hanya sebatas respon alamiah. Ketika beranjak dewasa maka lingkungan memberikan dia pengetahuan dengan di dorong rasa ingin tahu yang tinggi manusia terus mencari pengetahuan di sekililingnya bahkan hingga makna terdalam dengan bertanya kenapa? dan bagaimana?. Sampai umur tertentu pengetahuan itu semakin banyak bahkan dia sendiri sampai tidak mampu menyebutkan pengetahuan apa saja yang dia peroleh atau bahkan mungkin malah belum tahu apa sejatinya makna pengetahuan itu sendiri.[1]

Pengetahuan manusia di mulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dImulai dengan rasa keragu-raguan dan Filsafat di mulai dengan keduanya. Keberadaanya di dorong untuk mengetahui apa yang telah dan belum d ketahui. Berfilsafat bisa berarti berendah diri karena tidak semuanya bakal kita ketahui dan juga berarti mengoreksi diri dan berterus terang seberapa jauh sebenarnyua kebenaran yang telah kita jangkau.[2]

Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Sehingga untuk faham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.

Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau bagian yaitu; epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan, ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang membahas tentang guna pengetahuan. Sehingga, mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan pembahansannya.

Epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas tentang bagaimana mendapat pengetahuan, Objek Filsafat dan ukuran kebenaran filsafat. Ontologi membahas tentang apa objek yang kita kaji, bagaimana wujudnya yang hakiki dan hubungannya dengan daya pikir. Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai membahas tentang kegunaan Filsafat dan bagaimana filsafat menyelesaikan masalah.

Dalam makalah ini tidak akan membahas lebih jauh tentang Epistimologi dan Aksiologi namun dalam pembahasannya akan lebih di tekankan tentang makna Ontologi.

  • Rumusan Masalah.

Setelah membahas sekilas tentang filsafat di atas maka selanjutkan makalah ini akan di konsentrasikan pada masalah sebagai berikut:

1. Apakah Definisi Ontologi?

2. Apa Objek yang di Kaji Filsafat?

3. Apakah Aliran dalam Metafisika Ontologi?

4. Apa saja Cabang-cabang dalam Filsafat?

                                  BAB II

   PEMBAHASAN

  1. Definisi Ontologi.

Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti ―yang berada, dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan.[3]

Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:

  1. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
  2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. [4]

Sedangkan pengertian ontologi dengan secara terminologi, ontologi ini memiliki pengertian bahwa ontologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari mengenai sesuatu yang benar-benar ada dan adanya itu benar. Teori tersebut membahas tentang suatu kebenaran yang ada atau ciri hakiki (pokok) dari keberadaan.

  1. Sejarah Ontologi.

Istilah ontologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, demi memberikan nama mengenai hakekat yang bersifat metafisis. Kemudian dalam perkembangannya Christian Wolf tersebut membagi metafisika ke dalam dua (2) jenis yakni metafisika umum serta khusus.

Ontologi sering diindetikan dengan metafisika yang juga disebut proto-filsafia atau filsafat yang pertama, atau filsafat ketuhanan yang bahasanya adalah hakikat sesuatu, keesaan, persekutuan, sebab akibat, realita, atau Tuhan dengan segala sifatnya.

Metafisika umum tidak lain ialah istilah lain dari ontologi. Sehingga bisa dikatakan bahwa metafisika atau juga ontologi merupakan cabang dari filsafat yang membahas mengenai prinsip mengenai dasar atau juga paling dalam segala sesuatu yang ada.

  • Pegertian Ontologi menurut Para Ahli.

Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian ontologi ini, berikut ini akan dipaparkan pengertian ontologi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli diantaranya sebagai berikut:

  1. Aristoteles

Menurut Aristoteles bahwa pengertian ontologi ini merupakan suatu pembahasan mengenai hal ada sebagai hal ada (hal ada sebagai demikian) mengalami perubahan dalam, sehubungan objeknya.

  • The Liang Gie

Menurut The Liang Gie, bahwa definisi ontologi ialah suatu bagian dari filsafat dasar yang mengungkapkan tentang makna dari sebuah eksisten yang pembahasannya itu terdiri dari:

a. Apakah artinya ada, hal

b. Apakah golongan-golongan dari hal yang ada?

            c. Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada?

 3. Ensiklopedia Britannica

Menurut Ontologi dalam Ensiklopedi Britannica berangkat dari   Aristoteles, menyatakan bahwa pengertian Ontologi ini merupakan teori atau studi mengenai being atau wujud misalnya karakteristik dasar terhadap suatu realitas. Ontologi persamaan dari metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) terhadap suatu benda dalam menentukan suatu arti, struktur serta juga prinsip benda tersebut.

4. Bakhtiar

Menurut Bakhtiar bahwa pengertian ontologi ini merupakansuatu ilmu yang membahas mengenai hakikat yang ada, sebagai suatu ultimate reality baik yang mempunyai bentuk jasmani atau konkret ataupun mengenai rohani ataupun abstrak.

5. Soetriono

Menurut Soetriono bahwa definisi tentang ontology

merupakan azaz dalam menerapkan batas atau mengenai ruang lingkup suatu wujud yang menjadi objek dari penelaahan (objek ontologi atau obyek formal dari pengetahuan) dan juga mengenai penafsiran mengenai hakiakt realita (metafisika) dari objek ontologi atau juga objek formal tersebut dan merupakan suatu landasan dari ilmu yang menanyakan terkait apa yang dikaji atau juga dibahas dalam suatu pengetahuan serta biasanya berhubungan terhadap alam kenyataan serta keberadaan.

6.  Suriasumantri

                          Menurut Suriasumantri bahwa ontologi ini membahas

Mengenai apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan kata lain suatu pengkajian terhadap teori tentang ada.

Fungsi dan manfaat mempelajari ontologi sebagai cabang filsafat ilmu antara lain:

Pertama: Berfungsi sebagai refleksi kritis atas objek atau bidang garapan, konsep-konsep, asumsi-asumsi dan postulat-postulat ilmu.

Di antara asumsi dasar keilmuan antara lain:

1. Dunia ini ada, dan kita dapat mengetahui bahwa dunia ini benar-benar ada.

2. Dunia empiris itu dapat diketahui oleh manusia dengan pancaindera.

3. Fenomena yang terdapat di di dunia ini berhubungan satu dengan lainnya secara kausal.

Kedua: Ontologi membantu ilmu untuk menyusun suatu pandangan dunia yang integral, komphrehensif dan koheren.

Ilmu dengan ciri khasnya mengkaji hal-hal yang khusus untuk dikaji secara tuntas yang pada akhirnya diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang objek telaahannya, namun pada kenyataannya kadang hasil temuan ilmiah berhenti pada simpulan-simpulan yang parsial dan terpisah-pisah. Jika terjadi seperti itu, ilmuwan berarti tidak mampu mengintegrasikan pengetahuan tersebut dengan pengetahuan lain.

Ketiga: Ontologi memberikan masukan informasi untuk mengatasi permasalahan yang tidak mampu dipecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.

Pembagian objek kajian ilmu yang satu dengan lainnya kadang menimbulkan berbagai permasalahan, di antaranya ada kemungkinan terjadinya konflik perebutan bidang kajian, misalnya ilmu bioetika itu masuk disiplin etika atau disiplin biologi. Kemungkinan lain adalah justru terbukanya bidang kajian yang sama sekali belum dikaji oleh ilmu apa pun. Dalam hal ini ontologi berfungsi membantu memetakan batas-batas kajian ilmu. Dengan demikian berkembanglah ilmu-ilmu yang dapat diketahui manusia itu dari tahun ke tahun atau dari abad ke abad.

  • Objek kajian Filsafat.

Tujuan berfilsafat adalah menemukan kebenaran yang sebenaranya, yang terdalam. Jika hasil pemikiaran itu di susun, maka susunan itulah kita sebut dengan sistematika filsafat.  Sistematika atau struktur Filsafat dalam garis besar terdiri atas Ontology, Epistimologi[5] dan Aksiologi.[6]

Di setiap cabang filsafat di tentukan oleh objek yang di teliti (dipikirkannya). Jika ia memikirkan pendidikan maka jadilah ia filsafat pendidikan, jika dia memikirkan hukum maka jadilah dia filsafat hukum dan sebagainya.[7]

Menurut Ir. Poedjawijatna, objek materi filsafat adalah ada dan mungkin ada. Objek materi tersebut sama dengan objek materi dari ilmu seluruhnya. Objek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Yang tampak adalah empriris sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran dan yang ada dalam kemungkinan. Yang menentukan perbedaan ilmu yang satu dengan yang lainnya adalah objek formalnya, sehingga kalau ilmu membatasi diri dan berdasarkan pengalaman, sedangkan filsafat tidak membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam – dalamnya, inilah objek formal filsafat. 

Sementara M.J. Langeveld menyatakan: “Bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan segala sesuatu (sarwa) yang ada secara radikal dan menuru sistem.”

Objek Materi dan Objek Formal Filsafat:

Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan). Atau segala sesuatu yang ada. “ada” di sini mempunyai tiga pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran dan kemungkinan.

Pengertian lain adalah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat, segala sesuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat, terdapat tiga persoalan pokok:

    1. Hakikat Tuhan

    2. Hakikat Alam

    3. Hakikat Manusia

Objek Formal Filsafat yaitu sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang. Objek Formal filsafat adalah menyeluruh secara umum. Menyeluruh di sini berarti bahwa filsafat dalam memandangnya dapat mencapai hakikat (mendalam), atau tidak ada satupun yang ebrada di luar jangkauan pembahasan filsafat.

Objek formalnya adalah metode untuk memahami objek materil tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Pengertian lain menyebutkan bahwa Objek Formal Filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam – dalam sampai ke akar – akarnya) tentang objek materi filsafat.

Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa ilmu filsafat pada prinsipnya memiliki 2 objek substansif dan 2 objek instrumentatif, yaitu :

  1. Objek Substantif yang terdiri dari 2 hal

a) Kenyataan (Fakta)

Fakta (kenyataan) yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta ini ada beberapa aliran filsafat yang memberikan pengertian yang berbeda – beda, diantaranya yaitu positivme (hanya mengakui penghayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara sensual satu dengan yang lainnya. Data empiric sensual tersebut harus objektif tidak boleh masuk subjektifitas peneliti. Fakta itu yang faktual ada phenomenologi. Fakta buka sekedar data empirik sensual tetapi data yang sudah dimaknai sehingga ada subjektifitas peneliti tetapi, subjektifitas peneliti disini tidak berarti sesuai selera peneliti.subjektif dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data, analisis data sampai kesimpulan.data selektifnya disa berupa ide moral dan lain-lain.orang yang mengamati terkait langsung pada konsep-konsep yang dimiliki.

b) Kebenaran (truth)

Positivisme, benar substantif yang menjadi identik dengan benar sesuai dengan empiri sensual. Kebenaran positivistik didasarkan pada ditemukan frekwensi tinggi atau fariansi yang besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondwnsi antara fakta yang satu dengan fakta yang phenominology. Kebenaran dibuktikan berdasarkan pada oenemuan yang esensial yang dipilih dari non esensial atau esksemplar dan sesuai dengan skema tertentu.

Dikenal 2 teori kebenaran, yaitu kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi. Bagi phenominology fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji kebenarannya dengan yang dipercaya. Realisme metafisik ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran objektif universal. Realisme sesuatu yang benar apabila didukung teori dan ada faktanya. Realisme baru menutut adanya

Konstruk teori (yang disusun deduktif probabilisti) dan adanya empiri terkonstruk pula. Islam sesuatu itu benar apabila yang empirik faktual yang koheren dengan kebenaran transeden berupa wahyu. Pregamatisme mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi.

Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada 5 teori kebenaran yaitu:

 – Kebenaran Preposisi yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran    preposisinya baik preposisi formal maupun preposisi materialnya.

– Kebenaran Koherensi atau Konsistensi yaitu teori kebenaran yang   mendasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suau pernyataan dengan pernyataan-pernyataan yang lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.

 – Kebenaran Performatif yaitu teori kenbenran yang mengakui bahwa sesuati itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.-Kebenaran Praqmatik yaitu toeri kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila mempunyai kegunaan praktif. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.

2. Obyek Instrumentatif melalui Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut denga menggunakan landasan : asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmasi probabilistik dengsn mengggunakan metode induktif, deduktif, reflektif.

Pemaknaan juga dapat ditmpilkan sebagai konfirmasi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian apriori dan aposteriori. Untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran perdiksi para ahli mendasarkan pada dua aspek : (1) Aspek Kuantitatif (2) Aspek Kualitatif.

Dalam hal konfirmasi.sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu:

1) Decision Theory: menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual.

2) Estimation Thory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar atau salah dengan menggunakan konsep probabilitas.

3) Reliability Analysis: menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hepotesis.

  • Aliran dalam Metafisikan Ontologi.

Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni Monisme, Dualisme, Materialisme, Idealisme, Agnostisisme

Monisme[8]: Aliran yang mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa materi maupun ruhani yang menjadi sumber dominan dari yang lainnya. Para filosof pra-Socrates seperti Thales, Demokritos, dan Anaximander termasuk dalam kelompok Monisme, selain juga Plato dan Aristoteles. Sementara filosof Modern seperti I. Kant dan Hegel adalah penerus kelompok Monisme, terutama pada pandangan Idealisme mereka.

Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan filsafat yang paling kuno. Pertama kali diperkenalkan oleh filosof Yunani bernama Thales atas pernungannya terhadap air yang terdapat dimana-mana, dan sampai pada kesimpulan bahwa “air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu”. Yang penting bagi kita bukanlah mengenai kesimpulannya tersebut melainkan pendiriannya bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi saja.

Dualisme: Kelompok ini meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu materi (jasad) dan jasmani (spiritual)[9]. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama abadi dam azali. Perhubungan antara keduanya itulah yang menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam diri manusia.

Descartes adalah contoh filosof Dualis dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Aristoteles menamakan kedua hakikat itu sebagai materi dan forma (bentuk yang berupa rohani saja). Umumnya manusia dengan mudah menerima prinsip dualisme ini, karenaa kenyataan lahir dapat segera ditangkap panca indera kita, sedangkan kenyataan batin dapt segera diakui adanya dengan akal dan perasaan hidup.

Materialisme: Aliran ini menganggap bahwa yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya yang kita sebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Menurut pahan materialisme bahwa jiwa atau roh itu hanyalah merupakan proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu.

Materialisme terkadang disamakan orang dengan naturalisme. Namun sebenarnya terdapat perbedaan antara keduanya. Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam tidak ada. (Tuhan yang di luar alam tidak ada). Sedangkan yang dimaksud alam (natural) disana ialah segala-galanya meliputi benda dan roh. Sebaliknya materialisme menganggap roh adalah kejadian dari benda, jadi tidak sama nilainya dengan benda.

Filsafat Yunani yang pertama kali muncul juga berdasarkan materialisme, mereka disebut filsafat alam (natuur filosofie). Mereka menyelidiki asal-usul kejadian alam ini pada unsur-unsur kebendaan yang pertama. Thales (625-545 s.M) menganggap bahwa unsur asal itu air. Anaximandros (610-545 s.M) menganggap bahwa unsur asal itu apeiron yakni suatu unsur yang tak terbatas. Anaximenes (585-528 s.M) menganggap bahwa unsur asal itu udara. Dan tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Demokritos (460-360 s.M) menggap bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya tak dapat dihitung dan sangat halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian peristiwa alam. Pada Demokritos inilah tampak pendapt materialisme klasik yang lebih tegas.

Untuk di jadikan dasar Ciri-ciri Materialisme setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:[10]

  1. Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi (ma’dah).
  2. Tidak meyakini adanya alam ghaib.
  3. Menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.
  4.  Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum.
  5. Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.
  6.  Adalah sebuah paham garis pemikiran, dimana manusia sebagai nara sumber dan juga sebagai resolusi dari tindakan yang sudah ada dengan jalan dialetis.

Idealisme[11]: Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Realitas sendiri dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, budi, diri, pikiran mutlak, bukan berkenaan dengan materi.[12] Idealisme merupakan lawan dari materialisme yang juga dinamakan spiritualisme. Aliran menganggap bahwa hakikat kenyataan yang beraneka warna itu semua berasal dari roh (sukma) atau yang sejenis dengan itu. Intinya sesuatu yang tidak berbentuk dan yang tidak menempati ruang.

Menurut aliran ini materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan roh. Alasan yang terpenting dari aliran ini adalah “manusia menganggap roh lebih berharga, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Roh dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya, sehingga materi hanyalah badannya, bayngan atau penjelmaan saja.

Agnostisisme: Suatu pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Definisi lain yang diberikan adalah pandangan bahwa “alasan yang dimiliki manusia tidak mampu memberikan dasar rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa Tuhan itu ada atau keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Pada intinya Agnostisisme adalah paham yang mengingkari bahwa manusia mampu mengetahui hakikat yang ada baik yang berupa materi ataupun yang ruhani. Aliran ini juga menolak pengetahuan manusia tentang hal yang transenden. Contoh paham Agnostisisme adalah para filosof Eksistensialisme, seperti Jean Paul Sartre yang juga seorang Ateis. Sartre menyatakan tidak ada hakikat ada (being) manusia, tetapi yang ada adalah keberadaan (on being)-nya.

Agnostisisme dapat dibagi menjadi beberapa kategori, beberapa di antaranya dapat diperdebatkan. Variasinya termasuk:

  1. Agnostik ateisme.

Pandangan mereka yang tidak percaya pada keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi tidak mengklaim tahu apakah dewa itu ada atau tidak ada.[13]

  • Agnostik teisme.

Pandangan mereka yang tidak mengaku tahu konsep keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi masih percaya pada keberadaan tersebut.

  • Apatis atau agnostisisme pragmatis.

Pandangan bahwa tidak ada bukti baik ada atau tidaknya dewa/Tuhan apapun, tetapi karena setiap dewa yang mungkin saja ada itu dapat bersikap tidak peduli kepada alam semesta atau kesejahteraan penghuninya, pertanyaan ini lebih bersifat akademik.

  • Agnostisisme kuat (juga disebut “keras”, “tertutup”, “ketat”, atau “agnostisisme permanen”)

Pandangan bahwa pertanyaan tentang ada atau tidak adanya dewa/Tuhan, s tidak dapat diketahui dengan alasan ketidakmampuan alamiah kita untuk memverifikasi pengalaman dengan apapun selain pengalaman subyektif lain. Seorang penganut agnostik kuat akan mengatakan, “Saya tidak bisa tahu apakah dewa itu ada atau tidak, begitu juga kamu.”

  • Agnostisisme lemah (juga disebut “lunak”, “terbuka”, “empiris”, atau “agnostisisme duniawi”)

Pandangan bahwa ada atau tidaknya setiap dewa saat ini tidak diketahui, tetapi belum tentu untuk kemudian hari, sehingga orang akan menahan penilaian sampai muncul bukti yang menurutnya bisa menjadi alasan untuk percaya. Seorang penganut agnostik lemah akan berkata, “Saya tidak tahu apakah ada dewa ada atau tidak, tetapi mungkin suatu hari, jika ada bukti, kita dapat menemukan sesuatu.”

        C. Cabang-cabang Filsafat.

Menurut Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer[14], pokok permasalahan yang di kaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang di sebut benar dan apa yang di sebut salah (Logika), mana yang dianggap baik, mana yang dianggap buruk (estetika). Ketiga cabang Filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni:

Pertama: Teori tentang Ada: tentang hakikat keberadaan zat, serta tentang hakikat pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika.

Kedua: Politik: yakni kajian mengenai kajian social pemerintahan yang ideal.

Kelima cabang utama ini  kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spasifik di antaranya filsafat ilmu. Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain:

  1. Epistimologi.

adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan,sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan,batas-batas, sifat, metode. Adapun filsafat ilmu mempelajari tentangciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara bagaimana mendapatkanya. Dengan belajar dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan dan ilmu serta mengetahui dan menggunakan metode yang tepat dalam memperoleh suati ilmu serta mengetahui kebenaran suatu ilmu itu ditinjau dari isinya.

  • Etika (Filsafata Moral).

adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubunganya dengan baik-buruk. Dengan belajar etika diharapkan dapat membedaksn istilah yang sering muncul seperti etika, norma, dan moral. Di samping itu, dapat mengatuhui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut teori-teori tertentu, dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah-kaidah etika. Jadi objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

  • Estetika (Filsafata seni).

Adalah cabang filsafat yag membicarakan tentang keindahan. Objek dari estetika adalah pengalaman akan keindahan. Dengan belajar estetika diharapkan dapat membedakan antara estetika filsafati dan estetika ilmiah,berbagi teori-teori keindahan,pengertian seni,penggolongan seni,aliran dalam seni dan teori penciptaan dalam seni.

  • Metafisika.

Adalah cabang filsafat yang menbicarakan tentang yang ada. Metafisika membicarakan sesuatu disebalik yang tampak.dengan belajar netafisika orang justru akan mengenal akan tuhannya,dan mengetahui sebagai macam aliran yang ada dalam metafisika.persoalan-persoalan metafisis dibedakan menjadi tiga, yaitu persoalan ontologi, persoalan kosmologi, dan persoalan antropologi.

  • Politik (Filsafat Pemerintahan).

Adalah Cabang ilmu dari filsafat yang mempelajari tema-tema seperti politik, kebebasan, keadilan, hak milik, hak, hukum, pemerintahan, dan penegakan hukum oleh otoritas. Beberapa pertanyaan utama dalam ilmu filsafat politik antara lain adalah; apa yang melegitimasi otoritas suatu pemerintahan, hak-hak dan kebebasan apa saja yang dimiliki warga negara dan harus dilindungi oleh pemerintah, dan apa saja tugas warga negara dalam pemerintahan.

  • Filsafat Agama.

Adalah “penyelidikan filosofis terhadap tema-tema dan konsep-konsep utama dalam tradisi keagamaan.” Diskusi filsafat semacam ini sudah berlangsung dari zaman kuno dan dapat ditemui dalam manuskrip-manuskrip tertua yang berkaitan dengan filsafat. Filsafat agama berkaitan dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti metafisika, epistemologi, dan etika.[15]

Filsafat agama tidak sama dengan filsafat religius karena filsafat agama mencoba membahas hakikat dari agama dan bukan mencoba membahas permasalahan yang dihasilkan dari sistem kepercayaan tertentu.

  • Filsafat Ilmu.

Adalah Bagian darai Epistimologi (Filsafata penetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah).Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering di bagi menjadi filsafat ilmu lama dan filsafat ilmu social.

  • Filsafat Pendidikan.

Merupakan ilmu filsafat yang mempelajari hakikat pelaksanaan dan pendidikan. Bahan yang dipelajari meliputi tujuan, latar belakang, cara, hasil, dan hakikat pendidikan. Metode yang dilakukan adalah dengan menganalisis secara kritis struktur dan manfaat pendidikan. Filsafat pendidikan berupaya untuk memikirkan permasalahan pendidikan. Salah satu yang dikritisi secara konkret adalah relasi antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran.  Salah satu yang sering dibicakan dewasa ini adalah pendidikan yang menyentuh aspek pengalaman. Filsafat pendidikan berusaha menjawab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, sumber daya manusia, teori kurikulum dan pembelajaran serta aspek-aspek pendidikan yang lain.

  • Filsafat Hukum.

Adalah cabang filsafat yang membicarakan apa hakikat hukum itu, apa tujuannya, mengapa dia ada dan mengapa orang harus tunduk kepada hukum. Disamping menjawab pertanyaan masalah-masalah umum abstrak tersebut, filsafat hukum juga membahas soal-soal kongkret mengenai hubungan antara hukum dan moral (etika) dan masalah keabsahan berbagai macam lembaga hukum.

  1. Filsafat Sejarah.

Istilah filsafat sejarah merujuk pada aspek teoretis sejarah dalam dua pengertian. Sudah menjadi kebiasaan untuk membedakan Filsafat Kritis Kejarah dengan Filsafat Spekulatif Sejarah. Filsafat kritis sejarah adalah aspek “teori” dari disiplin ilmu sejarah akademis, dan berkaitan dengan permasalahan seperti asal-usul bukti sejarah, sejauh mana objektivitas dapat dilakukan, dan sebagainya. Filsafat spekulatif sejarah adalah bidang filsafat tentang signifikansi hasil, jika ada, dari sejarah manusia.[16]

  1. Filsafata Matematika.

Adalah cabang dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan filsafat, dasar-dasar dan dampak-dampak matematika. Tujuan dari filsafat matematika adalah: “untuk memberikan rekaman sifat dan metodologi matematika dan untuk memahami kedudukan matematika di dalam kehidupan manusia”. Sifat logis dan terstruktur dari matematika itu sendiri membuat pengkajian ini meluas dan unik di antara mitra-mitra bahasan filsafat lainnya.

                                                       BAB III

    PENUTUP

  1. Kesimpulan.

Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti ―yang berada‖, dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan, term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf.

Menurut etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu yang sistematis, teori). Secara terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.

Aksiologi membahas tentang masalah nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata axio dan logos, axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori, axiologi artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari nilai.

  • Saran.

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, kita dianjurkan untuk mempelajari filsafat dengan berbagai macam cabang ilmunya. Karena, dengan cara kerjanya yang bersifat sistematis, universal (menyeluruh) dan radikal, yang mengupas, menganalisa sesuatu secara mendalam, ternyata sangat relevan dengan problematika hidup dan kehidupan manusia serta mampu menjadi perekat antara berbagai macam disiplin ilmu yang terpisah kaitannya satu sama lain. Dengan demikian, menggunakan analisa filsafat, berbagai macam disiplin ilmu yang berkembang sekarang ini, akan menemukan kembali relevansinya dengan hidup dan kehidupan masyarakat dan akan lebih mampu lagi meningkatkan fungsinya bagi kesejahteraan hidup manusia

                           DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad,Filsafat Ilmu, Mengurai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung, Rosdakarya, 2017) .

Sumirat, Jujun, S., Filsaat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta, IKAPI, 2017.

Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005).

Wikipedia, 2017, https://id.wikipedia.org/wiki/Ontologi

N. Drijarkara. 1966. Pertjikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan Djakarta.

Smith, George H (1979). Atheism: The Case Against God.

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005

Stanford Encyclopedia of Philosophy, “Philosophy of Religion.”

E.g. W. H. Walsh, Introduction to the Philosophy of History (1951)


[1] Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu, Mengurai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung, Rosdakarya, 2017) hlm. 4.

[2] Jujun, S. Sumirat, Filsaat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta, IKAPI, 2017) hlm.19

[3] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h.118-119

[4] Wikipedia, 2017, https://id.wikipedia.org/wiki/Ontologi

[5] Epistemologi berdasarkan akar katanya episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu yang sistematis, teori).

Secara terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.

[6] Aksiologi membahas tentang masalah nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata axio dan logos, axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori, axiologi artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari nilai.

Aksiologi sebagai cabang filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan

[7] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, menguatai ontology, epistimologi, dan aksiolohi pengetahuan, Bandung, Rosda karya, 2017, hlm, 80-81

[8] Secara Filososfis arti dari Monoisme adalah Asal dari kata dan pengertian Monad secara historis berakar pada pengajaran filosofis Hellenik dari Pythagoras. Monad berasal dari kata Yunani “μόνος” atau “Mono” yang berarti tunggal dan tidak terbagi.

Konsep monisme seringkali dihubungkan dengan panteisme dan konsep Tuhan yang kekal.

[9] Versi ini di terapkan secaraoleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa budi adalah substansi non-fisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas budi dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang.

[10] N. Drijarkara. 1966. Pertjikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan Djakarta. Hal. 57-59

[11] Istilah ini digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18, ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme Epikuros. Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang memandang yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari abad 17 sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian filsafat.

[12] Lorens Bagus., Kamus Filsafat Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005

[13] Smith, George H (1979). Atheism: The Case Against God. hlm. 10–11. Dengan pertimbangan sepatutnya, agnosticism bukan alternatif ketiga dari teisme dan ateisme, karena lebih berkaitan dengan aspek yang berbeda dari kepercayaan agamawi. Teisme dan ateism merujuk kepada keberadaan atau ketidak adaan kepercayaan akan suatu dewa; agnosticism merujuk kepada ketidakmungkinan pengetahuan tentang suatu dewa atau pribadi supranatural. Istilah agnostic sendiri tidak mengindikasikan apakah seseorang percaya kepada suatu dewa atau tidak. Agnosticism dapat bersifat teistik atau ateistik.

[14] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta, Putaka Sinar Harapan, 2017), hlm. 32-33

[15] Stanford Encyclopedia of Philosophy, “Philosophy of Religion.”

[16] E.g. W. H. Walsh, Introduction to the Philosophy of History (1951) ch.1 s.2.

Diterbitkan oleh aleemaxum

Seorang Profesional yang bekerja di Paramount School Palembang sebagai Humas, Marketing dan RnD. Saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Universitas PGRI Palembang mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai